Perancangan Art Community Center di Bantul yang Berfokus Pada Penyandang Difabel dengan Pendekatan Human-centered Design
Abstract
Para penyandang difabel, memiliki hak yang sama untuk merasakan kualitas hidup yang lebih
baik dan lingkungan yang inklusif. Perancangan Art Community Center untuk penyandang
difabel di Bantul merupakan upaya untuk menciptakan ruang publik inklusif yang
memberikan prioritas pada aksesibilitas bagi semua pengguna, terutama penyandang difabel.
Pentingnya perancangan ini tidak hanya terletak pada pemenuhan hak dasar penyandang
difabel untuk merasa diterima dan diakui dalam masyarakat, tetapi juga dalam memberikan
platform bagi mereka untuk berekspresi dan berkembang secara pribadi melalui seni dan
kreativitas. Dengan adanya wadah seperti Art Community Center untuk Penyandang Difabel,
diharapkan penyandang difabel dapat merasa lebih termotivasi, dihargai, dan terlibat aktif
dalam kegiatan sosial dan kultural di komunitas mereka.
Art community center ini merupakan wadah bagi para penyandang difabel untuk
mengembangkan potensi mereka dan mengapresiasi kapabilitas mereka, yang tidak memiliki
kesempatan untuk menempuh pendidikan formal. Community center ini menyediakan ruang
dan fasilitas inklusif bagi para difabel, tidak seperti sekolah dan wadah pendidikan lainnya
yang kurang memperhatikan inklusifitasnya. Art community center ini menekankan estetika
untuk difabel, yang mana walaupun memiliki keterbatasan indera, mereka tetap bisa
merasakan keindahan dari seni dan bangunan ini dengan pendekatan human centered
design dan kajian mendalam dari aesthetics for diffable.
Perancangan ini bukan hanya tentang memastikan aksesibilitas fisik, tetapi juga tentang
menciptakan pengalaman estetika yang mengakomodasi bagi semua pengguna, termasuk
mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Keunggulan rancangan terletak pada pendekatan
holistik terhadap kebutuhan pengguna, serta pada upaya untuk menciptakan lingkungan
yang tidak hanya berfungsi dengan baik secara fisik, tetapi juga memberikan pengalaman
yang positif secara emosional dan sosial bagi penggunanya, termasuk aspek estetika untuk
para difabel yang sering kali diabaikan dalam desain, terutama tunarungu, tunadaksa dan
tunanetra. Misalnya, pemilihan warna, tekstur, dan bentuk yang mengundang dan
menyenangkan bagi pengguna dengan gangguan sensorik, serta penggunaan teknologi dan
inovasi dalam menciptakan pengalaman visual dan audio yang memikat tanpa
mengorbankan aksesibilitas. Kontribusi pada bidang Arsitektur terletak pada pengembangan
desain yang lebih inklusif dan ramah difabel, sementara kontribusi pada upaya pengentasan
masyarakat tercermin dalam penyediaan akses yang lebih baik bagi penyandang difabel
dalam berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan budaya.
Collections
- Architecture [3993]
