Efektivitas dan Reaksi Obat yang tidak dikehendaki pada Penggunaan Obat Antiartritis Reumatoid di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta
Abstract
Latar belakang: AR merupakan penyakit inflamasi sendi yang dapat
menyebabkan keterbatasan pergerakan dan risiko kecacatan jika tidak ditangani
secara optimal. Oleh karena itu, pengobatan yang tepat penting untuk menjaga
kualitas hidup pasien.
Tujuan: Penelitian ini menganalisis efektivitas dan kejadian ROTD penggunaan
obat anti-AR, serta faktor yang memengaruhinya.
Metode: Penelitian observasional dengan desain cross sectional bersifat
retrospektif pada pasien AR di RSUP Dr. Sardjito periode 2020-2024.
Analisis Data: Analisis deskriptif untuk mengetahui masing-masing proporsi
variabel bebas, dilanjutkan Analisis Chi-square atau Fisher dan regresi logistik
untuk menilai hubungan signifikasi antar variabel. Penilaian variabel terikat
berdasarkan perbaikan gejala, tanda klinis atau keduanya sesuai yang tertera dalam
rekam medis.
Hasil: Penelitian ini melibatkan 180 pasien AR, dengan 82% diantaranya
menunjukkan respon klinis yang sesuai. Kombinasi metotreksat, metilprednisolon
dan NSAID merupakan regimen terapi yang paling sering digunakan serta
menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi (83%). Usia menjadi faktor yang
memengaruhi efektivitas terapi secara signifikan (OR 2,518;IK95% 1,043-6,079).
Namun, sebanyak 22% pasien mengalami ROTD pengobatan, dengan metotreksat
sebagai obat yang paling sering dikaitkan dengan kejadian tersebut. Faktor
demografi dan klinis pasien tidak ada yang memengaruhi terjadinya ROTD
pengobatan AR.
Kesimpulan: Pada sebagian kecil pasien yang telah mengalami intoleransi
cDMARD disertai kondisi hemoglobin rendah, terapi tosilizumab menunjukkan
efektivitas yang baik.
Collections
- Pharmacy [1885]
