<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Master of Pharmacy</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/48161</link>
<description/>
<pubDate>Sun, 17 May 2026 18:11:41 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-17T18:11:41Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Potensi Peran Apoteker dalam Penggunaan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) untuk mendukung Keberhasilan Terapi Pasien Tuberkulosis di Puskesmas</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62365</link>
<description>Analisis Potensi Peran Apoteker dalam Penggunaan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) untuk mendukung Keberhasilan Terapi Pasien Tuberkulosis di Puskesmas
Ariyani
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota&#13;
Pagar Alam, Sumatera Selatan, dengan kasus TB yang melebihi target eliminasi&#13;
nasional. Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) di puskesmas seharusnya berperan&#13;
strategis dalam pencatatan dan pelaporan TB, namun pemanfaatannya belum&#13;
optimal, khususnya terkait keterlibatan apoteker dalam pengelolaan logistik obat&#13;
dan pemantauan terapi. Ketidakoptimalan ini dipengaruhi oleh kurangnya&#13;
kolaborasi lintas profesi, ketiadaan kebijakan formal, serta keterbatasan pelatihan&#13;
dan dukungan anggaran. Padahal, peran apoteker penting untuk meningkatkan&#13;
akurasi data, efektivitas pengelolaan obat, dan mutu pelayanan TB di puskesmas.&#13;
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi peran apoteker dalam SITB di&#13;
puskesmas, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi, dan menganalisis dampak&#13;
rendahnya penggunaan SITB terhadap pengelolaan obat dan pelayanan pasien TB.&#13;
Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus.&#13;
Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dan Focus&#13;
Group Discussion (FGD) dengan pengelola SITB di Dinas Kesehatan, apoteker,&#13;
pengelola program TB, dan kepala puskesmas. Validitas data dijamin melalui&#13;
triangulasi sumber, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Analisis&#13;
data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi apoteker dalam pemanfaatan&#13;
SITB di puskesmas belum terintegrasi optimal. Hambatan meliputi aspek human&#13;
(pelatihan terbatas, beban kerja tinggi), organisasi dan manajemen (koordinasi dan&#13;
dukungan manajemen minim), teknologi dan infrasruktur (perangkat dan jaringan&#13;
terbatas). Kondisi ini berdampak pada pengelolaan stok obat yang kurang efisien,&#13;
pelaporan yang tidak optimal, dan pengambilan keputusan yang belum sepenuhnya&#13;
berbasis data. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi peran apoteker dan&#13;
efektivitas SITB memerlukan kebijakan formal, peningkatan kompetensi dan&#13;
jumlah SDM, pelatihan berkelanjutan, integrasi sistem, dukungan infrastruktur,&#13;
kolaborasi lintas profesi, evaluasi rutin, dan insentif, untuk mendukung&#13;
keberhasilan program TB di puskesmas.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62365</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Formulasi dan Evaluasi Solid SNEDDS Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62041</link>
<description>Formulasi dan Evaluasi Solid SNEDDS Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera)
Cahyani, Ervita Dwi
Latar Belakang. Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung beragam senyawa bioaktif&#13;
potensial obat, tetapi kelarutannya yang rendah di air membatasi bioavailabilitasnya. Formulasi&#13;
SNEDDS dibuat untuk meningkatkan kelarutan dan ketersediaan hayati, tetapi kestabilannya&#13;
