Profil Ketoksikan Akut dan Subkronis Sediaan Self Nano-emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) Kombinasi Ekstrak Benalu Batu (Begonia Medicinalis) dan Daun Kelor (Moringa Oleifera)
Abstract
Indonesia memiliki banyak spesies tanaman obat yang berpotensi untuk
dikembangkan menjadi produk herbal seperti benalu batu (Begonia medicinalis)
dan daun kelor (Moringa oleifera). Namun, sebagian besar obat herbal memiliki
kelarutan yang rendah sehingga dikembangkan menjadi formulasi sediaan Self-
Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS). Meskipun sediaan SNEDDS
dapat meningkatkan efektivitas senyawa, sediaan ini juga dapat meningkatkan
toksisitas senyawa. Oleh sebab itu, dilakukan uji toksisitas untuk mengetahui
tingkat keamanan sediaan SNEDDS. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan
karakterisasi dan uji keamanan sediaan SNEDDS. Metode penelitian dilakukan
formulasi dan karakterisasi sediaan melalui uji transmittan, ukuran partikel, indeks
polidispersitas, dan zeta potensial. Uji toksisitas akut dilakukan pada tikus putih
Wistar betina secara oral selama 14 hari menggunakan pedoman OECD 425, dan
uji toksisitas subkronis selama 90 hari menggunakan pedoman OECD 408. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat tanda toksisitas pada tikus dosis 2000
mg/kgBB berupa penurunan aktivitas, salivasi, diare, lesu, pernapasan lambat, serta
mortalitas. LD50 yang diperoleh yaitu 1.098 mg/kgBB, sehingga toksisitas akut
SNEDDS termasuk dalam kategori toksik sedang. Pada studi toksisitas subkronis,
SNEDDS dengan 3 variasi dosis yaitu 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400
mg/kgBB. Terdapat tanda ketoksikan dan kematian pada dosis tertinggi yaitu 400
mg/kgBB, sedangkan pada dosis 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB tidak ada efek
toksik yang signifikan berpengaruh pada tanda dan gejala klinis, berat badan,
asupan makan, parameter hematologi, biokimia, serta pemeriksaan makroskopis
dan mikroskopis organ.
Collections
- Master of Pharmacy [32]
