<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Mathematics and Natural Sciences</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/52</link>
<description/>
<pubDate>Wed, 13 May 2026 01:05:46 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-13T01:05:46Z</dc:date>
<item>
<title>Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Ekstrak Etil Asetat Batang Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) terhadap MRSA dan Staphylococcus aureus ATCC 26253</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62494</link>
<description>Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Ekstrak Etil Asetat Batang Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) terhadap MRSA dan Staphylococcus aureus ATCC 26253
Safitri, Linda Purnama
Jatropha multifida L. merupakan salah satu family Euphorbiaceae yang banyak dimanfaatkan getahnya oleh masyarakat Indonesia untuk mengobati luka dan sebagai antiinflamasi. Jatropha merupakan penghasil senyawa diterpen yang memiliki aktifitas biologis sebagai antitumor, sitotoksik dan antimikroba. Diduga tanaman ini berperan dalam terbentuknya zona hambat pada bakteri gram-positif jenis Staphylococcus seperti Staphylococcus aureus dan MRSA. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya senyawa aktif antibakteri seperti saponin, flavonoid, tannin dan polifenol pada bagian batang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengamati secara visual aktivitas antibakteri dari fraksi ekstrak etil asetat batang Jatropha multifida L. yang paling aktif terhadap Staphylococcus aureus dan MRSA. Digunakan proses ekstraksi soxhletasi untuk mendapatkan ekstrak kental tanaman, dilanjutkan dengan instrumen KLT dan proses fraksinasi dengan KLTP. Penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi ekstrak etil asetat batang Jarak Tintir (Jatropha multifida L.) 10.000 ppm yang diujikan dengan metode mikrodilusi memiliki aktivitas antibakteri terhadap MRSA dan Staphylococcus aureus. Senyawa terpenoid, flavonoid, fenolik dan alkaloid menunjukkan aktivitas antibakteri yang baik dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus, sedangkan senyawa terpenoid, flavonoid dan alkaloid paling baik dalam menghambat bakteri MRSA dibanding fenolik. Senyawa alkaloid, terpenoid, dan flavonoid paling baik dalam menghambat kedua bakteri Staphylococcus aureus dan MRSA.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62494</guid>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Edukasi terhadap Perubahan Miskonsepsi Penggunaan Obat Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi pada Kader Posbindu</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62492</link>
<description>Pengaruh Edukasi terhadap Perubahan Miskonsepsi Penggunaan Obat Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2 dan Hipertensi pada Kader Posbindu
Nastiti, Luthfi Isna
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan angka kematian tertinggi (berkisar 80%) akibat penyakit diabetes melitus dan hipertensi. Sementara itu masalah miskonsepsi pengobatan berupa penggunaan obat rutin antidiabetes dan antihipertensi dapat menyebabkan gagal ginjal menjadi faktor utama penyebab ketidakpatuhan pengobatan dan ketidaktercapaian pengendalian penyakit tersebut. Pentingnya pengetahuan yang baik pada kader posbindu dapat menekan laju peningkatan penyakit diabetes melitus dan hipertensi di masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat pengetahuan kader posbindu serta mengetahui pengaruh edukasi terhadap peningkatan pengetahuan kader posbindu tentang miskonsepsi penggunaan obat pada penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi. Penelitian ini bersifat kuasi-eksperimental menggunakan pretest-postest control design dengan melibatkan kader posbindu yang terdaftar dan aktif di Puskesmas Sleman dan Puskesmas Ngaglik I. Penelitian ini menggunakan instrumen kuisioner yang terdiri dari 6 domain pengetahuan yang telah dikembangkan dan divalidasi sebelumnya. Model edukasi 1 hanya menggunakan media edukasi tanpa edukasi dari tenaga kesehatan, sedangkan model edukasi 2 menggunakan media edukasi disertai pemberian edukasi oleh tenaga kesehatan (Dokter dan Apoteker). Tingkat miskonsepsi penggunaan obat DM tipe 2 dan hipertensi sebelum edukasi pada kader posbindu dalam kategori tinggi berjumlah 15% dan berjumlah 10% setelah edukasi. Penelitian ini menemukan edukasi oleh tenaga kesehatan memberikan peningkatan pengetahuan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan nilai (p&lt;0,05) pada domain kuisioner tentang obat yang menyebabkan gagal ginjal. Edukasi memiliki pengaruh besar dan signifikan terhadap perubahan miskonsepsi kader posbindu dalam hal obat yang menyebabkan gagal ginjal dengan besaran Effect Size sebesar 28,09%. Penelitian ini merekomendasikan peran tenaga kesehatan dalam pemberian edukasi dapat meningkatkan pengetahuan kader posbindu.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62492</guid>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Uji Efektivitas Antibakteri Sediaan Self-foaming Clay Soap (SFCS) terhadap Bakteri Proteus mirabilis pada Air Liur Anjing</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62491</link>
