<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Medical Education</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/51</link>
<description/>
<pubDate>Tue, 23 Jun 2026 18:31:36 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-23T18:31:36Z</dc:date>
<item>
<title>Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Luaran Terapi Pasien HIV AIDS Klinik Matahari R.S.U R.A Kartini Jepara Tahun 2023-2025</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63472</link>
<description>Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Luaran Terapi Pasien HIV AIDS Klinik Matahari R.S.U R.A Kartini Jepara Tahun 2023-2025
Putra, Ahmad Shafa Faadhilah Raza
Latar belakang : Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus&#13;
yang menyerang sel T CD4+, melemahkan sistem imun, dan dapat berkembang&#13;
menjadi AIDS jika tidak diintervensi dengan Antiretroviral Therapy (ART).&#13;
Indonesia memiliki prevalensi HIV tinggi, dengan Jawa Tengah menempati&#13;
peringkat keempat nasional. Kabupaten Jepara menyumbang angka kasus&#13;
signifikan, menempati posisi ketiga tertinggi di Jawa Tengah. Luaran terapi yang&#13;
buruk, seperti Loss to Follow Up (LTFU) dan kematian, menjadi hambatan utama&#13;
pencapaian target eliminasi 95-95-95 pada tahun 2030. Di Kabupaten Jepara,&#13;
Klinik Matahari RSUD R.A Kartini menjadi pusat rujukan yang memerlukan&#13;
evaluasi terhadap faktor-faktor yang menentukan luaran terapi pasien.&#13;
Tujuan penelitian : Mengetahui hubungan antara faktor sosiodemografi (umur,&#13;
jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, kelompok populasi, dan lokasi)&#13;
dengan luaran terapi pasien HIV di Klinik Matahari RSUD R.A. Kartini Jepara&#13;
periode 2023-2025.&#13;
Metode penelitian : Penelitian ini merupakan Penelitian kuantitatif analitik dengan&#13;
desain observasional cross-sectional menggunakan data sekunder dari rekam&#13;
medis database Sistem Informasi HIV AIDS (SIHA) RSUD R.A. Kartini Jepara.&#13;
Sampel penelitian berjumlah 178 sampel yang dipilih melalui teknik purposive&#13;
sampling. Analisis data mencakup uji univariat, bivariat (Chi-Square), dan&#13;
multivariat (Regresi Logistik).&#13;
Hasil penelitian : Dari 178 pasien HIV/AIDS di RSUD R.A. Kartini Jepara pada&#13;
tahun 2023-2025 didapatkan subjek penelitian didominasi oleh laki-laki (58,4%),&#13;
kelompok usia produktif 31–40 tahun (30,9%), dan berdomisili di wilayah pedesaan&#13;
(82,6%). Luaran klinis menunjukkan 49,4% pasien sedang menjalani pengobatan,&#13;
34,8% mengalami LTFU, dan 10,7% meninggal dunia. Analisis bivariat&#13;
menunjukkan hubungan bermakna antara kelompok usia 31–40 tahun (p = 0,04;&#13;
OR = 4,28) serta kategori populasi umum (p = 0,01; OR = 5,08) terhadap risiko&#13;
kegagalan tindak lanjut. Analisis multivariat menunjukkan tidak ada variabel&#13;
sosiodemografi yang menjadi prediktor independen tunggal (p &gt; 0,05) setelah&#13;
disesuaikan dalam model statistik.&#13;
Kesimpulan : Kegagalan retensi pengobatan di Klinik Matahari RSUD R.A. Kartini&#13;
Jepara bersifat multifaktorial, dengan risiko kegagalan tindak lanjut yang lebih&#13;
tinggi ditemukan pada kelompok usia produktif dan populasi umum..
