Perancangan Micro Amphibious House dengan Pendekatan Arsitektur Apung di Semarang
Abstract
Saat ini pemenuhan kebutuhan rumah masih mengacu pada angka backlog. Kota Semarang
sendiri memiliki angka backlog kepemilikan mencapai 163.643 unit serta backlog penghunian
mencapai 94.962 unit. Kawasan permukiman kumuh pesisir kecamatan Semarang Utara
seluruhnya (100%) masuk kriteria buruk, karena jarak antar blok permukiman di adalah <1,5m.
Pada kawasan Kampung Tambakrejo masih terdapat 96 KK yang memilih untuk menetap di
bendeng-bendeng yang terletak di bawah jembatan. Warga berdalih rusunawa yang disediakan
pemerintah tidak representatif dan lebih menyukai tinggal di hunian berupa perkampungan.
Masalah yang muncul di kehidupan masyarakat Tambak Rejo diantaranya banjir rob dan
kondisi area kampung yang sangat panas pasca pembangunan kampung nelayan. Pendekatan
arsitektur apung amfibi menjadi pertimbangan dalam mengatasi masalah banjir rob yang kerap
melanda kawasan Kampung Tambakrejo.
Collections
- Architecture [4119]
