<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Medicine</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/50</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2026 19:37:55 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-28T19:37:55Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Kombinasi Capsaicin dan Beta Glukan terhadap Kadar IL-6 Cortex Cerebri Otak pada Tikus Model Iskemia Otak dengan Penyulit Hipertensi dan Diabetes Melitus Tipe 2</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66651</link>
<description>Pengaruh Kombinasi Capsaicin dan Beta Glukan terhadap Kadar IL-6 Cortex Cerebri Otak pada Tikus Model Iskemia Otak dengan Penyulit Hipertensi dan Diabetes Melitus Tipe 2
Dharmawan, Hastomy Rizal
Latar belakang: Stroke adalah kelainan nurologis yang disebabkan kondisi&#13;
kurangnya oksigen pada neuron. Kekurangan oksigen dapat disebabkan oleh&#13;
penyumbatan pembuluh darah otak dan atau pecahnya pembuluh darah dalam&#13;
otak. Salah satu variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian&#13;
stroke, antara lain hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2. Salah satu biomarker&#13;
yang dapat dikembangkan adalah interleukin 6 atau IL-6. Capsaicin dan beta&#13;
glukan mempunyai efek anti inflamasi serta mencegah kondisi tersebut.&#13;
Tujuan penelitian: Mengetahui perbedaan kadar IL-6 cortex cerebri otak pada&#13;
pemberian capsaicin dan beta glukan terhadap tikus model stroke iskemik dengan&#13;
penyulit hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.&#13;
Metode: Metode yang digunakan berupa eksperimental dengan post-test only&#13;
design. Kelompok penelitian dibagi menjadi kelompok capsaicin, beta glukan,&#13;
kombinasi capsaicin-beta glukan, dan kontrol sehat. Kadar IL-6 diukur dengan&#13;
menggunakan uji ELISA dan dianalisis dengan One-Way ANOVA.&#13;
Hasil: Kadar IL-6 pada kelompok capsaicin, beta glukan, dan kombinasi tidak&#13;
memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelompok kontrol sehat.&#13;
Kesimpulan: tidak terdapat perbedaan kadar IL-6 korteks serebri otak pada&#13;
pemberian capsaicin dan beta glucan pada tikus model stroke dengan penyulit&#13;
hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66651</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan antara kepatuhan pembatasan cairan dan nutrisi terhadap peningkatan nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis di RSIY PDHI</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66384</link>
<description>Hubungan antara kepatuhan pembatasan cairan dan nutrisi terhadap peningkatan nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis di RSIY PDHI
Putri, Mauly Azzahra
Latar Belakang: Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan masalah kesehatan global&#13;
yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal progresif sehingga pasien&#13;
memerlukan terapi hemodialisis. Salah satu indikator keberhasilan terapi adalah&#13;
Interdialytic Weight Gain (IDWG), yang mencerminkan akumulasi cairan antar sesi&#13;
hemodialisis dan dipengaruhi oleh kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan&#13;
dan nutrisi.&#13;
Tujuan Penelitian: mengetahui hubungan antara kepatuhan pembatasan cairan&#13;
dan nutrisi dengan peningkatan nilai IDWG pada pasien GGK yang menjalani&#13;
hemodialisis di RSIY PDHI.&#13;
Metode penelitian: Penelitian menggunakan desain observasional analitik&#13;
dengan pendekatan cross-sectional terhadap 49 responden yang dipilih&#13;
menggunakan teknik purposive sampling. Kepatuhan diukur menggunakan&#13;
kuesioner Fluid Control in Hemodialysis Patients Scale (FCHPS), sedangkan nilai&#13;
IDWG diperoleh melalui pengukuran berat badan pre dan post hemodialisis&#13;
selama empat minggu. Analisis data meliputi uji Shapiro-Wilk dan uji korelasi&#13;
Spearman Rank.&#13;
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada&#13;
kategori kurang patuh (55,1%) dan memiliki IDWG kategori sedang (53,1%). Uji&#13;
Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara&#13;
kepatuhan pembatasan cairan dan nutrisi dengan nilai IDWG (p=0,000).&#13;
Simpulan: Terdapat hubungan antara kepatuhan pembatasan cairan dan nutrisi&#13;
terhadap peningkatan nilai interdialytic weight gain (IDWG) pada pasien gagal&#13;
