Hubungan Antara Tinggi Badan dengan Kecepatan Sprint Pada Siswa Sekolah Sepak Bola di Browidjoyo Yogyakarta
Abstract
Latar Belakang: Sepak bola adalah olahraga yang mengandalkan kombinasi
keterampilan teknis, taktik, dan kemampuan fisik. Salah satu kemampuan fisik
yang penting adalah kecepatan sprint, yang memungkinkan pemain untuk
mengejar bola, melewati lawan, atau menghentikan serangan. Tinggi badan
diyakini memiliki pengaruh terhadap kecepatan sprint, di mana pemain dengan
tinggi badan lebih besar diasumsikan memiliki panjang langkah yang lebih besar
dan daya dorong otot yang lebih kuat. Namun, penelitian mengenai hubungan
tinggi badan dengan kecepatan sprint di kalangan pemain sepak bola usia dini di
Indonesia masih terbatas, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengisi
kekosongan tersebut.
Tujuan Penelitian: mengetahui hubungan antara tinggi badan dengan kecepatan
sprint pada siswa sekolah sepak bola di Browidjoyo Yogyakarta.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik
dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah siswa SSB
Browidjoyo yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berusia 9–12 tahun, terdaftar
sebagai anggota SSB, dan dalam kondisi sehat. Pengukuran tinggi badan
dilakukan menggunakan stadiometer, sedangkan kecepatan sprint diukur melalui
tes lari 30-meter menggunakan stopwatch. Data dianalisis menggunakan uji
korelasi Pearson untuk melihat hubungan antara tinggi badan dan kecepatan
sprint.
Hasil: Distribusi tinggi badan rata-rata subjek adalah 142,178 ± 1,37 cm, dengan
nilai minimum 120,6 cm dan maksimum 160,4 cm. Kecepatan sprint rata-rata
adalah 5,74 ± 0,87 detik, dengan nilai minimum 4,60 detik dan maksimum 7,71
detik. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai p = 0,190, yang berarti tidak
terdapat hubungan antara tinggi badan dan kecepatan sprint.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tinggi badan dengan kecepatan
sprint pada siswa SSB di Browidjoyo Yogyakarta. Variabel biomekanik seperti
teknik lari, kekuatan otot, dan koordinasi gerakan diduga lebih berpengaruh dalam
menentukan performa sprint. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi
pengaruh faktor-faktor tersebut dengan populasi yang lebih luas.
Collections
- Medical Education [2860]
