| dc.description.abstract | Sebagai negara berkembang, diperlukan pembangunan di berbagai bidang
industri untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. Pengembangan di
bidang industri kimia, menjadi salah satu inovasi untuk dapat memajukan
kesejahteraan suatu negara. Mengingat kebutuhan akan bahan kimia dan sumber
daya alam yang besar maka pendirian pabrik-pabrik kimia sangat diperlukan.
phenyl cyanide menjadi salah satu produk kimia yang berpotensi untuk
dikembangkan. phenyl cyanide merupakan senyawa yang memiliki banyak
kegunaan. Senyawa ini dapat digunakan sebagai separating agent dalam
memisahkan naphtalene dan alkyl-naphtalene, digunakan sebagai bahan sintesis
benzoguamin yang merupakan derivatif dari melamin. Selain itu, phenyl cyanide
juga dapat dijadikan bahan sekaligus pendukung bagi industri seperti melamin,
coating, molding resin, pelapisan logam nikel, hingga tekstil. phenyl cyanide
memiliki rumus kimia C7H5N. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,
dirancang pabrik phenyl cyanide dengan kapasitas 30.000 ton per tahun. Proses
pembuatan phenyl cyanide menggunakan metode amoksidasi dengan bahan baku
toluene, ammonia, dan udara. phenyl cyanide diproses di dalam reaktor fixed bed
multitube (Reaktor Alir Pipa) pada suhu 270°C dengan tekanan 6,5 atm yang
berlangsung dalam fase gas, untuk mendapatkan produk phenyl cyanide. Dalam
proses pembuatan phenyl cyanide dibutuhkan bahan baku toluene sebanyak 41.953
ton/tahun, ammonia sebanyak 15.512 ton/tahun dan udara sebanyak 177.975
ton/tahun. Dalam proses produksi, pabrik ini membutuhkan setidaknya 11.530.594
ton/tahun air pendingin, 198.454 ton/tahun steam, 7.920 ton/tahun dowtherm
pendingin, 227.926 dowtherm pemanas, kebutuhan listrik sebesar 10.000 kW,
kebutuhan udara tekan sebesar 1,109 m3
/jam, dan bahan bakar solar sebesar
2.410.865 kl/tahun. Pabrik phenyl cyanide ini memiliki resiko yang tinggi (high
risk) dikarenakan kondisi operasi dan karakteristik bahan baku, didapatkan nilai
ROI minimal sebesar 44%, nilai POT maksimal 2 tahun, dan BEP sebesar 40-60%.
Kebutuhan modal tetap terhitung sebesar Rp588.453.038.179 dengan modal kerja
sebesar Rp2.676.793.687.000, hasil perhitungan menunjukkan nilai ROI sebelum
pajak sebesar 67,4%, dan setelah pajak sebesar 50,56%, nilai POT sebelum pajak
sebesar 0,61 tahun dan setelah pajak sebesar 0,67 tahun dengan nilai BEP sebesar
45%, nilai SDP sebesar 35,46%, dan nilai DCFRR sebesar 20,21%. Berdasarkan
hasil analisis evaluasi ekonomi yang telah diperhitungkan, dapat disimpulkan
bahwa perancangan pabrik phenyl cyanide secara ekonomi dapat dikaji lebih lanjut
dan layak untuk didirikan. | en_US |