<description>Uji Efektivitas Antibakteri Sediaan Self-foaming Clay Soap (SFCS) terhadap Bakteri Proteus mirabilis pada Air Liur Anjing
Sari, Nurvita Permata
Telah dikembangkan sediaan Self-Foaming Clay Soap (SFCS) yaitu sediaan sabun cair yang mengandung clay atau tanah liat dapat dengan mudah membentuk busa stabil pada saat dikeluarkan dari wadah khusus untuk membersihkan kulit dari najis mughalladzah contohnya air liur anjing. Di dalam air liur anjing mengandung berbagai bakteri patogen yang dapat menyebabkan infeksi. Kemampuan antibakteri dapat digunakan sebagai indikator dan pendukung ilmiah produk inovasi dari sediaan penghilang najis mughalladzah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan uji efektivitas antibakteri sediaan SFCS terhadap bakteri pada air liur anjing. SFCS bentonit, kaolin, talk dibuat selanjutnya dilakukan karakterisasi. Bakteri uji diisolasi dari air liur anjing yang sehat kemudian dilakukan identifikasi bakteri. Uji kemampuan antibakteri dari sediaan SFCS dilakukan terhadap isolat bakteri gram negatif menggunakan metode viable plate count. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Kruskal Wallis membandingkan data antar kelompok, kemudian digunakan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan antar kelompok sampel. Hasil dari isolasi bakteri diperoleh bakteri Staphylococcus haemolyticus, Proteus mirabilis, Micrococcus sp, Klebsiella pneumonia. Hasil uji efektivitas antibakteri didapatkan nilai persen reduksi bakteri self-foaming tanpa clay 80,240%; self-foaming bentonit 99,401%; self-foaming kaolin 90,419%, self-foaming talk 73,653%. Sediaan SFCS yang mengandung bentonit memiliki aktivitas antibakteri yang paling tinggi daripada sediaan yang lainnya.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62491</guid>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Evaluasi Sistem Cold Chain pada Vaksin di Puskesmas Umbulharjo I dan Puskesmas Kotagede II Kota Yogyakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62490</link>
<description>Evaluasi Sistem Cold Chain pada Vaksin di Puskesmas Umbulharjo I dan Puskesmas Kotagede II Kota Yogyakarta
Eliyawarni, Desi
Vaksin termasuk produk biologi beresiko tinggi memerlukan penanganan khusus terutama pada tahapan penyimpanan dan pendistribusian karena sangat rentan terhadap kerusakan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga potensi vaksin tetap tinggi dapat dilakukan dengan sistem rantai dingin vaksin. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi kesesuaian distribusi dan penyimpanan rantai dingin vaksin di Puskesmas Umbulharjo I dan Puskesmas Kotagede II. Metode penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan metode purposive sampling. Pengambilan data berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari wawancara dan observasi mengacu pada pedoman CDOB tahun 2012 dan standar PMK No. 42 tahun 2013. Data kuantitatif diperoleh dari rekap data penggunaan vaksin tahun 2016 di Puskesmas Umbulharjo I dan Puskesmas Kotagede II. Hasil penelitian kesesuaian sistem cold chain vaksin di Puskesmas Umbulharjo I dan Puskesmas Kotagede II sudah sesuai dengan pedoman dan standar sistem cold chain yang ada meliputi kesesuaian personil, penyimpanan dan pendistribusian. Namun belum sepenuhnya sesuai dalam proses penerimaan, pencatatan, fasilitas dan pemeliharaan. Kualitas pengelolaan vaksin berdasarkan indikator di kedua puskesmas yaitu tingkat ketersediaan vaksin paling kecil-besar sebesar 13,27-36 bulan dan 13,2-27,73 bulan, waktu kekosongan terdapat pada vaksin polio (IPV) di kedua puskesmas sebesar 16,71 %, presentase stok mati di di kedua puskesmas berturut-turut sebesar 14,28% dan 12,5%, total presentase vaksin rusak/kadaluarsa sebesar 1,67% dan 4,44%, kesesuaian suhu penyimpanan vaksin di kedua puskesmas sesuai dengan sistem cold chain serta presentase kesesuaian penyimpanan kondisi FEFO vaksin di kedua Puskesmas berturut-turut sebesar 57 % untuk vaksin TD dan kondisi FEFO vaksin sebesar 100 %.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62490</guid>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
