Analisis Daya Dukung Pondasi Bored Pile Berdasarkan Data SPT Pada Proyek Pembangunan RSUD Kota Yogyakarta (Studi Kasus: Proyek Gedung Instalasi Bedah Sentral)
Abstract
Pondasi bor yang direncanakan dalam pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral RSUD
Kota Yogyakarta, direncanakan menggunakan tiang berukuran 30 cm dengan kedalaman 8 m di
bawah muka tanah. Dalam perencanaan suatu bangunan gedung tidak lepas dari kriteria aman dan
ekonomis. Setiap pondasi yang baik harus mampu mendukung beban sampai batas keamanan yang
telah direncanakan, dan mampu menahan beban maksimum yang mungkin terjadi. Analisis kapasitas
dukung pondasi dilakukan dengan memperhatikan data penyelidikan tanah, beban yang dipikul oleh
pondasi, dimensi tiang, jarak antar tiang, data pendukung seperti mutu beton, dan kedalaman
pondasi.
Metode yang digunakan dalam analisis ini, yaitu Metode Reese & Wright, Metode Meyerhof,
Metode elemen hingga (Plaxis 2D), dan analisis pembebanan menggunakan program SAP2000.
Pondasi tiang bor direncanakan dengan tiga pilihan diameter, yaitu 20 cm, 30 cm, dan 40 cm. Tujuan
penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh mana variasi dimensi mempengaruhi kapasitas dukung
pondasi tiang bor dan penurunan yang terjadi pada pondasi dengan menggunakan metode statis dan
metode elemen hingga.
Hasil analisis kapasitas dukung kelompok tiang metode Reese & Wright diameter 20 cm, 30
cm, dan 40 cm, diperoleh masing-masing sebesar 2864,920 kN, 2849,006 kN, dan 3464,489 kN.
Metode Meyerhof diameter 20 cm, 30 cm, dan 40 cm, diperoleh masing-masing sebesar 2756,622
kN, 3043,224 kN, dan 3023,342. Dari analisis penurunan pondasi kelompok tiang bor dengan
diameter 20 cm, 30 cm, dan 40 cm pada metode teoritis dari masing-masing diperoleh sebesar 0,015
m, 0,012m dan 0,013 m menggunakan metode Reese & Wright dan 0,028 m, 0,027 m, dan 0,025 m
menggunakan metode Meyerhof. Sedangkan pada program Plaxis 2D diperoleh penurunan pada
diameter 20 cm, 30 cm, dan 40 cm sebesar 0,021 m, 0,017 m, dan 0,014 m pada metode Reese &
Wright dan 0,022 m, 0,018 m, dan 0,017 m pada metode Meyerhof. Dari hasil akhir ini didapatkan
bahwa dengan metode elemen hingga memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan metode
teoritis dan PDA namun masih memenuhi persyaratan yang diizinkan.
Collections
- Civil Engineering [4722]
