| dc.description.abstract | Latar Belakang: Penggunaan obat antiartritis reumatoid memiliki variasi dalam
respon terapi dan potensi terjadinya ROTD. Pemantauan efektivitas dan ROTD
penting untuk mengoptimalkan pengobatan pasien.
Tujuan: Penelitian ini menganalisis efektivitas dan Reaksi Obat Tidak Dikehendaki
(ROTD) serta faktor-faktor yang memengaruhinya pada penggunaan obat
antiartritis reumatoid.
Metode: Rancangan observasional potong-lintang retrospektif pada pasien artritis
reumatoid di RS Akademik UGM pada periode 2020-2024.
Analisis Data: Uji bivariat dengan Chi-square digunakan untuk menganalisis
hubungan antarvariabel dan uji regresi logistik untuk mengetahui variabel yang
paling berpengaruh.
Hasil: Total pasien yang dianalisis berjumlah 42 orang, dengan 18 (43%) pasien
yang menunjukkan efektivitas terapi. Regimen metilprednisolon tunggal paling
banyak diresepkan, sedangkan kombinasi metotreksat-metilprednisolon tercatat
sebagai yang paling efektif. Faktor usia diketahui berpengaruh terhadap efektivitas
terapi (OR 5,714, 95%IK = 1,06-30,63). ROTD ditemukan pada 10 pasien yang
didominasi oleh keluhan konstipasi dan nyeri ulu hati. Selain itu, keterlibatan
bagian sendi berpengaruh terhadap kejadian ROTD (OR 68,86, 95%IK= 1,05-
4499,79).
Kesimpulan: Mayoritas pasien menunjukkan efektivitas terapi dengan penggunaan
kombinasi metotreksat-metilprednisolon dan kejadian ROTD yang sering muncul
berupa gangguan gastrointestinal akibat penggunaan obat metotreksat. Selain itu
penggunaan obat hidroksiklorokuin diduga menyebabkan gangguan pernapasan. | en_US |