| dc.description.abstract | Persaingan bisnis yang semakin ketat mengharuskan perusahaan menyusun startegi untuk
bertahan dan berkembang. Salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan dengan cara
melakukan pengendalin kualitas seperti perbaikan mutu produk. PT Yamaha Indonesia
merupakan perusahaan yang bergerak di industri manufaktur yang berlokasi di Jakarta
Industrial Estate Pulogadung (JIEP). PT Yamaha Indonesia bergerak di bidang pembuatan dan
perakitan piano, yang memproduksi dua jenis piano yaitu Grand Piano (GP) dan Upright Piano
(UP). Dalam proses produksinya PT Yamaha Indonesia mementingkan kualitas kepada
konsumen. Namun dalam proses produksinya terjadi beberapa tantangan yang menyebabkan
produk mengalami defect terutama pada bass bridge upright piano. Terdapatnya temuan defect
menyebabkan mutu produk bass bridge menurun dan menyebabkan kerugian dikarenakan
defect tidak bisa di repair atau langsung disposal/dibuang. Berdasarkan data dari perusahaan
pada bulan Februari 2024 menjadi peningkatan tren temuan pada produksi bass bridge upright
piano dengan total 16 unit dari 1.170 unit yang diproduksi dengan presentase 1,32%. PT.
Yamaha Indonesia menetapkan target penurunan cacat sebesar 50%. Tujuan penelitian ini
mengidentifikasi jenis cacat pada bass bridge upright piano, menganalisis akar penyebab
tingginya temuan cacat bass bridge, dan memberikan rekomendasi tindakan perbaikan. Oleh
sebab itu, pengendalian kualitas sangat dibutuhkan untuk mengurangi defect menggunakan
metode Quality Control Circle (QCC) dengan siklus Plan, Do, Check, Action (PDCA) sebagai
realisasi tindakan perbaikannya yang didukung dengan Seven Tools sebagai alat untuk
identifikasi permasalahannya. Hasil dari penelitian didapatkan kenaikan defect pada bulan
Februari 2024 dengan jenis defect yang menjadi prioritas yaitu bass bridge plate retak pada
bahan, didapatkan faktor penyebab defect yang berasal dari metode yaitu belum adanya
pengukuran MC pada material (body, plate, base) dan tidak ada pengelompokan material
dengan MC sejenis sebelum proses rotary press, faktor manusia belum adanya pengelompokan
dengan MC seragam pada proses jointer dan terdapat kesalahan saat membaca hasil pengukuran
MC Katt, dan material yaitu belum adanya pedoman pengelompokan serat yang sejenis pada
proses jointer. Setelah diterapkan rencana perbaikan, terjadi penurunan sebesar 100% dari
bulan Februari 2024 hingga Agustus 2024, dengan total temuan bass bridge plate upright piano
retak pada bahan sejumlah 0 unit dari total produksi 785 unit piano dengan presentase defect
0%. Perkembangan ini menunjukkan tekad PT. Yamaha Indonesia untuk terus memperbaiki
kualitas produknya, dengan tujuan memperkuat kepercayaan pelanggan dan menjaga daya
saing di industri piano. | en_US |