<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Textile Engineering</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/48567</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2026 19:37:29 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-28T19:37:29Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Kinerja Operasional Mesin Air Jet Loom serta Penentuan Prioritas Penyebab Downtime akibat Putus Benang Lusi Menggunakan OEE, Fishbone, dan FMEA di Area Weaving PC GKBI</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66969</link>
<description>Analisis Kinerja Operasional Mesin Air Jet Loom serta Penentuan Prioritas Penyebab Downtime akibat Putus Benang Lusi Menggunakan OEE, Fishbone, dan FMEA di Area Weaving PC GKBI
Rossi, Damar Tamura
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja mesin Air Jet Loom (AJL)&#13;
di area weaving PC GKBI menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness&#13;
(OEE), Fishbone Diagram, dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA).&#13;
Pengukuran kinerja dilakukan terhadap 31 mesin Air Jet Loom (AJL) selama&#13;
periode 22 Januari 2026 sampai dengan 21 Februari 2026 berdasarkan data loading&#13;
time, downtime, output aktual, RPM, dan PPI yang diperoleh dari sistem monitor&#13;
mesin serta observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata&#13;
Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebesar 74,23%, masih berada di bawah&#13;
target perusahaan sebesar 95%. Rendahnya nilai OEE dipengaruhi oleh tingginya&#13;
downtime serta ketidakstabilan performa mesin selama proses produksi. Hasil&#13;
analisis downtime menunjukkan bahwa gangguan dominan berasal dari sistem&#13;
benang lusi, terutama gangguan rantas, putus lusi, dan lolos muncul. Analisis&#13;
Fishbone Diagram menunjukkan bahwa penyebab downtime berasal dari faktor&#13;
man, machine, method, material, dan environment, dengan faktor material dan&#13;
method sebagai penyebab dominan. Selanjutnya, hasil analisis FMEA menunjukkan&#13;
bahwa gangguan rantas memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi&#13;
sebesar 378, diikuti putus lusi sebesar 320 dan lolos muncul sebesar 252.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian, usulan perbaikan difokuskan pada pengendalian&#13;
kualitas benang lusi, evaluasi proses sizing, perbaikan jalur benang, penyesuaian&#13;
setting mesin, serta peningkatan pengawasan terhadap gangguan berulang.&#13;
Implementasi perbaikan tersebut diharapkan dapat mengurangi downtime dan&#13;
meningkatkan kinerja mesin Air Jet Loom (AJL) di area weaving PC GKBI.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66969</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perancangan produk tekstil rumah aromaterapi berbasis ampas kopi untuk pengguna insomnia menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66329</link>
<description>Perancangan produk tekstil rumah aromaterapi berbasis ampas kopi untuk pengguna insomnia menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD)
Ameylia, Ayu
Tingginya prevalensi gangguan tidur, khususnya insomnia ringan pada&#13;
mahasiswa, serta kebutuhan akan alternatif relaksasi non-farmakologis mendorong&#13;
pengembangan produk tekstil aromaterapi berbasis bahan alami. Penelitian ini&#13;
bertujuan merancang sarung bantal aromaterapi berbasis mikroenkapsulasi ampas&#13;
kopi dengan gelatin halal serta menganalisis efek relaksasi terhadap pengguna&#13;
insomnia menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Identifikasi&#13;
kebutuhan pengguna dilakukan melalui kuesioner terhadap 56 responden dan&#13;
diterjemahkan ke dalam spesifikasi teknis menggunakan House of Quality (HoQ).&#13;
Aroma kopi diekstraksi dari ampas kopi, kemudian diformulasikan menjadi&#13;
mikrokapsul menggunakan gelatin halal, gum arab, dan maltodekstrin, serta&#13;
diaplikasikan pada produk melalui sistem pouch refill dan spray aromaterapi.&#13;
