<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/59">
<title>Informatics Engineering</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/59</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63119"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63066"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63052"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63025"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-02T11:03:14Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63119">
<title>Improving Detection of Similarly Designed Retail Products With Size Variants</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63119</link>
<description>Improving Detection of Similarly Designed Retail Products With Size Variants
P.S, Ganendra Raditya
Retail environments require accurate and consistent shelf monitoring to support inventory&#13;
management and planogram compliance. However, manual inspection remains inefficient and&#13;
error-prone, particularly in modern grocery stores that contain thousands of Stock Keeping&#13;
Units (SKUs). As a result, automated vision-based monitoring systems have been increasingly&#13;
adopted to replace manual shelf inspection and improve scalability. Moreover, a persistent&#13;
challenge in automated retail monitoring systems arises when product variants from the same&#13;
brand share nearly identical packaging designs and differ only in weight or grammage. In such&#13;
fine-grained scenarios, object detection models frequently confuse product variants, leading to&#13;
&#13;
unreliable inventory data and missed detections. This research addresses the problem of fine-&#13;
grained retail product detection under real-world constraints, where data scarcity and class&#13;
&#13;
imbalance limit the effectiveness of deep learning models. To mitigate these challenges, an&#13;
optimization-driven detection pipeline is proposed, integrating systematic hyperparameter&#13;
tuning, dataset-level context-aware augmentation, and ensemble model post-processing. Two&#13;
complementary object detection architectures, YOLOv12 and Faster R-CNN are employed to&#13;
capture diverse feature representations. Model training is optimized using hierarchical&#13;
hyperparameter tuning with the Optuna Tree-Structured Parzen Estimator (TPE), while data&#13;
limitations are addressed through Context-Aware Copy-Paste augmentation. Furthermore,&#13;
prediction outputs are fused using Weighted Boxes Fusion (WBF) to improve detection&#13;
consistency. Experimental evaluation on real-world retail shelf images demonstrates that the&#13;
proposed pipeline reduces error rates compared to baseline detection configurations. Analysis&#13;
using confusion matrices shows a reduction in misclassification among product variants. These&#13;
findings indicate that combining architecture diversity, systematic optimization, data-centric&#13;
augmentation, and ensemble model provides a solution for fine-grained retail product detection&#13;
in data-limited retail environments.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63066">
<title>Penerapan Steganografi Video menggunakan Algoritma Least Significant Bit (LSB) dan Advanced Encryption Standard (AES) untuk Keamanan Data</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63066</link>
<description>Penerapan Steganografi Video menggunakan Algoritma Least Significant Bit (LSB) dan Advanced Encryption Standard (AES) untuk Keamanan Data
Hafiz, Muhammad
Penelitian ini mengintegrasikan teknik steganografi Least Significant Bit (LSB) dan&#13;
kriptografi Advanced Encryption Standard (AES) untuk meningkatkan keamanan pertukaran&#13;
informasi pada media video digital. Menggunakan bahasa pemrograman Python, sistem ini&#13;
dirancang untuk menyembunyikan pesan teks yang telah terenkripsi ke dalam frame video&#13;
secara imperseptibel. Pendekatan eksperimen terapan digunakan untuk mengevaluasi&#13;
efektivitas sistem dalam menjaga kerahasiaan data tanpa menyebabkan degradasi visual yang&#13;
signifikan pada media penampung (cover).&#13;
Hasil pengujian menunjukkan bahwa integrasi AES dan LSB berhasil diimplementasikan&#13;
&#13;
dengan tingkat akurasi ekstraksi pesan yang sempurna. Berdasarkan parameter Peak Signal-to-&#13;
Noise Ratio (PSNR), video steganografi yang dihasilkan memiliki nilai rata-rata berkisar antara&#13;
&#13;
61,67 dB hingga 106,60 dB, yang secara signifikan melampaui ambang batas standar kelayakan&#13;
40 dB. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem mampu mempertahankan kualitas visual yang&#13;
