<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Master of Environmental Engineering</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/56323</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 04:30:29 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-26T04:30:29Z</dc:date>
<item>
<title>Studi Kelayakan Penerapan Bioteknologi pada Pengolahan Sampah Organik Kota Yogyakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/58604</link>
<description>Studi Kelayakan Penerapan Bioteknologi pada Pengolahan Sampah Organik Kota Yogyakarta
Raihan, Muhammad Afif
Kota Yogyakarta menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah organik,&#13;
terutama setelah penutupan TPA Piyungan pada tahun 2024. Sampah organik yang&#13;
mendominasi komposisi timbulan sampah kota membutuhkan solusi pengolahan yang&#13;
efektif, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan&#13;
penerapan kepada tiga opsi pilihan bioteknologi dalam pengolahan sampah organik,&#13;
yaitu: biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), Anaerobic Digestion&#13;
(AD), dan pengomposan metode bata berongga. Metode yang digunakan dalam&#13;
penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif berdasarkan data sekunder dari instansi&#13;
terkait dan studi literatur. Studi kelayakan dilakukan melalui analisis aspek teknis,&#13;
ekonomi, lingkungan, dan sosial dengan pendekatan Grid Analysis. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa dari ketiga opsi, biokonversi menggunakan larva BSF merupakan&#13;
metode paling layak diterapkan di Kota Yogyakarta. Hal ini didasarkan pada efektivitas&#13;
reduksi, BSF mampu mengolah sampah organik dalam skala besar, waktu proses yang&#13;
singkat dimana dalam 1 siklus hidupnya hanya membutuhkan waktu 30-35 hari,&#13;
potensi produk bernilai ekonomis seperti fresh maggot dan pupuk dengan pasar produk&#13;
yang dapat diserap oleh sektor peternakan, pertanian, dan program pemerintah, hasil&#13;
proyeksi menunjukkan nilai NPV positif dan nilai IRR diatas nilai Cost of Capital&#13;
yang disyaratkan, nilai PP kurang dari 3 tahun dengan asumsi umur proyek selama 10&#13;
tahun, serta kebutuhan lahan dan sumber daya yang relatif rendah dibandingkan dengan&#13;
opsi pengolahan sampah organik lainnya. Rekomendasi dari penelitian ini adalah&#13;
pengembangan sistem pengolahan sampah organik berbasis larva BSF secara&#13;
terintegritas pada skala kota sebagai upaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/58604</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Kontaminasi Mikroplastik pada Produk Garam di Kabupaten Kebumen</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/58569</link>
<description>Kontaminasi Mikroplastik pada Produk Garam di Kabupaten Kebumen
Mudhofar, Moh Ade
Mikroplastik merupakan kontaminan yang tersebar luas di lingkungan perairan dan&#13;
berpotensi mencemari produk turunan laut seperti garam. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengidentifikasi kelimpahan dan karakteristik mikroplastik pada sampel air laut&#13;
sebagai bahan baku serta produk garam tradisional di Kabupaten Kebumen,&#13;
sekaligus memetakan distribusi spasial kontaminasinya. Sampel air laut dan garam&#13;
diambil dari empat stasiun pengamatan menggunakan metode grab sampling.&#13;
Kelimpahan mikroplastik dianalisis dengan mikroskop stereo, sedangkan&#13;
karakteristiknya (bentuk, ukuran, warna) diukur menggunakan Image Raster 3.&#13;
Pemetaan spasial dilakukan dengan metode interpolasi IDW pada ArcGIS Pro, dan&#13;
estimasi paparan dihitung menggunakan rumus Estimated Daily Intake (EDI) dan&#13;
Estimated Annual Intake (EAI). Hasil menunjukkan air laut bahan baku garam telah&#13;
terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan 100–280 partikel/L, sedangkan&#13;
pada garam mencapai 240–2640 partikel/kg. Proses produksi metode tunnel&#13;