ginjal kronik yang menjalani terapi di hemodialisis RSIY PDHI.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66384</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Hubungan Usia, Status Graviditas dan Pendidikan Ibu terhadap Kejadian Preeklampsia di RSI Arafah Rembang</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66032</link>
<description>Analisis Hubungan Usia, Status Graviditas dan Pendidikan Ibu terhadap Kejadian Preeklampsia di RSI Arafah Rembang
Habibi, Muhammad Rafi
Latar belakang: Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Rembang pada&#13;
tahun 2016 sebanyak 46 kasus, 7 kasus diantaranya akibat eklampsia dan 19&#13;
kasus akibat preeklampsia. Penyebab pasti preeklampsia masih belum diketahui,&#13;
banyak faktor yang sering dikaitkan dengan kejadian preeklampsia. Berdasarkan&#13;
latar belakang tersebut perlu dilakukan analisis mengenai hubungan antara Usia,&#13;
Status Graviditas, dan Usia Ibu terhadap Kejadian Preeklampsia di RSI Arafah&#13;
Rembang.&#13;
Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan&#13;
design study cross-sectional. Data penelitian diambil dari rekam medis RSI Arafah&#13;
Kabupaten Rembang periode April 2023 hingga Maret 2024 menggunakan teknik&#13;
simple random sampling. Variabel bebas yang diukur meliputi usia, status&#13;
graviditas, dan pendidikan pada ibu hamil terhadap kejadian preeklampsia.&#13;
Analisis data menggunakan analisis univariat yaitu tabel distribusi frekuensi dan&#13;
analisis bivariat yaitu uji Chi-Square.&#13;
Hasil: Penelitian ini menganalisis 190 data ibu hamil yang telah memenuhi kriteria&#13;
inklusi dan eksklusi. Hasil yang diperoleh dari uji Chi-square pada hubungan usia&#13;
dengan preeklampsia diperoleh nilai p = &lt;0,001 dengan Relative Risk (RR) =&#13;
2,185. Sedangkan, pada status graviditas dan pendidikan masing-masing&#13;
diperoleh nilai p = 0,640 dan p = 0,838.&#13;
Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara usia terhadap kejadian&#13;
preeklampsia. Namun, tidak terdapat hubungan bermakna antara status graviditas&#13;
dan pendidikan ibu terhadap kejadian preeklampsia di RSI Arafah Rembang.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66032</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Pemberian Probiotik dengan Status Gizi Anak di Indonesia</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/65801</link>
<description>Hubungan Pemberian Probiotik dengan Status Gizi Anak di Indonesia
Widiawan, Galuh Tiara Dheya
Latar Belakang: Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat&#13;
memberikan manfaat kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah cukup.&#13;
Permasalahan gizi pada anak masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia,&#13;
sehingga probiotik berpotensi menjadi upaya pendukung perbaikan status gizi&#13;
anak di Indonesia.&#13;
Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan konsumsi probiotik dengan status gizi&#13;
anak di Indonesia.&#13;
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan&#13;
responden 481 anak usia 0–23 bulan. Data yang digunakan adalah data sekunder&#13;
dari kuesioner Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis data dilakukan&#13;
melalui analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta multivariat&#13;
menggunakan regresi logistik multinomial. Seluruh analisis data dilakukan dengan&#13;
sofware STATA 17.&#13;
Hasil: Analisis univariat menunjukan mayoritas konsumsi probiotik anak di&#13;
Indonesia rendah sebesar 60,08%, diikuti kategori sedang (2-3 kali) 29,52% dan&#13;
tinggi (≥ 4 kali) 10,40%. Selain itu sebagian besar anak berada pada kategori gizi&#13;
normal (84,41%), diikuti gizi kurang (11,23%), gizi buruk (2,29%), dan gizi lebih&#13;
(2,08%). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak adanya hubungan yang&#13;
signifikan antara probiotik dan status gizi anak (p=0,084). Analisis multivariat&#13;
menunjukkan bahwa konsumsi probiotik frekuensi sedang memiliki risiko gizi buruk&#13;
(RRR=3,59; p=0,083), gizi kurang (RRR=2,25; p=0,011), dan gizi lebih&#13;
(RRR=2,00; p=0,311), sedangkan frekuensi tinggi memiliki risiko gizi buruk&#13;
(RRR=4,19; p=0,133) dan gizi kurang (RRR=0,81; p=0,716) dibandingkan&#13;
frekuensi rendah. Namun hasil tersebut tidak signifikan secara statistik.&#13;
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara pemberian probiotik&#13;
dengan status gizi anak setelah dikontrol dengan variabel kovariat.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/65801</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
