<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Master of Management</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/31</link>
<description/>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2026 22:26:19 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-09-28T22:26:19Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Resistensi Non-User terhadap Adopsi Sepeda Motor Listrik di Indonesia: Peran Environmental Concern dan Incentive Policy dalam Kerangka Innovation Resistance Theory</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66763</link>
<description>Analisis Resistensi Non-User terhadap Adopsi Sepeda Motor Listrik di Indonesia: Peran Environmental Concern dan Incentive Policy dalam Kerangka Innovation Resistance Theory
Risdayanti
Indonesia memiliki populasi sepeda motor terbesar di Asia Tenggara, namun adopsi&#13;
sepeda motor listrik masih sangat rendah. Kelompok non-user individu yang belum&#13;
pernah menggunakan sepeda motor listrik menjadi populasi terbesar dan penentu&#13;
keberhasilan transisi energi, namun belum banyak diteliti secara komprehensif.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resistensi non-user terhadap adopsi sepeda&#13;
motor listrik dengan menggunakan kerangka Innovation Resistance Theory (IRT), serta&#13;
menguji peran environmental concern dan incentive policy sebagai variabel moderasi.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei terhadap 166&#13;
responden non-user di Indonesia. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–&#13;
Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usage&#13;
barrier, value barrier, dan risk barrier berpengaruh negatif signifikan terhadap&#13;
behavior intention, sementara environmental concern dan incentive policy berpengaruh&#13;
positif signifikan. Environmental concern terbukti memoderasi hubungan ketiga&#13;
hambatan dengan behavior intention, dengan arah positif pada usage barrier dan value&#13;
barrier namun negatif pada risk barrier. Sebaliknya, incentive policy tidak terbukti&#13;
memoderasi hubungan antara hambatan fungsional dengan behavior intention. Temuan&#13;
ini memperkaya literatur IRT dengan konteks negara berkembang dan memberikan&#13;
implikasi bahwa kebijakan insentif perlu dilengkapi dengan pendekatan non-finansial,&#13;
seperti pengembangan infrastruktur, jaminan kualitas produk, dan edukasi publik, untuk&#13;
mengatasi hambatan yang dirasakan kelompok non-user.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66763</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Perilaku Utang Berisiko: Analisis Faktor yang Memengaruhi Adopsi Paylater</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66723</link>
<description>Perilaku Utang Berisiko: Analisis Faktor yang Memengaruhi Adopsi Paylater
Rizqy, Rahmatin Sabila
Pertumbuhan PayLater membawa banyak perubahan pada proses konsumsi&#13;
masyarakat, termasuk keputusan untuk mengadopsi atau tidak mengadopsi&#13;
PayLater dalam jangka waktu yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menganalisis faktor yang memengaruhi adopsi jangka panjang PayLater dan juga&#13;
menguji faktor mediasi dari variabel sikap terhadap PayLater, penggunaan&#13;
PayLater, dan pembelian impulsif. Dengan metode purposive sampling, 256 data&#13;
partisipan diperoleh dan kemudian analisis dilakukan menggunakan Partial Least&#13;
Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Berdasarkan hasil penelitian,&#13;
ditemukan bahwa terdapat hubungan langsung antara perilaku utang berisiko, sikap&#13;
terhadap PayLater, dan penggunaan PayLater terhadap adopsi jangka panjang&#13;
PayLater. Sikap terhadap PayLater dan penggunaan PayLater juga memediasi&#13;
hubungan antara perilaku utang berisiko dan adopsi jangka panjang PayLater.&#13;
Namun, tidak ditemukan hubungan langsung maupun peran mediasi pembelian&#13;
impulsif terhadap hubungan perilaku utang berisiko dan adopsi jangka panjang&#13;
PayLater. Studi ini memberikan saran kepada penyedia layanan PayLater dan&#13;
pengambil kebijakan untuk memahami kondisi konsumen yang memicu adopsi&#13;
jangka panjang PayLater agar terhindar dari keputusan yang merugikan. Studi ini&#13;
berkontribusi pada literatur PayLater dalam konteks Indonesia yang masih terbatas&#13;
dan memberikan perspektif baru terkait perilaku utang berisiko dan adopsi jangka&#13;
panjang PayLater.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66723</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh hambatan inovasi dan kepercayaan terhadap loyalitas: Studi pada pengguna sepeda motor listrik di Yogyakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66319</link>
<description>Pengaruh hambatan inovasi dan kepercayaan terhadap loyalitas: Studi pada pengguna sepeda motor listrik di Yogyakarta
