Adaptasi Pascaperpisahan Ibu Tunggal yang menjalani Peran Ganda dan mendampingi Remaja dengan Ekspresi Kadar Penyesuaian Emosional yang Beragam
Abstract
Dewasa ini, kian banyak fenomena perceraian yang meningkatkan kasus ibu tunggal. Ibu tunggal
dihadapkan berbagai tuntutan adaptasi dalam menjalankan peran ganda. Selain itu, ibu tunggal juga
dihadapkan pada realitas pascaperceraian yang berdampak baik secara emosional maupun psikososial.
Kondisi ini akan semakin kompleks bila ibu tunggal juga sementara mengasuh remaja dengan berbagai
tantangan perkembangan psikofisik dan psikososialnya. Pendekatan fenomenologi interpretatif
digunakan untuk mendalami isu ini, sebagaimana tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran
holistik mengenai bagaimana ibu tunggal menjalani adaptasi pascaperpisahan. Penelitian ini perlu
dilakukan agar dapat meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat akan pentingnya dukungan
dan upaya mengurangi stigma terhadap ibu tunggal. Wawancara mandalam semi-terstruktur dilakukan
terhadap ibu tunggal yang tengah mendampingi remaja dengan ekspresi kadar penyesuaian emosional
yang berbeda-beda. Status peran tunggal dialami karena perceraian, dengan lama peran dijalani
minimal setahun adaptasi. Untuk keabsahan data dilakukan sejumlah teknik triangulasi seperti
integrasi sejumlah sumber data (observasi, wawancara, dan informasi lain yang relevan), wawancara
figur signifikan, serta peninjauan analisis peneliti oleh pakar kualitatif. Dari analisis tematik, hasil
penelitian menunjukkan bahwa ibu tunggal melalui fase adaptasi pascaperpisahan (fase terpuruk,
penerimaan, dan upaya bangkit), yang mana dalam prosesnya hal ini diwarnai oleh faktor protektif dan
faktor risiko dari diri dan sosial. Temuan lainnya bahwa fase adaptasi pascaperpisahan ini mewarnai
dinamika pengasuhan terhadap remaja.
Collections
- Master of Psychology [494]
