Implementasi Teori Psikososial Erik H. Erikson Pada Pembelajaran PAI untuk membentuk Kepercayaan Diri Siswa di SMA Negeri 2 Banguntapan D.I. Yogyakarta
Abstract
Masa remaja merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas diri.
Teori Psikososial Erik Erikson, khususnya tahap identity vs identity confusion,
sangat relevan untuk memahami perkembangan remaja. Penelitian ini berfokus
pada implementasi teori Erikson dalam pembelajaran PAI di SMA Negeri 2
Banguntapan yang telah menerapkan konsep sekolah ramah anak. Tujuan
penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bentuk implementasi teori psikososial
Erik H. Erikson pada pembelajaran PAI dalam membentuk kepercayaan diri
siswa serta menggali faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini
menggunkaan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Jenis
penelitian ini merupakan field research (penelitian lapangan). Teknik penentuan
informan menggunakan purposive sampling. Adapun teknik pengumpulan data
menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Keabsahan data diuji
dengan menggunakan triangulasi, sedangkan analisis data mengikuti model
analisis data induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi teori
Erik Erikson tertuang dalam pembelajaran yang ramah anak baik pada proses
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Guru PAI memberikan
penguatan dan bimbingan kepada siswa untuk menemukan identitas dirinya dan
mengatasi kebimbangan yang dialami remaja. Dengan mengintegrasikan teori
Erikson ke dalam pembelajaran PAI, dapat memberikan pemahaman tentang
kebutuhan psikologis remaja dan dapat dijadikan sebagai landasan dalam
merancang pembelajaran yang efektif, terutama melalui penguatan akidah atau
keimanan kepada Tuhan. Penerapan teori Erikson di sekolah ini menghadapi
beberapa kendala, seperti beban kerja guru yang tinggi akibat kurikulum yang
padat, waktu belajar yang terbatas, dan jumlah siswa dalam kelas yang banyak.
Akibatnya, guru kesulitan memberikan perhatian individu kepada setiap siswa.
Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti menyarankan beberapa solusi, yaitu
membuat kurikulum yang lebih fleksibel, memberikan pelatihan bagi guru, serta
meningkatkan kerja sama antara sekolah dan orang tua.
