<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Master of Chemistry</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/28812</link>
<description/>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 10:57:47 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-04-24T10:57:47Z</dc:date>
<item>
<title>Biochar Magnetik dari Kulit Pisang Kepok (Musa Acuminata Balbisiana Colla) sebagai Fotokatalis Pengolahan Zat Warna Rhodamin-B</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/61686</link>
<description>Biochar Magnetik dari Kulit Pisang Kepok (Musa Acuminata Balbisiana Colla) sebagai Fotokatalis Pengolahan Zat Warna Rhodamin-B
Rizky, Indah Tri
Telah dilakukan penelitian tentang biochar magnetic (MBC) dari kulit pisang kepok&#13;
(musa acuminata balbisiana colla) sebagai fotokatalis degradasi zat warna&#13;
rhodamin-B (RhB). Tujuan penelitian ini yaitu mengkaji karakteristik fisiokimia&#13;
serta peran biochar (BC) dan MBC sebagai fotokatalis dalam degradasi zat warna&#13;
RhB, serta membandingkan aktivitas kedua biochar ini. Sintesis MBC dilakukan&#13;
dengan metode pirolisis dengan campuran prekusor FeCl3•6H2O dan kulit pisang&#13;
pada suhu 600  ̊C selama 2 jam. Material dikarakterisasi menggunakan instrumen&#13;
XRD, FTIR, VSM, SEM, dan TEM. Berdasarkan hasil analisis dengan XRD,&#13;
diketahui bahwa terjadi pembentukan Fe2O3 menjadi α-Fe2O3, sedangkan analisis&#13;
dengan FTIR mengidentifikasikan keberadaan ikatan Fe–O pada bilangan&#13;
gelombang 470,78 cm−1. Analisis VSM menunjukkan nilai magnetisasi 1,91 emu/g,&#13;
yang menggambarkan sifat feromagnetik yang kuat pada MBC. Hasil SEM&#13;
memperlihatkan distribusi partikel Fe yang merata di permukaan BC, dan TEM&#13;
menunjukkan ukuran partikel MBC berada pada skala nanometer dengan rata-rata&#13;
82,54 nm. Uji fotokatalisis menunjukkan bahwa BC dan MBC mampu&#13;
mendegradasi RhB efisiensi yang tinggi. Pada RhB 20 ppm, BC dan MBC mampu&#13;
mendegradasi sebesar 99,01 % dan 99,17 %. Pada konsentrasi H2O2 (0,03–0,1 mL),&#13;
MBC menunjukkan efisiensi degradasi hingga 98,85 %. Secara keseluruhan,&#13;
penggunaan MBC memberikan aktivitas fotokatalitik yang lebih baik dibandingkan&#13;
BC. Selain itu, hasil evaluasi menggunakan AGREE menunjukkan bahwa metode&#13;
sintesis, karakterisasi, dan aplikasi fotokatalitik BC magnetik telah memenuhi&#13;
prinsip Green Analytical Chemistry dengan skor 0,73, yang menandakan bahwa&#13;
metode ini ramah lingkungan dan masih dapat dioptimalkan.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/61686</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Biosintesis Tio2/g-c3n4 dan SnO2/g-c3n4 Menggunakan Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) Sebagai Fotokatalis Untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah Dan Degradasi Limbah Batik</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/61505</link>
<description>Biosintesis Tio2/g-c3n4 dan SnO2/g-c3n4 Menggunakan Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa L.) Sebagai Fotokatalis Untuk Produksi Biodiesel dari Minyak Jelantah Dan Degradasi Limbah Batik
Salwa, Izzaty Fauziya
Nanokomposit TiO2/g-C3N4 dan SnO2/g-C3N4 berhasil disintesis secara&#13;
hijau menggunakan ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) sebagai agen&#13;
pereduksi dan penstabil alami. Hasil XRD menunjukkan fase anatase (TiO2) dan&#13;
rutile tetragonal (SnO2) dengan pola semi-kristalin khas g-C3N4. Spektrum FTIR&#13;
memperlihatkan pita serapan 565 cm−1 (Sn–O), 669 cm−1 (Ti–O), 810 cm−1&#13;
(heptazin g-C3N4), dan 1237 cm−1 (C–N), menandakan pembentukan&#13;
heterojunction. Morfologi dari TEM menunjukkan partikel sferis berdistribusi&#13;
merata dengan ukuran 21,8 nm untuk SnO2/g-C3N4 dan 25,6 nm untuk TiO2/g-C3N4.&#13;
Analisis EDX mengonfirmasi komposisi unsur utama Ti, Sn, C, N, dan O,&#13;
sedangkan data BET menunjukkan luas permukaan 119,858 m2/g (SnO2/g-C3N4)&#13;
dan 81,176 m2/g (TiO2/g-C3N4). Nilai band gap berdasarkan DRS-UV-Vis sebesar&#13;
2,67 eV dan 2,64 eV yang memperluas aktivitas di cahaya tampak. Pada aplikasi&#13;
biodiesel, konversi FAME optimum dicapai oleh TiO2/g-C3N4 sebesar 100% dan&#13;
SnO2/g-C3N4 sebesar 97%, dengan komponen utama metil oleat (47%) dan metil&#13;
palmitat (40%) terdeteksi melalui GC-MS. Pada aplikasi degradasi zat warna naftol&#13;
merah limbah batik, efisiensi optimum mencapai 99% untuk SnO2/g-C3N4 dan 98%&#13;
untuk TiO2/g-C3N4 pada pH 4 selama 120 menit di bawah cahaya tampak. Secara&#13;
keseluruhan, kedua nanokomposit hasil biosintesis rosella menunjukkan kestabilan&#13;
tinggi, ukuran partikel kecil, serta performa fotokatalitik yang efektif untuk aplikasi&#13;