tinggi sehingga perubahan pada video tidak dapat dideteksi oleh indra penglihatan manusia.&#13;
Selain itu, penggunaan enkripsi AES terbukti memberikan lapisan keamanan yang kuat, di&#13;
mana pesan rahasia tetap terlindungi dan hanya dapat dipulihkan melalui kunci dekripsi yang&#13;
tepat.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63052">
<title>Deteksi dan Klasifikasi Serangan Jaringan Smart City Menggunakan Federated Learning</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63052</link>
<description>Deteksi dan Klasifikasi Serangan Jaringan Smart City Menggunakan Federated Learning
Ikhsan, Rian Nur
Perkembangan teknologi digital mendorong implementasi konsep smart city yang&#13;
mengandalkan jaringan IoT untuk meningkatkan efisiensi layanan publik. Namun,&#13;
kompleksitas jaringan ini meningkatkan risiko serangan siber yang dapat mengganggu layanan&#13;
kritis. Penelitian ini mengkaji penerapan Federated Learning (FL) sebagai pendekatan&#13;
terdistribusi untuk membangun Network Intrusion Detection System (NIDS) tanpa&#13;
&#13;
memusatkan data mentah, sehingga privasi tetap terjaga. Dataset yang digunakan adalah ToN-&#13;
IoT, dengan simulasi distribusi data IID (Independent and Identically Distributed) dan Non-&#13;
IID menggunakan Dirichlet untuk merepresentasikan heterogenitas antar client. Dua algoritma&#13;
&#13;
FL, yaitu Federated Averaging (FedAvg) dan Federated Proximal (FedProx), dibandingkan&#13;
pada dua arsitektur deep learning: Multi-Layer Perceptron (MLP) dan Convolutional Neural&#13;
Network 1D (CNN-1D), untuk skenario klasifikasi biner dan multi-kelas.&#13;
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa FedProx lebih stabil pada kondisi Non-IID&#13;
dibanding FedAvg, meskipun dengan biaya komputasi lebih tinggi. CNN-1D memberikan&#13;
performa lebih baik daripada MLP, terutama pada skenario multi-kelas, dengan peningkatan&#13;
akurasi dan F1-Score yang signifikan. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan FedProx&#13;
dengan CNN-1D untuk lingkungan smart city yang heterogen, karena mampu menjaga&#13;
stabilitas pelatihan dan akurasi deteksi serangan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63025">
<title>Eksplorasi Blockchain, Smart Contract, dan IPFS Untuk pengembangan Sistem Kependudukan Terdesentralisasi</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63025</link>
<description>Eksplorasi Blockchain, Smart Contract, dan IPFS Untuk pengembangan Sistem Kependudukan Terdesentralisasi
Jakaria, Satria Avecinna Azzra
Penelitian ini mengeksplorasi potensi pemanfaatan teknologi blockchain beserta ekosistem&#13;
pendukungnya, yaitu smart contract dan InterPlanetary File System (IPFS), dalam konteks&#13;
pengelolaan data kependudukan dengan studi kasus layanan administrasi kependudukan di&#13;
tingkat kalurahan. Eksplorasi ini dilatarbelakangi oleh karakteristik sistem kependudukan&#13;
konvensional yang masih bersifat terpusat, bergantung pada proses verifikasi manual, serta&#13;
memiliki keterbatasan dalam aspek transparansi, keterlacakan, dan pengelolaan data digital&#13;
yang aman.&#13;
Metodologi penelitian menggunakan pendekatan rekayasa perangkat lunak dengan model&#13;
pengembangan Waterfall yang meliputi tahap analisis kebutuhan, perancangan arsitektur,&#13;
implementasi purwarupa, dan pengujian. Sistem dikembangkan dalam bentuk aplikasi&#13;
terdesentralisasi (decentralized application/dApp) untuk mengkaji bagaimana smart contract&#13;
dapat digunakan sebagai mekanisme pencatatan transaksi, pengendalian akses berbasis peran,&#13;
serta pengelolaan alur verifikasi berlapis. Penyimpanan dokumen kependudukan dilakukan&#13;
secara off-chain menggunakan IPFS, dengan Content Identifier (CID) dicatat pada blockchain&#13;
guna mengevaluasi integritas dan keterhubungan data antara lapisan on-chain dan off-chain.&#13;
Hasil pengujian menunjukkan bahwa mekanisme pengajuan permohonan, verifikasi&#13;
bertingkat oleh kalurahan dan Dukcapil, serta penyimpanan dan pengambilan dokumen&#13;
terenkripsi melalui IPFS dapat dijalankan secara konsisten sesuai dengan rancangan. Selain itu,&#13;
pencatatan event on-chain memungkinkan terbentuknya jejak audit digital yang transparan dan&#13;
tidak dapat dimodifikasi. Temuan ini memberikan gambaran empiris mengenai karakteristik&#13;
teknis, performa, serta implikasi penerapan arsitektur terdesentralisasi dalam konteks layanan&#13;
publik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi awal dalam kajian pengembangan&#13;
sistem administrasi kependudukan berbasis teknologi terdesentralisasi di Indonesia.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
