Hubungan Tingkat Stres dengan Sindrom Dispepsia pada Tenaga Kesehatan RSUD Saptosari
Abstract
Latar Belakang: Stres merupakan respon fisiologis tubuh terhadap perubahan
dalam bentuk fisik maupun emosional. Respon individu terhadap stres dapat
berbeda-beda bergantung dengan persepsi, pemikiran, dan pengalaman individu.
Stres yang terjadi dapat menyebabkan adanya keluhan pada tubuh salah satunya
pada sistem gastrointestinal yang sering disebut dispepsia. Kondisi psikologis
individu menjadi faktor penting terjadinya sindrom dispepsia. Menurut Kemenkes
2018, terdapat 20% populasi Indonesia yang mengalami potensi masalah
gangguan jiwa diantaranya paling sering terjadi pada tenaga kesehatan.
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan tingkat stres dengan sindrom dispepsia
pada tenaga kesehatan RSUD Saptosari.
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan nodel
analitik observasional. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan cross-
sectional dengan metode pengambilan sampel menggunakan consecutive
sampling dan didapatkan sebanyak 59 sampel. Variabel bebas pada penelitian ini
adalan tingkat stres dan variabel terikatnya sindrom dispepsia. Data pada
penelitian ini dianalisis menggunakan analisis univariat untuk melihat karakteristik
responden dengan menggunakan tabel distribusi. Analisis bivariat pada penelitian
ini menggunakan uji chi-square.
Hasil Penelitian: Berdasarkan 59 sampel yang diolah, didapatkan hasil analisis
univariat sebanyak 32 (54%) tenaga kesehatan mengalami sindrom dispepsia dan
27 (46%) tenaga kesehatan tidak mengalami sindrom dispepsia. Berdasarkan
tingkat stresnya, terdapat 8 tenaga kesehatan dengan tingkat stres rendah, 45
dengan tingkat stres sedang, dan 6 dengan tingkat stres berat. Hasil analisis
bivariat didaparkan nilai p-value 0,019.
Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat stres dengan sindrom dispepsia
pada tenaga kesehatan RSUD Saptosari.
Collections
- Medical Education [2954]
