| dc.description.abstract | Sodium Lauril Sulfat adalah salah satu bahan kimia yang digunakan sebagai
bahan baku dalam berbagai industri kimia. Biasanya sodium lauril sulfat digunakan
sebagai bahan baku pembuatan sabun, sampo, deterjen dan sejenisnya. Pendirian
pabrik sodium lauril sulfat diperkirakan pada tahun 2029 di Manyar, Gresik dengan
kapasitas 60.000 Ton/Tahun dan didirikan di atas tanah seluas 16.000 m2
dengan 152
karyawan. Pabrik beroperasi selama 24 jam per hari dan 330 hari per tahun dengan
kebutuhan bahan baku lauril alkohol sebesar 5.436,3021 kg/jam, asam sulfat sebesar
3.624,2014 kg/jam, dan natrium hidroksida sebesar 1.906,3442 kg/jam. Reaksi
berlangsung secara isothermal dengan menggunakan jenis reaktor alir tangki
berpengaduk (RATB) pada suhu 60C dan 1 atm. Utilitas yang diperlukan terdiri dari
air pendingin sebanyak 24.571,3045 kg/jam, air proses sebanyak, 20.588,5117 kg/jam,
dan 570 kW listrik dari PLN. Analisa risiko menunjukan bahwa pabrik sodium lauril
sulfate tergolong pabrik berisiko rendah. Dari evaluasi ekonomi diproyeksikan
memiliki keuntungan sebelum pajak sebesar Rp. 270.278.6313 dan sesudah pajak
sebesar Rp. 202.708.973.590. Berdasarkan studi kelayakan diperoleh Return on
Investment (ROI) sebelum pajak sebesar 42,52 % dan ROI setelah pajak sebesar
31,90% dengan Pay Out Time (POT) sebelum pajak 1,90 tahun dan POT setelah pajak
sebesar 2,38 tahun. Selain itu Break Event Point (BEP), Shut Down Point (SDP), dan
Discounted Cash Flow of Return (DCFR) masing-masing sebesar 52,96%, 38%, 12%.
Dari evaluasi ekonomi dapat disumpulkan bahwa sodium lauril sulfat dari bahan lauril
alkohol, asam sulfat dan natrium hidroksida layak untuk didirikan di Indonesia. | en_US |