Efektivitas produk dievaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan telah sesuai dengan&#13;
kebutuhan pengguna berdasarkan analisis QFD serta memberikan peningkatan&#13;
kondisi relaksasi pada responden setelah penggunaan, sehingga berpotensi menjadi&#13;
alternatif pendukung relaksasi dan kualitas tidur. Selain itu, penelitian ini&#13;
mendukung pemanfaatan limbah ampas kopi dan penggunaan material halal dalam&#13;
pengembangan tekstil fungsional.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66329</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Karakterisasi Serat Putri Malu (Mimosa pudica) Hasil Berbagai Metode Ekstraksi untuk Potensi Pengembangan Material Berbasis Serat Pendek</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/65499</link>
<description>Karakterisasi Serat Putri Malu (Mimosa pudica) Hasil Berbagai Metode Ekstraksi untuk Potensi Pengembangan Material Berbasis Serat Pendek
Hermawan, Ferry Fadli
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi terhadap&#13;
karakteristik serat batang Mimosa pudica yang meliputi fiber yield, diameter serat,&#13;
dan keuletan lentur sebagai potensi bahan baku tekstil alternatif. Metode ekstraksi&#13;
yang digunakan terdiri dari water retting, manual scraping, dan menggunakan&#13;
larutan NaOH 10%. Pengujian dilakukan terhadap nilai fiber yield, diameter serat&#13;
menggunakan mikroskop digital Omax M8372L, serta keuletan lentur&#13;
menggunakan Bending Test Apparatus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
metode ekstraksi memberikan perbedaan terhadap karakteristik serat yang&#13;
dihasilkan. Metode water retting menghasilkan fiber yield tertinggi sebesar 90,48%,&#13;
diikuti metode manual scraping sebesar 86,67%, sedangkan metode alkalisasi&#13;
NaOH 10% menghasilkan nilai terendah sebesar 79,17%. Pengujian diameter&#13;
menunjukkan bahwa serat hasil alkalisasi NaOH 10% memiliki diameter rata-rata&#13;
paling kecil, yaitu sekitar 0,0432–0,0551 mm, dibandingkan water retting sebesar&#13;
0,0602 mm dan manual scraping sebesar 0,0644 mm. Pada pengujian keuletan&#13;
lentur, nilai regangan lentur tertinggi diperoleh pada perlakuan alkalisasi NaOH&#13;
10% hari pertama dengan nilai εf sebesar 0,1124 dan persentase keuletan sebesar&#13;
11,24%, sedangkan nilai terendah diperoleh pada alkalisasi NaOH 10% hari ketujuh&#13;
sebesar 3,37%. Berdasarkan hasil penelitian, metode alkalisasi NaOH 10% mampu&#13;
menghasilkan serat yang lebih halus dan fleksibel, sedangkan metode water retting&#13;
menghasilkan fiber yield paling tinggi.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/65499</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pra-Rancangan Pabrik Kain Tenun Denim 100% Cotton dengan Kapasitas Produksi 1.000.000 m/Tahun</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/64672</link>
<description>Pra-Rancangan Pabrik Kain Tenun Denim 100% Cotton dengan Kapasitas Produksi 1.000.000 m/Tahun
Astuti, Wiwid Widhi
Denim factory with the raw material of cotton fiber with the capacities produce 1.000.000 metre/ year. Denim product by as 1.000.00 metre/year require the raw for warp yarn of equal to 308.258,51 kg/year and weft yarn of equal to 183.421 kg/year. This factory is planned will be founded in Klaten, Central Java. With ground area 7.200 m2 and need the employees 89 people. Pursuant to economic evaluation sum up the capital wich is needed to found this weaving denim factory equal to Rp. 13.169.664.293,00 with the detail of invesment of equal to Rp. 10.687.718.000,00 and working capital of equal to Rp. 2.481.946.293,00. Price sell the cloth / metre is Rp. 11.457,00. Return of Invesment (ROI) 33,9%, Break Event Point (BEP) 503.900 metre and percentage BEP 50,39 %, Shut Down Point (SDP) 6,48 %, and Pay Out Time (POT) in 2 year 11 month 12 days.
</description>
<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/64672</guid>
<dc:date>2012-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
