| dc.description.abstract | Gagalnya operasi militer Barkhane dalam memerangi terorisme telah menjadi salah satu faktor
dari munculnya sentimen anti-Prancis di Mali. Hal ini ditandai dengan banyaknya peristiwa
pelanggaran HAM terhadap warga sipil serta gelombang kudeta yang kemudian menciptakan
pemerintahan yang otoriter. Saat berkuasa, junta Mali benar-benar menentang intervensi
Prancis yang puncaknya berada pada pengusiran duta besar Prancis pada Januari 2022. Atas
peristiwa tersebut, Prancis memutuskan untuk menarik pasukannya sebagai bentuk tindakan
rasionalnya dalam menghindari ketegangan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis keterkaitan keputusan yang terjadi antara Prancis dan Mali melalui game theory
oleh James D. Morrow. Dalam penelitian ini, diasumsikan jika Prancis dan Mali sama-sama
mempunyai 2 pilihan, yaitu swerve atau straight dengan beberapa kemungkinan yang
menyertainya. Hasil daripada penelitian ini menunjukkan bahwa Prancis memilih untuk
menyerah setelah mendapat tekanan dari Mali yang mengacu pada prinsip conflict of
inevitability yang ada pada chicken game. Keputusan yang diambil oleh Prancis dan Mali
menghasilkan asymmetric nash equilibrium, yaitu dengan Mali yang memilih straight dan
Prancis yang memilih swerve. | en_US |