| dc.description.abstract | Latar belakang: Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian di
Indonesia, dengan kadar kolesterol tinggi sebagai faktor risiko utama. Daun kelor
(Moringa oleifera) dan daun Afrika (Vernonia amygdalina) dikenal memiliki
potensi sebagai agen antihiperlipidemia. Untuk memastikan mutu dan konsistensi
produk herbal, diperlukan validasi proses ekstraksi kombinasi kedua tanaman pada
skala pilot dengan pendekatan Quality by Design (QbD) sesuai prinsip Good
Manufacturing Practices (GMPs).
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi proses produksi ekstrak
kombinasi daun kelor (Moringa oleifera) dan daun Afrika (Vernonia amygdalina)
pada skala pilot.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut
etanol 70% pada skala laboratorium dan skala pilot. Hasil maserasi disaring,
diuapkan hingga mencapai Total Solid (TS) 40%. Lalu diuji fisik meliputi
organoleptis, kadar air, dan rendemen ekstrak. Kemudian uji kandungan kadar
flavonoid total menggunakan microplate reader dengan standar kuersetin. Data
dianalisis secara deskriptif untuk membandingkan hasil skala laboratorium dan
skala pilot.
Hasil: Penelitian ini mengevaluasi pengaruh rasio bahan;pelarut dan suhu ekstraksi
terhadap karakteristik ekstrak kombinasi daun kelor dan daun Afrika. Variasi rasio
(1:5, 1:7,5, 1:10) dan suhu (50°C, 60°C, 70°C) mempengaruhi rendemen, kadar air,
total solid, dan kadar total flavonoid. Pada skala laboratorium rasio 1:10 pada suhu
70°C menghasilkan flavonoid (3,40%). Skala pilot lebih efisien dengan kadar
flavonoid total 6,07%.
Kesimpulan: Proses produksi ekstrak daun kelor dan daun afrika pada skala pilot
telah divalidasi menggunakan pendekatan QbD melalui pengendalian CPP dan
CQA. Maserasi dengan rasio 1:10 dan penguapan pada suhu 70°C menghasilkan
ekstrak dengan kadar flavonoid 6,07%, kadar air 44,59%, dan rendemen 17,54%,
menunjukkan proses berjalan efektif dan konsisten. | en_US |