energi terbarukan dan pengolahan limbah.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/61505</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Sintesis Nanopartikel Perak menggunakan Bioreduktor Eugenol sebagai Antibakteri Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/61466</link>
<description>Sintesis Nanopartikel Perak menggunakan Bioreduktor Eugenol sebagai Antibakteri Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli
Rahmawati, Karunia
Telah dilakukan penelitian yang berjudul sintesis nanopartikel perak menggunakan bioreduktor eugenol sebagai antibakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Tujuan dari penelitian ini sintesis, karakterisasi nanopartikel perak menggunakan eugenol dengan  metode reduksi kimia serta aplikasinya untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Struktur eugenol mengandung fenol yang membantu mereduksi suatu perkusor, sehingga eugenol dapat digunakan sebagai bahan bioreduktor dalam sintesis nanopartikel perak. Sintesis nanopartikel perak dilakukan dengan memanaskan campuran eugenol dan etanol sebanyak 21,20 gram dengan larutan AgNO3 1400 ppm menggunakan magnetik stirrer selama 20 menit dengan suhu reaksi 60 0C pada pH 6. Parameter yang dilakukan antara lain variasi waktu penyimpanan, konsentrasi AgNO3, volume eugenol, waktu, suhu dan pH reaksi. Material hasil sintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan instrumen seperti Spektrofotometer UV-Vis, FTIR, PSA, dan TEM. Nanopartikel perak setelah dikarakterisasi diuji efektivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian sintesis nanopartikel perak menunjukkan bahwa rentang panjang gelombang yang dihasilkan adalah 411-467 nm pada semua variasi. Hasil sintesis AgNPs berbentuk bulat, dengan ukuran rata-rata 65.6 nm dan nilai PI &lt; 0.5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa AgNPs memiliki efektivitas sebagai antibakteri yang baik, dengan kemampuan daya hambat yang kuat pada rentang 12.7-13.4 mm.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/61466</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Uji Aktivitas Sitotoksisitas dan Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Houttuynia cordata (Amis-amisan) serta Analisis Metabolomik  Menggunakan UHPLC-HRMS</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/59611</link>
<description>Uji Aktivitas Sitotoksisitas dan Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Houttuynia cordata (Amis-amisan) serta Analisis Metabolomik  Menggunakan UHPLC-HRMS
Rumiki, Aida Putri Mawaddah
H. cordata merupakan tanaman herbal yang memiliki potensi sitotoksisitas dan&#13;
antibakteri karena kandungan senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi&#13;
aktivitas sitotoksisitas dan antibakteri dari ekstrak serta fraksi H. cordata dengan&#13;
metode difusi cakram terhadap S. aureus dan E. coli, serta metode MTT assay pada sel&#13;
kanker A549, HeLa, MG-63, dan sel normal HDFa. Analisis metabolomik dilakukan&#13;
menggunakan UHPLC-HRMS. Hasil uji antibakteri menunjukkan ekstrak etanol&#13;
rimpang dan daun H. cordata hanya memiliki aktivitas lemah terhadap S. aureus.&#13;
Fraksi etil asetat (EtOAc) tidak memperlihatkan zona hambat yang signifikan,&#13;
sedangkan fraksi n-heksana menunjukkan aktivitas lemah. Aktivitas tertinggi&#13;
ditunjukkan oleh fraksi metanol (MeOH), khususnya fraksi daun dengan kategori kuat&#13;
terhadap E. coli pada konsentrasi 10% (13,567 ± 2,902 mm) dan 5% (10,633 ± 1,365&#13;
mm), serta kategori sedang pada 2%. Fraksi MeOH rimpang juga menunjukkan&#13;
aktivitas sedang terhadap S. aureus. Pada uji sitotoksisitas, ekstrak rimpang dan daun&#13;
tidak menunjukkan aktivitas sitotoksik. Fraksi EtOAc rimpang memiliki aktivitas&#13;
&#13;
sedang terhadap sel HeLa (IC50 = 145,59 μg/mL), tetapi lemah terhadap A549 dan MG-&#13;
63. Fraksi n-heksana rimpang tidak aktif, sementara n-heksana daun hanya lemah&#13;
&#13;
terhadap sel HeLa. Fraksi MeOH rimpang menunjukkan aktivitas lemah terhadap sel&#13;
HeLa, sedangkan fraksi daun tidak aktif pada ketiga sel kanker. Selain itu, profil&#13;
&#13;
metabolit mengidentifikasi senyawa yang menunjukkan bahwa p-cymene, (-)-β-&#13;
Caryophyllene oxide, 5-Hydroxymethyl-2-furaldehyde, geranyl acetate, quercetin,&#13;
&#13;
quercitrin, dan phytol memiliki aktivitas antibakteri, sementara senyawa yang memiliki&#13;
potensi sitotoksisitas yaitu citral, piperolactam A, laurylaldehyde, dan 2-undecanone.&#13;
Dengan demikian, H. cordata berpotensi dikembangkan sebagai kandidat bahan baku&#13;
antikanker dan antibakteri.
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jan 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://hdl.handle.net/123456789/59611</guid>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
