<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>SAKAPARI 2016 #SERIES 1</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/42884</link>
<description/>
<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 11:21:47 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-23T11:21:47Z</dc:date>
<item>
<title>MULTIKULTURALISME ARSITEKTUR  DALAM PERSPEKTIF TEORI ASSEMBLAGE</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/43081</link>
<description>MULTIKULTURALISME ARSITEKTUR  DALAM PERSPEKTIF TEORI ASSEMBLAGE
Raharjo, Wiryono
Indonesia memiliki garis pantai 99,000 km - terpanjang di dunia setelah Kanada. Di sepanjang pantai itu berdiri kota-kota yang menjadi titik awal masuknya berbagai pengaruh budaya luar sejak ratusan tahun yang lalu. Di Jawa, selain kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya; Cirebon menjadi titik masuk penting pengaruh budaya luar, yang membentuk citra kota maritim tersebut sebagai kota hibrida dari aspek budaya. Ada warga Cina yang telah bermukim di Cirebon dan pantai utara Jawa (Pantura) sebelum kehadiran VOC, bahkan selain etnis Cina, Cirebon pada masa itu telah dihuni etnis India, Parsi, Siria, Arab, Sunda, Jawa, dan Sumatra, yang membuat karakter Cirebon makin multikultural (Solikhah, 2015). Ko-eksistensi beragam budaya tersebut juga dialami Bali sejak ratusan tahun silam. Sebagaimana ditulis oleh &#13;
Pigeaud dalam Nordholt (1992), kerajaan Majapahit telah melakukan invasi pada tahun 1343. Pada abad 17, pengaruh VOC di wilayah pesisir utara juga mulai terlihat. Namun catatan VOC menunjukkan bahwa Cina, Muslim, dan bahkan Spanyol serta Portugis telah hadir di Bali sebelum kedatangan VOC itu sendiri (Vickers, 1987). Semua peristiwa tersebut tentu berpengaruh terhadap eksistensi arsitektur di kawasan tersebut. Selain itu dalam perkembangannya, kehadiran globalisasi arsitektur di era modern - yang di klaim Hardy (2003) sebagai “nir-budaya” (cultureless) - tentu ikut memberikan kontribusi signifikan terhadap dinamika perubahan lansekap arsitektur di kota-kota tersebut. &#13;
Pertanyaan yang akan direspon oleh makalah ini adalah, bagaimana menjelaskan hubungan antara fenomena multikulturalisme tersebut dengan produksi arsitektur? Dimana posisi arsitek dalam konstelasi multikulturalisme tersebut? Penulis mencoba untuk menelaah fenomena tersebut menggunakan teori assemblage. Teori ini merupakan intepretasi kritis yang dilakukan oleh DeLanda (2007) dan beberapa cendekiawan lain (misalnya Dovey, 2010; Anderson et al, 2012) terhadap teori assemblage karya Deleuze dan Guattari (1987), yang secara khusus diarahkan untuk memahami kompleksitas hubungan sosial masyarakat dengan ruang kehidupannya.
</description>
<pubDate>Sat, 23 Jul 2016 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/43081</guid>
<dc:date>2016-07-23T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>DINAMIKA DAN KERAGAMAN PEMBENTUK IDENTITAS ARSITEKTURAL  PADA BANGUNAN BERSEJARAH DI BALI DAN CIREBON</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/43080</link>
<description>DINAMIKA DAN KERAGAMAN PEMBENTUK IDENTITAS ARSITEKTURAL  PADA BANGUNAN BERSEJARAH DI BALI DAN CIREBON
Santosa, Revianto Budi
</description>
<pubDate>Sat, 23 Jul 2016 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/43080</guid>
<dc:date>2016-07-23T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>MEMAHAMI MULTIKULTURALISME ARSITEKTUR INDONESIA: DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN BALI MENUJU WARISAN BUDAYA DUNIA</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/43079</link>
<description>MEMAHAMI MULTIKULTURALISME ARSITEKTUR INDONESIA: DESA TENGANAN PAGRINGSINGAN BALI MENUJU WARISAN BUDAYA DUNIA
Runa, I Wayan
</description>
<pubDate>Sat, 23 Jul 2016 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/43079</guid>
<dc:date>2016-07-23T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>IMPLEMENTASI LANGGAM ARSITEKTUR MELAYU PADA FACADE BANGUNAN SEBAGAI IDENTITAS KOTA PEKANBARU</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/43077</link>
<description>IMPLEMENTASI LANGGAM ARSITEKTUR MELAYU PADA FACADE BANGUNAN SEBAGAI IDENTITAS KOTA PEKANBARU
Hidayatullah, Riski
Era Globalisasi berpengaruh besar terhadap gaya arsitektur Melayu sehingga menginspirasi arsitek muda dalam merancang arsitektur kontemporer Melayu. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bangunan modern telah berfokus konsep desain mereka pada arsitektur Melayu, khususnya gedung-gedung pemerintah. Berbagai bentuk atap yang berasal dari rumah-rumah Melayu, seperti dari distrik Kuantan, Kampar, Pelalawan dan Pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan langgam arsitektur melayu dalam desain bangunan kontemporer di kota Pekanbaru. Identifikasi didasarkan pada dua variable yaitu bentuk atap dan style yang merefleksikan penggunaan elemen arsitektur melayu di kota Riau. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif yang menggambarkan penggunaan langgam arsitektur melayu &#13;
di kota Pekanbaru. Dari penelitian ini diketahui bahwa mayoritas desain fasade bangunan menggunakan langgam arsitektur melayu. Hasil studi juga mengidentifikasi perberbedaan antara facade bangunan milik pemerintah daerah dan bangunan milik swasta serta bangunan komersial dalam penggunaan langgam arsitektur melayu.
</description>
<pubDate>Sat, 23 Jul 2016 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/43077</guid>
<dc:date>2016-07-23T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
