| dc.description.abstract | Latar Belakang: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah arteri yang dapat
menyebabkan kematian tanpa gejala signifikan, dikenal sebagai "silent killer".
Menurut WHO, sekitar 26,4% populasi dunia mengalami hipertensi, dengan
prevalensi tertinggi di Asia Tenggara sebesar 25%. Di Indonesia, prevalensi
hipertensi meningkat dari 25,8% pada 2013 menjadi 34,1% pada 2018, dengan
Kabupaten Bantul sebagai kabupaten dengan angka kejadian tertinggi.
Penanganan hipertensi melibatkan modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologi,
dengan ACE-inhibitor dan Calcium Channel Blocker (CCB) yang banyak
digunakan.
Metode Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengobatan
hipertensi di Puskesmas Bantul I periode 2023. Metode yang digunakan adalah
penelitian kuantitatif deskriptif observasional dengan pengumpulan data sekunder
dari rekam medis pasien hipertensi. Sampel terdiri dari 277 pasien yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi.
Hasil Penelitian: Hasil menunjukkan mayoritas pasien berusia 45-64 tahun
(57,0%) dan perempuan (67,5%). Klasifikasi hipertensi terbanyak adalah stadium
II (41,9%), dengan 75,8% pasien tidak terkontrol. Amlodipin, dari golongan CCB,
adalah obat yang paling sering diresepkan (85,5%), dengan 85,9% pasien
menerima terapi tunggal. Namun, hanya 54,2% pengobatan yang sesuai dengan
algoritma terapi hipertensi Kementerian Kesehatan.
Kesimpulan: Pola pengobatan hipertensi di Puskesmas Bantul I didominasi oleh
amlodipin sebagai terapi tunggal dan masih terdapat banyak pasien yang tidak
terkontrol dan pengobatan yang belum sesuai pedoman. Evaluasi dan
peningkatan kesesuaian terapi diperlukan untuk pengendalian tekanan darah yang
lebih baik. | en_US |