berkontribusi pada akumulasi mikroplastik akibat ketiadaan filtrasi efektif.&#13;
Mikroplastik pada garam memiliki variasi bentuk, ukuran, dan warna lebih beragam&#13;
dibandingkan pada air laut, dengan ukuran &lt;50 μm mendominasi seluruh media.&#13;
Bentuk fragmen paling banyak ditemukan pada garam (65,93%), sedangkan bentuk&#13;
fiberlebih dominan pada air laut (59,52%) dan air muara (66,67%). Warna dominan&#13;
pada garam adalah hitam (52,59%), sementara pada air laut adalah bening&#13;
(40,48%). Karakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR mengindikasikan bahwa&#13;
polimer yang terkandung dalam sampel garam adalah nylon dan polyethylene&#13;
terephthalate (PET). Pemetaan distribusi mengindikasikan zona kelimpahan tinggi&#13;
di sekitar muara dan wilayah dengan aktivitas antropogenik intensif. Nilai EDI&#13;
mencapai 3,76 partikel/kapita/hari dan EAI 1373,48 partikel/kapita/tahun,&#13;
menunjukkan potensi jalur paparan jangka panjang mikroplastik melalui konsumsi&#13;
garam. Temuan ini menegaskan perlunya pengawasan kualitas garam terkait&#13;
kandungan mikroplastik yang belum diatur dalam standar SNI. Rekomendasi&#13;
mitigasi meliputi peningkatan teknik filtrasi pada proses produksi dan penetapan&#13;
zona aman pengambilan air laut untuk mengurangi risiko paparan harian.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/58569</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Alih Fungsi Lahan menjadi Permukiman dan Dampaknya terhadap Stok Karbon di Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/58479</link>
<description>Analisis Alih Fungsi Lahan menjadi Permukiman dan Dampaknya terhadap Stok Karbon di Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat
Al Hidayat, M. Gegas Imamuna
Alih fungsi lahan menjadi permukiman merupakan fenomena yang kian meningkat di&#13;
kawasan peri-urban, termasuk Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, yang&#13;
berbatasan langsung dengan Kota Mataram. Urbanisasi yang pesat dan lemahnya&#13;
pengendalian tata ruang menimbulkan tekanan besar terhadap kawasan vegetatif,&#13;
sehingga berdampak pada penurunan stok karbon dan peningkatan emisi Gas Rumah&#13;
Kaca, yang menjadi isu strategis dalam mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini&#13;
bertujuan untuk: Memetakan alih fungsi lahan menjadi permukiman selama periode&#13;
2015-2023, menganalisis dampaknya terhadap stok karbon, mengevaluasi&#13;
kesesuaiannya dengan RTRW Kabupaten Lombok Barat 2011-2031, dan memberikan&#13;
rekomendasi mitigasi berbasis data spasial dan karbon. Penelitian ini menggunakan&#13;
pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan memanfaatkan citra satelit Landsat 8 melalui&#13;
metode klasifikasi terbimbing (supervised classification) serta validasi lapangan.&#13;
Estimasi stok karbon dihitung berdasarkan nilai cadangan karbon untuk masing-masing&#13;
jenis lahan. Analisis spasial dilakukan untuk menilai perubahan tutupan lahan,&#13;
perhitungan ∆C digunakan untuk menganalisis perubahan stok karbon tahunan, dan&#13;
evaluasi kesesuaian dilakukan melalui overlay zonasi RTRW. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa lahan permukiman mengalami peningkatan signifikan dari 358,94&#13;
Ha (2015) menjadi 1.462,39 Ha (2023), sementara lahan vegetatif seperti kebun,&#13;
tegalan, dan pertanian menyusut drastis. Estimasi stok karbon total menurun sebesar&#13;
50,34%, dari 29.195,05 ton menjadi 14.494,44 ton. Analisis ∆C menunjukkan bahwa&#13;
kehilangan stok karbon terbesar berasal dari lahan kebun (8.204,31 ton) dan tegalan&#13;
(6.061,46 ton), estimasi total emisi CO2-eq sebesar 53.928,24 ton, dengan misi tertinggi&#13;
7.294,22 ton CO2-eq dari permukiman dan penurunan terbesar 21.806,03 ton CO2-eq&#13;
dari kebun. Evaluasi kesesuaian dengan RTRW mengungkapkan bahwa hanya 17,41%&#13;
dari lahan permukiman saat ini sesuai dengan zonasi tata ruang, mengindikasikan&#13;
