Show simple item record

dc.contributor.authorIndrayanto, Helmy Pradana
dc.date.accessioned2024-10-15T04:28:14Z
dc.date.available2024-10-15T04:28:14Z
dc.date.issued2024
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/52400
dc.description.abstractPersaingan bisnis yang semakin ketat mengharuskan perusahaan menyusun startegi untuk bertahan dan berkembang. Salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan dengan cara melakukan pengendalin kualitas seperti perbaikan mutu produk. PT Yamaha Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di industri manufaktur yang berlokasi di Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP). PT Yamaha Indonesia bergerak di bidang pembuatan dan perakitan piano, yang memproduksi dua jenis piano yaitu Grand Piano (GP) dan Upright Piano (UP). Dalam proses produksinya PT Yamaha Indonesia mementingkan kualitas kepada konsumen. Namun dalam proses produksinya terjadi beberapa tantangan yang menyebabkan produk mengalami defect terutama pada bass bridge upright piano. Terdapatnya temuan defect menyebabkan mutu produk bass bridge menurun dan menyebabkan kerugian dikarenakan defect tidak bisa di repair atau langsung disposal/dibuang. Berdasarkan data dari perusahaan pada bulan Februari 2024 menjadi peningkatan tren temuan pada produksi bass bridge upright piano dengan total 16 unit dari 1.170 unit yang diproduksi dengan presentase 1,32%. PT. Yamaha Indonesia menetapkan target penurunan cacat sebesar 50%. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi jenis cacat pada bass bridge upright piano, menganalisis akar penyebab tingginya temuan cacat bass bridge, dan memberikan rekomendasi tindakan perbaikan. Oleh sebab itu, pengendalian kualitas sangat dibutuhkan untuk mengurangi defect menggunakan metode Quality Control Circle (QCC) dengan siklus Plan, Do, Check, Action (PDCA) sebagai realisasi tindakan perbaikannya yang didukung dengan Seven Tools sebagai alat untuk identifikasi permasalahannya. Hasil dari penelitian didapatkan kenaikan defect pada bulan Februari 2024 dengan jenis defect yang menjadi prioritas yaitu bass bridge plate retak pada bahan, didapatkan faktor penyebab defect yang berasal dari metode yaitu belum adanya pengukuran MC pada material (body, plate, base) dan tidak ada pengelompokan material dengan MC sejenis sebelum proses rotary press, faktor manusia belum adanya pengelompokan dengan MC seragam pada proses jointer dan terdapat kesalahan saat membaca hasil pengukuran MC Katt, dan material yaitu belum adanya pedoman pengelompokan serat yang sejenis pada proses jointer. Setelah diterapkan rencana perbaikan, terjadi penurunan sebesar 100% dari bulan Februari 2024 hingga Agustus 2024, dengan total temuan bass bridge plate upright piano retak pada bahan sejumlah 0 unit dari total produksi 785 unit piano dengan presentase defect 0%. Perkembangan ini menunjukkan tekad PT. Yamaha Indonesia untuk terus memperbaiki kualitas produknya, dengan tujuan memperkuat kepercayaan pelanggan dan menjaga daya saing di industri piano.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectPengendalian Kualitasen_US
dc.subjectQuality Control Circle (QCC)en_US
dc.subjectSeven Toolsen_US
dc.subjectPDCAen_US
dc.titlePengendalian Kualitas untuk menurunkan Temuan Bass Bridge Upright Piano (UP) Pecah menggunakan Metode Quality Control Circle (QCC) (Studi Kasus: PT. Yamaha Indonesia)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM20522318


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record