| dc.description.abstract | Kanker adalah penyakit mematikan yang tersebar luas di dunia. Di Indonesia,
kanker payudara merupakan kasus paling umum pada perempuan. Efek samping
kemoterapi sering mendorong masyarakat beralih ke pengobatan herbal, seperti rumput
gong (Eriocaulon cinereum R.Br) yang digunakan di Bangka Belitung. Fraksi rumput
gong memiliki potensi antikanker terhadap sel kanker payudara, tetapi efektivitasnya
terbatas oleh kelarutan air yang rendah. Nanoteknologi menawarkan solusi dengan
meningkatkan kelarutan, stabilitas, dan bioavailabilitas senyawa aktif. Penelitian ini
bertujuan mengkarakterisasi formulasi nanopartikel fraksi rumput gong serta
mengevaluasi efek sitotoksik, penghambatan migrasi, dan induksi apoptosis pada sel
kanker payudara.
Penelitian dimulai dengan ekstraksi 25 g rumput gong menggunakan 500 ml
etanol 96% melalui sonikasi pada 40°C selama 30 menit, diikuti fraksinasi dengan etil
asetat menggunakan kromatografi cair vakum (VLC). Fraksi etil asetat diidentifikasi
dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dan Liquid Chromatography-High Resolution
Mass Spectrometry (LC-HRMS). Nanopartikel diformulasikan menggunakan kitosan
0,1% dan Sodium Tripolyphosphate (Na-TPP) 0,15% melalui gelasi ionik. Evaluasi
meliputi ukuran partikel, Indeks Polidispersitas (PDI), dan potensi zeta. Uji aktivitas
antikanker mencakup sitotoksik MTT, migrasi sel, dan induksi apoptosis.
Identifikasi KLT menunjukkan bahwa fraksi etil asetat rumput gong
mengandung flavonoid, terpenoid, dan alkaloid. Analisis HRMS mengungkapkan
bahwa fraksi ini kaya akan flavonoid, dengan hispidulin, genistein, dan oleanolic acid
sebagai kandidat utama senyawa antikanker. Formulasi nanopartikel menunjukkan
distribusi partikel dan stabilitas yang baik (PDI < 0,7; potensi zeta mendekati ±30 mV).
Formula terbaik (NFG3) memiliki ukuran partikel 173,43 ± 1,40 nm dan mampu
meningkatkan toksisitas fraksi, dengan IC50 25,1 ± 0,66 μg/ml, dibandingkan dengan
fraksi murni yang memiliki IC50 204,73 ± 3,19 μg/ml. Kontrol formula menunjukkan
aktivitas lemah dengan IC50 > 200 μg/ml. NFG3 secara signifikan menghambat migrasi
sel pada dosis IC50 dan menginduksi apoptosis sebesar 29,27 ± 1,82%. | en_US |