Show simple item record

dc.contributor.authorFathin, Naufal
dc.contributor.authorRochman, Abdul
dc.contributor.authorPrihatmaji, Yulianto Purwono
dc.date.accessioned2024-07-10T04:42:47Z
dc.date.available2024-07-10T04:42:47Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/50701
dc.description.abstractAwet, murah dan nir perawatan merupakan idiom umum untuk memilih barang. Pun untuk menentukan bahan bangunan yang mau digunakan secara cepat, praktis dan seketika (instan). Awet, bisa bertahan lebih lama, tidak beresiko berkarat, minimalisir keausan atau lapuk adalah suasana kebatinan pemilihan bahan bangunan oleh konsumen. Persepsi murah karena material ringan dan remeh-temeh adalah anggapan untuk baja ringan hanya cocok untuk bangunan yang kecil, temporer dan bukan yang utama. Tidak perlu dilapisi cat atau memerlukan sentuhan akhir lagi Ketika selesai dirakit. Warna, tekstur dan profil bahan bangunan akan menjadi penampakan dan performa yang sama ketika sudah menjadi konstruksi. Ini bicara bahan bangunan industrial, baja ringan dengan segala turunan produknya. Untuk material organik berupa kayu solid, kayu-kayu major label banyak beredar di pasaran. Sebutlah kayu ‘Kalimantan’untuk menyederhanakan nama pesan di toko secara umum. Penyebutan kayu Kalimantan hanyalah password saja di awal pesanan, biasanya akan dilanjut pada jenisnya yang beragam. Kayu Bengkirai, Kamper, Keruing, Meranti, dan Merbau adalah kayu sejuta umat yang popular untuk membangun rumah-rumah di Indonesia. Kayu Ulin walau berasal dan khas Kalimantan sengaja tidak disertakan, karena kayu jenis ini sudah masuk level prioritas, premium dan legendaris. Selain produksinya terbatas, regulasi pemanfaatannya ketat dan harganya sudah melangit. Ini seperti takdir kayu Jati di Jawa, hanya kayu yang popular di kalangan bangsawan Jawa ini lebih baik nasibnya. Riset intensif tentang pembibitan dan kultur jaringan membawa kehdiupan kayu Jati ini menemukan beragam variasi lingkar tahun, kecepatan tumbuh, akselerasi diameter batang sampai pohon Jati tanpa cabang, hal ini menyebabkan produksi kayu Jati dengan ragam karakter bisa banyak dan mengakibatkan harga di pasaran bersaing. Selain kayu-kayu major label di atas, sebutlah kayu-kayu indie label yang produksinya terbatas namun penggunaannya banyak, atau sebaliknya. Kayu Mahoni (Swietenia macrophylla King) adalah dari tanaman mudah tanam, cepat tumbuh ke atas dan ke samping, murah hidup, dan cepat panen. Mudah tanam karena secara endemic dari biji pada buah Mahoni tua dapat menyebar terbang terbawa angin. Cepat tumbuh disebabkan karakter akarnya tunggang, memiliki banyak cabang dan daunnya majemuk menyirip genap berkanopi sangat rimbun. Murah hidup karena tidak memerlukan persyaratan secara speisifik, dapat hidup di berbagai tempat dan permukaan sampai 1.500 m (di ata spermukaanlaut), tanah gersang atau marjinal, atau lahan yang jarang hujan berbulan-bulan. Pohon Mahoni dapat di panen mulai umur 10 tahun dengan diameter 10- 14 cm, walaupun usia ideal pemanenan adalah 30-60 tahun dengan diameter rata-rata 30-100 cm. Di Jawa untuk kayu-kayu indie label yang lain disebut kayu Tahunan, artinya kayu-kayu yang diambil dari pohonpohon endemik yang berusia belasan atau puluhan tahun. Sebutlah kayu Sonokeling, kayu Johar, kayu Mindi, kayu Ketepeng, kayu Wadang atau dari kayu tanaman buah-buahan (kayu Durian, kayu Kelengkeng, kayu Kelapa, dan kayu tanaman buah yang keras dan awet lainnya). Kayu Tahunan ini kerap digunakan untuk bahan bangunan terutama untuk konstruksi atap (kuda-kuda, usuk dan reng), namun jarang untuk komponen arsitektural (kusen, dau pintu, daun jendela) karena sifatnya yang keras dengan serat relativeen_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.titleKonstruksi Hibrida Baja Ringan & Kayu Building Tecnology Seriesen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM22515005


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record