| dc.description.abstract | Remaja, termasuk siswa SMP, merupakan pengguna internet tertinggi di Indonesia dalam
beberapa tahun terakhir sehingga mereka berpeluang terkena kejahatan siber. Namun, analisis
kesadaran keamanan siber umumnya lebih banyak dilakukan pada mahasiswa, karyawan, atau
masyarakat umum. Sementara itu, kajian kesadaran keamanan siber yang fokus pada siswa
SMP masih jarang ditemukan. Terlebih lagi, belum ada penelitian yang meneliti kesadaran
keamanan siber di kalangan santri pondok pesantren yang sehari-hari jarang menggunakan
gawai. Meskipun demikian, santri pondok pesantren tetap berisiko menjadi korban kejahatan
siber karena mereka sesekali menggunakan gawai untuk berkomunikasi dengan orang di luar
pondok. Tujuan penelitian ini untuk mengukur nilai kesadaran siswa SMP terhadap kesadaran
keamanan siber berdasarkan faktor demografis, seperti gender, kelas, dan asal sekolah
(negeri/pondok). Data primer diperoleh melalui survei terhadap 49 siswa SMP Negeri 1 Ngetos
dan 50 siswa SMP Baitul Atieq Nganjuk. Penelitian ini mengadopsi pertanyaan dari The
Human Aspects of Information Security Questionnaire (HAIS-Q) dan menggunakan model
Kruger-Kearney untuk menganalisis data survei tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa
level kesadaran keamanan siber siswa SMP di Nganjuk sudah berada di level sedang, dengan
total skor keseluruhan 61. Namun, skor ini mendekati level buruk. Perbedaan faktor demografis
juga menghasilkan nilai kesadaran yang berbeda pada setiap dimensi dan topik yang digunakan
untuk pengukuran tingkat kesadaran keamanan siber pada siswa SMP di Nganjuk. | en_US |