| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengaruh faktor internal organisasi
terhadap tata kelola kolaboratif dan dampaknya pada motivasi pelayanan publik,
dengan menyoroti peran teknologi. Menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis
teori institusional, data dikumpulkan dari 367 Aparatur Sipil Negara (ASN) di
Metropolitan Rebana, Jawa Barat melalui kuesioner. Variabel yang dianalisis
meliputi gaya kepemimpinan transformasional, desain institusional organik,
dukungan keuangan, kualitas relasional, dan penggunaan teknologi. Analisis data
menggunakan metode eksploratori dan pemodelan persamaan struktural (PLS-
SEM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dan desain
institusional organik berpengaruh signifikan terhadap motivasi pelayanan publik
melalui tata kelola kolaboratif. Gaya kepemimpinan transformasional, dukungan
keuangan, dan kualitas relasional memengaruhi tata kelola kolaboratif, tetapi tidak
secara langsung terhadap motivasi pelayanan publik. Desain institusional organik
ditemukan memiliki pengaruh terbesar terhadap tata kelola kolaboratif, sementara
dukungan keuangan memiliki kontribusi terkecil karena kurangnya hubungan
langsung dengan elemen utama kolaborasi.Penelitian ini menyoroti pentingnya
desain institusional yang fleksibel dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.
Implikasi praktis mencakup peningkatan keterampilan kepemimpinan,
pemanfaatan teknologi, dan penguatan desain institusional untuk mendukung
partisipasi aktif. Langkah-langkah seperti pelatihan komunikasi, manajemen
konflik, dan evaluasi anggaran diusulkan guna memperkuat kolaborasi dan
efisiensi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi literatur mengenai tata
kelola kolaboratif dan motivasi pelayanan publik, serta menawarkan rekomendasi
kebijakan yang relevan bagi sektor publik. | en_US |