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/63472</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Profil Pasien Osteoarthritis Lutut di RSUD Dr. Soedirman Kebumen (Kajian Derajat Keparahan Perisiko)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63444</link>
<description>Profil Pasien Osteoarthritis Lutut di RSUD Dr. Soedirman Kebumen (Kajian Derajat Keparahan Perisiko)
Putra, Bayu Samudra Juhan
Latar belakang : Osteoartritis merupakan salah satu penyakit yang paling umum&#13;
dan menjadi penyebab utama kecacatan pada populasi usia dewasa. Sendi lutut&#13;
sebagai salah satu sendi paling kompleks dalam tubuh manusia berperan&#13;
menopang beban terbesar dibandingkan sendi lainnya, sehingga osteoartritis lutut&#13;
menjadi bentuk yang paling sering dijumpai. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan&#13;
rasa sakit kronis dan keterbatasan pergerakan, tetapi juga berdampak terhadap&#13;
produktivitas, kemandirian, serta kualitas hidup penderitanya. Osteoartritis lutut&#13;
bersifat multifaktorial karena dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, dan derajat&#13;
keparahannya dapat dinilai menggunakan klasifikasi Kellgren-Lawrence.&#13;
Tujuan penelitian : Mengetahui profil pasien dan faktor yang mempengaruhi&#13;
derajat keparahan osteoartritis lutut di RSUD Dr. Soedirman.&#13;
Metode penelitian : Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan&#13;
desain cross-sectional menggunakan data rekam medis pasien osteoartritis lutut&#13;
di RSUD Dr. Soedirman periode Januari-Desember 2025. Sebanyak 271 pasien&#13;
diikutsertakan dengan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.&#13;
Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, BMI, sisi lutut yang terkena,&#13;
&#13;
riwayat penyakit, serta derajat keparahan berdasarkan klasifikasi Kellgren-&#13;
Lawrence. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat&#13;
&#13;
(regresi logistik) untuk menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan&#13;
derajat keparahan osteoartritis lutut.&#13;
Hasil penelitian : Dari 271 pasien osteoartritis lutut di RSUD Dr. Soedirman&#13;
Kebumen pada tahun 2025 didapatkan sebagian besar besar berjenis kelamin&#13;
perempuan (73,8%), berusia kelompok lansia awal (42,8%), obesitas I (35%),&#13;
perkenaan lutut bilateral (62%), memiliki riwayat penyakit metabolik (63,1%), dan&#13;
derajat keparahan 3 (41%). Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat&#13;
keparahan osteoartritis lutut dengan usia (p = 0,013;aOR = 0,528) dan riwayat&#13;
penyakit (p = 0,037;aOR = 2,327). Riwayat penyakit merupakan faktor dominan&#13;
yang berhubungan dengan derajat keparahan osteoartritis lutut.&#13;
Kesimpulan : Pasien osteoartritis lutut di RSUD Dr. Soedirman Kebumen tahun&#13;
2025 didominasi perempuan, kelompok usia lansia awal, obesitas I, keterlibatan&#13;
lutut bilateral, riwayat penyakit metabolik, serta derajat keparahan 3. Usia dan&#13;
riwayat penyakit berhubungan secara bermakna dengan derajat keparahan&#13;
osteoartritis lutut, dengan riwayat penyakit sebagai faktor dominan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/63444</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Gen Polimorfisme HTTLPR5 dan MAOA Terhadap Agresivitas Seseorang: A Scoping Review</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63347</link>
<description>Analisis Gen Polimorfisme HTTLPR5 dan MAOA Terhadap Agresivitas Seseorang: A Scoping Review
Kuswandi, Firman Aulia Putra
Latar belakang: Agresivitas merupakan perilaku kompleks yang melibatkan&#13;
interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Dua gen yang berperan&#13;
penting dalam regulasi emosi dan impulsivitas adalah SLC6A4 (HTTLPR5) dan&#13;
MAOA. Keduanya memiliki hubungan dengan sistem neurotransmiter serotonin&#13;
dan monoamin. Variasi polimorfisme pada gen tersebut diduga memiliki hubungan&#13;
terhadap agresivitas yang terjadi pada seseorang.&#13;
Metode: Penelitian ini menggunakan metode scoping review berdasarkan&#13;
pedoman PRISMA-ScR. Artikel yang diperoleh berasal dari 5 database dengan&#13;
rentang publikasi 2019–2024. Dengan penggunaan kata kunci “Aggressiveness”&#13;
OR “Aggression” AND “HTTLPR5” OR “5HTTLPR” OR “5-HTTLPR” OR “5-&#13;