kurang memadai. Oleh karena itu, sediaan ini diubah menjadi bentuk solid-SNEDDS guna&#13;
menjaga stabilitas yang lebih baik.&#13;
&#13;
Tujuan. Penelitian ini bertujuan membuat sediaan ekstrak daun kelor dalam bentuk Self-&#13;
Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) dan bentuk padatnya (solid-SNEDDS).&#13;
&#13;
Metode. Ekstrak daun kelor diperoleh melalui maserasi, diformulasikan menjadi 4 formula&#13;
menggunakan minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan terpilih. SNEDDS dievaluasi meliputi&#13;
ukuran partikel dan stabilitas termodinamik. Formula terbaik dilanjutkan dengan pembuatan&#13;
solid-SNEDDS dengan metode spray drying menggunakan mannitol. Solid-SNEDDS&#13;
dikarakterisasi meliputi sifat alir, morfologi partikel, spektra infra merah, dan stabilitasnya.&#13;
Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terbaik dengan komposisi labrasol (50%)&#13;
&#13;
sebagai minyak; tween 80 (40%) sebagai surfaktan dan propilenglikol (10%) sebagai ko-&#13;
surfaktan merupakan sediaan yang terpilih. Formula ini menunjukkan ukuran partikel&#13;
&#13;
32,37±1,17 nm, indeks polidispersitas 0,56±0,04 dan zeta potensial -28,13±0,75 mV serta uji&#13;
stabilitas termodinamik menunjukkan tidak terjadi pemisahan fase pada sediaan. Karakterisasi&#13;
solid-SNEDDS menunjukkan sifat mikromeritik dengan sudut diam sebesar 37,47 ± 0,7°, bulk&#13;
density 0,35 ± 0,01 g/mL, tapped density 0,49 ± 0,02 g/mL, compressibility index 29 ± 1,4%,&#13;
serta rasio hausner 1,40 ± 0,02, morfologi amorf/semi-amorf (SEM, XRD), serta analisis FTIR&#13;
menunjukkan tidak terdapat pergeseran puncak serapan yang signifikan pada bilangan&#13;
gelombang utama, melainkan hanya terjadi perbedaan intensitas, yang mengindikasikan tidak&#13;
adanya interaksi kimia baru maupun pembentukan ikatan kovalen antara senyawa aktif dalam&#13;
ekstrak kelor dengan eksipien manitol. Uji stabilitas memperlihatkan partikel tetap pada skala&#13;
nanometer dengan homogenitas baik meski terdapat sedikit perubahan ukuran dan zeta&#13;
potensial.&#13;
Kesimpulan. SNEDDS dan solid-SNEDDS ekstrak daun kelor memiliki karakteristik&#13;
fisikokimia dan stabilitas yang baik.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62041</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Uji Sensitivitas dan Spesifitas Metode Tes Cepat Molekuler (Tcm) Dalam Mendiagnosis Mycobacterium Tuberculosis Pada Pasein Tb  Paru Di Puskesmas Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62029</link>
<description>Uji Sensitivitas dan Spesifitas Metode Tes Cepat Molekuler (Tcm) Dalam Mendiagnosis Mycobacterium Tuberculosis Pada Pasein Tb  Paru Di Puskesmas Tanjung Batu Kabupaten Ogan Ilir
Kurniawan, Robi
Tuberkulosis (TB) menjadi beban kesehatan global, 10,8 juta kasus dan 1,25 juta&#13;
kematian pada 2023 menurut WHO. Indonesia salah satu negara terdampak sekitar&#13;
10 % dari kasus global, dengan 724 000 kasus baru pada 2022 dan meningkat menjadi&#13;
809 000 pada 2023. Provinsi Sumatera Selatan ditemukan 54.892 kasus baru TB,&#13;
Kabupaten ogan ilir sebanyak 928 kasus baru. Metode diagnostik mikroskopi memiliki&#13;
kelemahan dalam deteksi dini dan resistensi obat. Tes Cepat Molekuler (TCM/Xpert&#13;
MTB/RIF) mampu deteksi TB dan resistensi rifampisin secara cepat dan akurat.&#13;
Strategi pengendalian TB harus memperkuat akses metode molekuler, integrasi dengan&#13;
skrining aktif, dan peningkatan deteksi resistensi. Penerapan TCM penting untuk&#13;
percepatan diagnosis dan terapi tepat waktu, mengurangi penularan, dan kematian.&#13;