Nadiaturrahmi
Transisi menuju transportasi ramah lingkungan mendorong adopsi sepeda motor&#13;
listrik, namun tingkat penggunaannya masih relatif rendah akibat resistensi&#13;
konsumen terhadap inovasi. Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisis&#13;
pengaruh traditional barrier, image barrier, dan trust terhadap loyalitas pengguna&#13;
sepeda motor listrik di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta peran environmental&#13;
concern dan incentive policy sebagai variabel moderasi, dengan berlandaskan&#13;
Innovation Resistance Theory (IRT). Penelitian menggunakan pendekatan&#13;
kuantitatif eksplanatori. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari 400 responden&#13;
pengguna sepeda motor listrik yang dipilih dengan teknik purposive sampling, dan&#13;
dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares&#13;
(SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
traditional barrier (β = -0,235) dan image barrier (β = -0,277) berpengaruh negatif&#13;
dan signifikan terhadap loyalitas, di mana image barrier menjadi penghambat&#13;
loyalitas yang paling kuat, sedangkan trust (β = 0,360) berpengaruh positif dan&#13;
signifikan serta menjadi prediktor paling dominan. Environmental concern terbukti&#13;
memoderasi secara signifikan seluruh hubungan dalam model dengan&#13;
memperlemah dampak negatif hambatan sekaligus memperkuat dampak positif&#13;
kepercayaan, sebaliknya incentive policy tidak terbukti sebagai pemoderasi&#13;
meskipun memiliki pengaruh langsung yang positif terhadap loyalitas. Model&#13;
mampu menjelaskan 50,8% varians loyalitas (R2 adjusted = 0,508) dengan relevansi&#13;
prediktif yang baik (Q2 = 0,477). Secara teoretis, penelitian ini memperluas&#13;
penerapan IRT dari konteks niat adopsi ke loyalitas pasca-pembelian dan&#13;
membedakan peran moderator internal dan eksternal. Secara praktis, pembangunan&#13;
kepercayaan dan pengelolaan citra produk, serta optimalisasi kepedulian&#13;
lingkungan, lebih efektif dalam mempertahankan loyalitas dibandingkan insentif&#13;
finansial.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66319</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Digital Overload dan Perceived Digital Surveillance terhadap Job Performance pada Teleworkers: Peran Mediasi Technostress dan Moderasi Digital Organizational Culture</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66225</link>
<description>Pengaruh Digital Overload dan Perceived Digital Surveillance terhadap Job Performance pada Teleworkers: Peran Mediasi Technostress dan Moderasi Digital Organizational Culture
Irawati, Kurnia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh digital overload dan perceived digital&#13;
surveillance terhadap job performance dengan technostress sebagai variabel mediasi serta digital&#13;
organizational culture sebagai variabel moderasi pada teleworker di Daerah Istimewa Yogyakarta.&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data&#13;
melalui kuesioner. Sampel penelitian sebanyak 120 responden yang merupakan pekerja dengan&#13;
sistem kerja jarak jauh (teleworking). Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least&#13;
Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa digital overload tidak berpengaruh signifikan terhadap job&#13;
performance, namun berpengaruh positif dan signifikan terhadap technostress. Sementara itu,&#13;
perceived digital surveillance tidak berpengaruh signifikan terhadap job performance maupun&#13;
technostress. Selain itu, technostress tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap job&#13;
performance. Variabel digital organizational culture juga tidak mampu memoderasi hubungan&#13;
antara technostress dan job performance. Lebih lanjut, technostress tidak terbukti memediasi&#13;
hubungan antara digital overload maupun perceived digital surveillance terhadap job performance.&#13;
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks teleworking, faktor yang paling&#13;
berpengaruh adalah digital overload terhadap technostress, sedangkan faktor-faktor lainnya tidak&#13;
secara langsung memengaruhi kinerja. Hal ini mengindikasikan bahwa individu cenderung mampu&#13;
beradaptasi dengan tuntutan teknologi, sehingga dampaknya terhadap kinerja menjadi tidak&#13;
signifikan. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa organisasi perlu mengelola beban kerja&#13;
digital secara efektif untuk meminimalkan technostress, serta tidak hanya berfokus pada&#13;
pengawasan digital dalam meningkatkan kinerja karyawan.
</description>
<pubDate>Thu, 01 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/66225</guid>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
