Perancangan Kawasan Konservasi Beruang Madu di Balikpapan, dengan Pendekatan Arsitektur Kamuflase
Abstract
Maraknya deforestasi hutan di Kalimantan saat ini telah memengaruhi keseimbangan ekosistem hutan. Beru-
ang madu menjadi salah satu satwa yang keberadaannya terancam punah akibat aktivitas tersebut. Beruang madu ma-
suk ke dalam list hewan terancam punah oleh IUCN dan pada tahun 2002 ditetapkan sebagai maskot Kota Balikpa-
pan. Oleh karena itu, pemerintah Kota Balikpapan berupaya untuk melestarikan populasi Beruang Madu dengan
membangun KWPLH di km. 23 yang pada tahun 2015 berencana direlokasi ke Arboretum Wana Wisata km. 10, Balikpapan.
Beruang madu merupakan hewan yang hidup secara soliter dan cenderung menghindari manusia, sedangkan KWPLH mer-
upakan kawasan wisata edukatif berbasis lingkungan yang cenderung menarik banyak manusia untuk berkunjung. Hal terse-
but, merupakan permasalahan umum yang harus direspon dengan desain. Arboretum Wana Wisata merupakan bentan-
gan hutan tengah kota seluas 15, 7 hektar. Kawasan tersebut merupakan zona RTH kota dengan KDB 20 % dan KLB 80 %.
Dengan kata lain, seluruh populasi pohon yang terdapat dalam site tersebut berpotensi sebagai habitat baru para be-
ruang. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan permasalahan tersebut menggunakan pendekatan Arsitektur Kamuflase.
Metode yang digunakan dalam menguji desain pada perancangan ini, yaitu dengan memenuhi indikator-indikator pada dua varia-
bel desain terkait fungsi kawasan sebagai kawasan konservasi dan wisata edukatif. Variabel desain terkait konservasi mengacu pada Action plan IUCN dan Kriteria desain oleh Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.31/Menhut-II/2012 tentang lembaga konserva-
si. Sedangkan, variabel desain terkait fungsi kawasan sebagai wisata edukatif mengacu pada teori mengenai Arsitektur Kamuflase.
Rancangan ini merupakan pemenuhan indikator dari kedua variabel desain yang telah disebutkan. Indikator desain pada variabel
desain pertama, antara lain adanya kandang ex-situ, kandang habituasi, tempat pengadaptasian, tempat khusus penerimaan be-
ruang, akses khusus beruang, tempat penyimpanan pangan dan alat, dan tempat pemeriksaan. Sedangkan, implementasi Arsitek-
tur Kamuflase pada perancangan terdapat pada lima aspek desain, antara lain zoning, bentuk, selubung, material, dan struktur.
Collections
- Architecture [3988]