lemahnya implementasi kebijakan tata ruang. Kesimpulannya, alih fungsi lahan di&#13;
Kecamatan Labuapi menimbulkan dampak ekologis signifikan dan menunjukkan&#13;
perlunya intervensi kebijakan berbasis konservasi karbon. Rekomendasi mitigasi&#13;
meliputi peninjauan zonasi RTRW, penerapan agroforestry, serta insentif berbasis jasa&#13;
ekosistem. Penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan&#13;
kebijakan tata ruang berkelanjutan dan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan&#13;
pendekatan model spasial prediktif dan analisis karbon organik tanah secara vertikal.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/58479</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Potensi Arbuscular Mycorrhizal Fungi dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria Pada Tanaman Ochroma Grandiflorum Rowlee dan Samanea Saman Terhadap Serapan Zn Serta Ketersediaan C-organik di Tanah Tpa Piyungan</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/56321</link>
<description>Potensi Arbuscular Mycorrhizal Fungi dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria Pada Tanaman Ochroma Grandiflorum Rowlee dan Samanea Saman Terhadap Serapan Zn Serta Ketersediaan C-organik di Tanah Tpa Piyungan
Fathikasari, Indah
Tanah TPA Piyungan mengandung logam berat Zn yang tinggi dan rendahnya C-organik yang&#13;
dapat mempengaruhi kualitas serta keseimbangan ekosistem tanah. Teknologi bio-&#13;
fitoremediasi, kombinasi tanaman dan mikroorganisme, menjadi alternatif yang potensial&#13;
untuk mengatasi pencemaran ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi&#13;
Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)&#13;
dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman Ochroma grandiflorum rowlee dan Samanea&#13;
saman, serta efektivitasnya dalam menyerap Zn dan meningkatkan kandungan C-organik di&#13;
tanah TPA Piyungan. Penelitian dilakukan dalam skala rumah kaca dengan 4 perlakuan pada&#13;
setiap tanaman, kontrol, kombinasi AMF (Acaulospora sp.) dan PGPR, AMF, serta PGPR.&#13;
Parameter yang diamati meliputi tinggi, diameter batang, biomassa, serapan Zn oleh jaringan&#13;
tanaman, serta perubahan kandungan Zn dan C-organik di tanah setelah bio-fitoremediasi.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya tanaman Samanea saman saja mampu mereduksi&#13;
logam berat hingga 60,64%. Penambahan inokulasi PGPR pada Samanea saman membantu&#13;
tinggi tanaman (92,08 cm), diameter (7,74 mm), berat kering (16,83 g), dan tanaman melalui&#13;
mekanisme fitostabilisasi menyerap logam pada bagian batang sebesar 41,65 mg/kg dan akar&#13;
sebesar 76,18 mg/kg, efisiensi penyisihan pada tanah mencapai 42,57% serta penambahan&#13;
konsentrasi C-organik di tanah 54,55% dari kondisi semula. Sedangkan pada Ochroma&#13;
grandiflorum rowlee perlakuan Acaulospora sp. membantu pertumbuhan tinggi tanaman&#13;
(41,40 cm), diameter (5,53 mm), berat kering (4,81 g) serta membantu tanaman menyerap Zn&#13;
dengan mekanisme fitostabilisasi menyerap logam pada bagian batang sebesar 79,02 mg/kg&#13;
dan akar sebesar 55,02 mg/kg, efisiensi removal dari tanah sebesar 59,14 % dan peningkatan&#13;
C-organik di tanah 16% dari kondisi semula. Penambahan kombinasi Acaulospora sp. dan&#13;
PGPR pada tanaman Ochroma grandiflrum rowlee mampu meningkatkan ketersediaan C-&#13;
organik di tanah hingga 64,65% dari kondisi semula. Dengan demikian, perlakuan inokulasi&#13;
secara individu Acaulospora sp. dan PGPR menunjukkan keuntungan yang lebih unggul&#13;
dalam parameter pertumbuhan daripada perlakuan dengan inokulasi kombinasi atau tanaman&#13;
saja. Dalam beberapa parameter seperti efisiensi penyisihan, dan ketersediaan C-organik di&#13;
tanah lebih unggul apabila di inokulasi baik kombinasi Acaulospora sp. dan PGPR maupn&#13;
tanaman saja.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/56321</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