hydroxytryptamine transporter protein” OR “Serotonin Plasma Membrane&#13;
Transport Proteins” AND “MAOA” OR “Monoamine oxidase A” AND “Gene&#13;
Polymorphism” OR “Gene Polymorphisms” OR “Genetic Polymorphisms” OR&#13;
“Genetic Polymorphism” dalam pencarian artikel.&#13;
Hasil: Studi menunjukkan bahwa alel pendek (S) dari gen HTTLPR5 dikaitkan&#13;
dengan peningkatan agresivitas, terutama pada individu yang mengalami stres&#13;
atau kekerasan masa kecil. Sedangkan pada gen MAOA varian low-activity&#13;
MAOA-uVNTR berhubungan dengan impulsivitas dan perilaku agresif, khususnya&#13;
pada laki-laki. Kombinasi antara alel S (HTTLPR5) dan low-activity MAOA&#13;
meningkatkan kerentanan terhadap perilaku agresif dibandingkan genotipe lain.&#13;
Faktor lingkungan seperti pelecehan masa kecil, penyalahgunaan zat, dan&#13;
perbedaan jenis kelamin juga berperan sebagai moderator ekspresi genetik.&#13;
Kesimpulan: Hubungan signifikan antara polimorfisme genetik HTTLPR5 dan&#13;
MAOA dengan tingkat agresivitas seseorang ditemukan pada studi ini, terutama&#13;
pada individu yang memiliki faktor lingkungan tertentu. Pemahaman mengenai&#13;
interaksi genetik ini daiharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan strategi&#13;
pencegahan dan intervensi dalam bidang psikiatri, neuropsikologi, serta&#13;
kedokteran forensik.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/63347</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Tingkat Keparahan Dismenore dan Penggunaan Obat Tradisional dengan Swamedikasi Analgetik Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63344</link>
<description>Hubungan Tingkat Keparahan Dismenore dan Penggunaan Obat Tradisional dengan Swamedikasi Analgetik Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia
Arya, Adinda Meisya Putri
Latar Belakang: Dismenore merupakan keluhan nyeri menstruasi yang sering&#13;
dialami oleh perempuan usia reproduksi, termasuk mahasiswi, dan dapat&#13;
mengganggu aktivitas akademik serta kualitas hidup. Tingginya prevalensi&#13;
dismenore di Indonesia mendorong banyak perempuan melakukan swamedikasi,&#13;
termasuk dengan analgetik. Selain pengobatan farmakologi, penggunaan obat&#13;
tradisional seperti jamu dan minuman herbal masih banyak dipilih karena dianggap&#13;
lebih alami dan memiliki risiko efek samping yang lebih rendah. Tingkat keparahan&#13;
dismenore diduga memengaruhi pilihan penanganan nyeri, termasuk&#13;
kecenderungan melakukan swamedikasi analgetik maupun penggunaan obat&#13;
tradisional. Namun, hubungan antara kedua faktor tersebut dengan praktik&#13;
swamedikasi analgetik masih memerlukan kajian lebih lanjut.&#13;
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan tingkat keparahan dismenore dan&#13;
penggunaan obat tradisional dengan swamedikasi analgetik pada mahasiswi&#13;
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII)&#13;
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan&#13;
desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah mahasiswi FK UII angkatan 2022&#13;
dan 2023 yang mengalami dismenore. Pengumpulan data dilakukan&#13;
menggunakan kuesioner daring terstruktur. Analisis hubungan antara tingkat&#13;
keparahan dismenore dan penggunaan obat tradisional dengan swamedikasi&#13;
analgetik dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p &lt;&#13;
0,05.&#13;
Hasil: Sebanyak 113 responden melaporkan dismenore. Mayoritas (75,3%)&#13;
responden mengalami dismenore sedang dan berat. Swamedikasi analgetik paling&#13;
sering dilaporkan oleh responden dengan dismenore sedang (34%), dibandingkan&#13;
mereka dengan dismenore berat (22%) dan ringan (19,3%). Terdapat hubungan&#13;
antara tingkat keparahan dismenore dan praktik swamedikasi analgetik (p=0.006).&#13;
Pengobatan non farmakologi dilaporkan oleh 102 responden (98,1%); 20&#13;
diantaranya menggunakan herbal/obat tradisional. Tidak terdapat hubungan&#13;
bermakna antara penggunaan obat tradisional dan swamedikasi analgetik.&#13;
Simpulan: Terdapat hubungan antara tingkat keparahan dismenore dan&#13;
swamedikasi analgetik pada mahasiswi FK UII. Sementara itu, penggunaan obat&#13;
tradisional tidak berhubungan dengan swamedikasi analgetik.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/63344</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
