Hubungan Pengalaman Praktek Profesi Apoteker Terhadap Persepsi Kesehatan Mental di Kabupaten Sleman
Abstract
Latar Belakang: Jumlah penderita gangguan mental di Indonesia meningkat dari
2,3 permil tahun 2013 menjadi 10 permil pada tahun 2018 merupakan
peningkatan yang sangat tinggi. Sebagai tenaga kesehatan professional pelayanan
kefarmasian, peran apoteker sangat penting dalam memberikan pelayanan seperti
peracikan obat, penyuluhan, konsultasi, pemantauan dan visitasi. Pengalaman
yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam
menginterpretasikan stimulus yang kita peroleh. Hasil penelitan mengungkapkan
bahwa 57 persen Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat mempunyai stigma
negative tentang masalah kesehatan mental. Berkaitan hal tersebut perlu dilakukan
penelitian hubungan pengalaman praktek profesi apoteker terhadap persepsi
tentang kesehatan mental.
Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengalaman praktek
profesi dengan persepsi apoteker terhadap kesehatan mental.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-
sectional study. Pengambilan dengan purposive sampling dan melibatkan 79
responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner online dalam bentuk
google form. Data dianalisis menggunakan uji statistik pearson correlation.
Hasil : Berdasarkan hasil uji korelasi dengan uji pearson correlation didapatkan
hasil untuk hubungan pengalaman praktek profesi terhadap persepsi kesehatan
mental pada apoteker mendapatkan nilai koefisien korelasi (p) sebesar 0,492 dan
nilai signifikansi sebesar 0,000. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa nilai
signifikan < 0,05, yang artinya terdapat hubungan yang positif antara pengalaman
praktek profesi terhadap persepsi kesehatan mental pada apoteker.
Kesimpulan : Dapat disimpulkan ada hubungan pengalaman praktek profesi
terhadap persepsi apoteker tentang kesehatan mental.
Collections
- Pharmacy [1909]
