| dc.description.abstract | Latar Belakang: WHO (2018) mengungkapkan jumlah perokok dunia saat ini
mencapai 1,1 milyar orang. Diantaranya 17 juta remaja laki-laki dan 7 juta remaja
perempuan. Tingginya perilaku tersebut di Indonesia, dapat dipengaruhi oleh
fungsi keluarga. Menurut penelitian Septiana (2016), perilaku merokok remaja
muncul akibat keluarga yang tidak utuh, konflik yang terjadi di keluarga, juga
dukungan keluarga yang kurang, sehingga membuat remaja merokok.
Pelaksanaan fungsi keluarga yang optimal dapat menekan dari tingginya perilaku
merokok pada keluarga.
Tujuan: Mengetahui pengaruh fungsi keluarga terhadap perilaku merokok pada
mahasiswa di Universitas X Yogyakarta.
Metode: Menggunakan desain cross sectional dan secara prospektif melalui data
primer, yaitu kuesioner tentang perilaku merokok dan APGAR keluarga yang
dibagikan ke mahasiswa Universitas X di Yogyakarta. Analisis statistik
menggunakan uji chi square.
Hasil: Dari 280 responden, frekuensi tertinggi untuk kategori usia pada usia 19-
26 tahun sebanyak 219 responden, kategori jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak
157 responden dan 79 responden merupakan perokok aktif. Mayoritas memulai
merokok pada usia 17 tahun ke atas (44 responden) sebagian mulai merokok
pada usia 8-16 tahun (35 responden). Mayoritas beralasan menghilangkan stress
(32 responeden). Konsumsi rokok terbanyak adalah perokok ringan yaitu 1-10
batang perhari (65 responden). Mayoritas memiliki teman dekat merokok (146
responden). Sebanyak 225 responden mengetahui dampak buruk merokok.
Sebanyak 179 responden memiliki fungsi keluarga baik atau fungsional, dan 41
mahasiswa merokok dan 138 mahasiswa tidak merokok memiliki fungsi keluarga
yang baik atau fungsional. Hasil uji statistik fungsi APGAR keluarga dengan
perilaku merokok didapatkan nilai p = 0,002 (p<0,005).
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi keluarga dengan
perilaku merokok pada mahasiswa Universitas X di Yogyakarta. | en_US |