Untuk mengetahui efektivitas, sensitivitas dan spesifisitas maka metode TCM&#13;
dibandingkan dengan metode gold standart dalam mendeteksi TB. Metode penelitian&#13;
Comparative Diagnostic Study, dengan desain Cross-sectional secara deskriptif,&#13;
periode pengambilan sampel dari oktober 2024 hingga April 2025, dengan melibatkan&#13;
pasien yang memenuhi kriteria inklusi 380 pasien. Sampel berupa dahak dan dianalisa&#13;
menggunakan metode mikroskopis dengan pewarnaan Ziehl Nelseen dan metode TCM&#13;
Xpert MTB/RIF. Hasil penelitian didapatkan metode TCM menunjukkan Sensitivitas&#13;
100 % (TP 33, FN 0), Spesifisitas tinggi 95,1 % (TN 330, FP 17), PPV 66 %, NPV&#13;
100 %, Akurasi total 95,5 %, dan FDR 34 %, LR+ 20,41 dan LR– 0 menunjukkan&#13;
kemampuan yang baik dalam rule-in dan rule-out TB. DOR tak terhingga (∞). Dapat&#13;
disimpulkan metode TCM yang ada di puskesmas Tanjung Batu memiliki performa&#13;
yang baik dan direkomendasikan sebagai metode skrining utama deteksi awal TB di&#13;
wilayah Kabupaten ogan ilir.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/62029</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Pioglitazone dibandingkan Glimepiride pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 BPJS Rawat Jalan di Rumah Sakit</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/61443</link>
<description>Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Pioglitazone dibandingkan Glimepiride pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 BPJS Rawat Jalan di Rumah Sakit
Zhahara, Kholida
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan&#13;
peningkatan kadar glukosa darah di dalam tubuh. DM membutuhkan terapi jangka&#13;
panjang sehingga dapat menimbulkan biaya medis yang besar. Penelitian ini&#13;
bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya penggunaan terapi antidiabetik oral&#13;
pioglitazone dibandingkan glimepiride pada pasien DM tipe 2 rawat jalan di RSI&#13;
Siti Hajar Mataram dan RSUD H. Moh. Roeslan Kota Mataram berdasarkan&#13;
perspektif rumah sakit.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan rancangan cross&#13;
sectional. Pengumpulan data secara retrospektif dan concurrent berupa dokumen&#13;
rekam medis dan data biaya pengobatan pasien DM tipe 2 rawat jalan pada periode&#13;
Mei-Agustus 2025. Analisis efektivitas biaya menggunakan rumus perhitungan&#13;
nilai Incremental Cost Effectiveness Analysis (ICER). Subjek penelitian ini adalah&#13;
pasien DM tipe 2 rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan&#13;
73 pasien mendapatkan pioglitazone monoterapi dan 49 pasien mendapatkan&#13;
glimepiride monoterapi, sementara 46 pasien mendapatkan kombinasi&#13;
pioglitazone-metformin dan 84 pasien mendapatkan glimepiride-metformin.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan terapi antidiabetik oral pioglitazone tunggal dan&#13;
&#13;
kombinasi glimepiride-metformin mencapai target terapi lebih besar masing-&#13;
masing 80,82% dan 78,57%. Pioglitazone tunggal dibandingkan glimepiride&#13;
&#13;
tunggal memiliki ICER sebesar Rp -1.573,63 dan kombinasi pioglitazone-&#13;
metformin dibandingkan kombinasi glimepiride-metformin memiliki ICER sebesar&#13;
&#13;
Rp -27.639,76. Berdasarkan nilai ICER dapat disimpulkan terapi pioglitazone&#13;
tunggal dianggap hemat biaya dibandingkan dengan glimepiride tunggal,&#13;
sedangkan kombinasi glimepiride-metformin dianggap hemat biaya dibandingkan&#13;
dengan kombinasi pioglitazone-metformin.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/61443</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
