<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/56647">
<title>Faculty of Psychology</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/56647</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63128"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63126"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63125"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63116"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-03T07:01:49Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63128">
<title>Tinjauan Cultural Intelligence (CQ) terhadap Social Adjustment pada Mahasiswa Baru Tahun Pertama di Universitas</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63128</link>
<description>Tinjauan Cultural Intelligence (CQ) terhadap Social Adjustment pada Mahasiswa Baru Tahun Pertama di Universitas
Mudzkiyyah, Lainatul
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada hubungan antara kecerdasan berbudaya (CO) dengan penyesuaian sosial pada mahasiswa baru tahun pertama di universitas. Hipotesis awal yang digunakan adalah ada hubungan positif antara kecerdasan berbudaya (CO) dengan penyesuaian sosial pada mahasiswa baru tahun pertama di universitas. Artinya, semakin tinggi CQ yang dimiliki mahasiswa baru tahun pertama di universitas maka semakin tinggi pula penyesuaian sosialnya; sebaliknya, semakin rendah CQ yang dimiliki mahasiswa baru tahun pertama di universitas maka semakin rendah pula penyesuaian sosialnya. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa baru S1 tahun pertama Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode skala, Skala CQ mengacu pada aspek yang dikemukakan oleh Dyne (2008), Skala CQ berjumlah 13 aitem, dengan indeks diskriminasi aitem mulai dari 0,313 sampai 0,560 dengan koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,789. Skala penyesuaian sosial mengacu pada aspek teori yang dikemukakan oleh Schneiders (1946). Skala penyesuaian sosial berjumlah 31 aitem dengan indeks diskriminasi mulai dari 0,311 sampai 0,555 dan koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,863. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment spearman dengan dibantu program SPSS versi 17 for windows menunjukkan r = 0,307; p 0,000 (p&lt;0,01). Hasil analisis data penelitian menunjukkan ada hubungan positif antara kecerdasan berbudaya (CO) dengan penyesuaian sosial pada mahasiswa baru tahun pertama di universitas. Dari data di atas, maka dinyatakan hipotesis diterima.
</description>
<dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63126">
<title>Kehidupan Perempuan Pelaku Salon "Plus" di Wilayah Yogyakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63126</link>
<description>Kehidupan Perempuan Pelaku Salon "Plus" di Wilayah Yogyakarta
Ratnawati, Dwi
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bertujuan untuk mengkaji kehidupan pelacuran yaitu dari proses dari mereka berkenalan sampai bersentuhan dengan dunia pelacuran. Jenis penelitian bersifat deskriptif, dengan metode pendekatan kualitatif dimana penelitian ini terbatas pada pengungkapan suatu masalah atau peristiwa sebagaimana adanya dan sekadar untuk mengungkapkan fakta sehingga hasilnya adalah ditekankan pada penggambaran secara obyektif atau apa adanya tentang obyek yang diteliti. Subjek penelitian ini yang digunakan pada penelitian ini adalah perempuan pelaku salon plus. Pemilihan subjek penelitian dilakukan secara nonprobalitias sampling menggunakan metode snow ball sampling. Snow ball sampling merupakan metode sampling dimana responden awal dipilih berdasarkan metode probabilitas kemudian responden awal diminta untuk memberikan informasi mengenai rekan- rekan lainnya sehingga diperoleh lagi responden tambahan. Terdapat beberapa dimensi yang faktor-faktor melatar belakangi pelacuran dalam praktek salon plus di wilayah Yogyakarta, yaitu alasan utama mengapa salon tersebut menyediakan layanan plus adalah ekonomi meskipun terdapat beberapa faktor pendorong lain misalkan rasa sakit hati terhadap perkawinan yang gagal, hubungan mereka dengan sesama pegawai umumnya diwarnai persaingan. Hal ini dilihat dari upaya untuk memamerkan pelanggan setia serta barang yang telah mereka miliki. Sementara hubungan mereka dengan lingkungan masyarakat sekitar umumnya sangat terbatas. Mereka beranggapan bahwa masyarakat menilai rendah pekerjaan mereka sehingga membatasi kepercayaan diri untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Cara mereka untuk menarik pelanggan sangat berbeda satu dengan yang lain. Salah satu faktor yang menyebabkan perbedaan antara pekerja dengan pekerja salon plus lainnya dalam hal menarik pelanggan adalah usia. Dapat dikatakan bahwa semakin menarik potensi yang dimiliki oleh PSK dalam menarik pelanggan untuk menikmati jasanya maka semakin sedikit intensitas penggunaan komunikasi verbalnya. Sebagai seorang pekerja salon plus, baik pada responden satu dan dua menyatakan bahwa masing-masing dari mereka menyadari bahwa mereka tidak mungkin selamanya bisa bekerja.
</description>
<dc:date>2009-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63125">
<title>Dampak Perilaku Bermain Game Online terhadap Manajemen Waktu Mahasiswa: Suatu Studi Kasus</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63125</link>
<description>Dampak Perilaku Bermain Game Online terhadap Manajemen Waktu Mahasiswa: Suatu Studi Kasus
Khuzaini, Wira
Penelitian Kualitatif ini bertujuan untuk (1) Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan seorang mahasiswa mengambil keputusan untuk melakukan aktifitas bermain Game Online (2) Proses yang terjadi serta dampak yang ditimbulkan selama bermain Game Online (3) Dampak manajemen waktu terhadap mahasiswa yang bermain Game Online. Responden penelitian yang digunakan sebanyak satu orang, status sebagai mahasiswa yang aktif bermain Game Online dengan intesitas bermain minimal 4 jam, berusia 20 hingga 25 tahun, beromisili di Yogyakarta, dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Metode pengambilan data yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan pedomaan wawancara sebagai panduan percakapan. Metode analisis data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, transkrip verbatim, pembuatan tema yang kemudian akan dilanjutkan faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa mengambil keputusan manajemen waktu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa alasan yang mendasari seseorang bermain game terbagi menjadi faktor Eksternal dan Internal. Pengambilan keputusan manajemen waktu diakibatkan dari dampak yang ditimbulkan selama bermain Game Online.
</description>
<dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63116">
<title>Kebersyukuran Sebagai Mediator Peran Kepemimpinan Profetik Terhadap Kesejahteraan Karyawan</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63116</link>
<description>Kebersyukuran Sebagai Mediator Peran Kepemimpinan Profetik Terhadap Kesejahteraan Karyawan
Fauzan, Dzaky Muhammad
Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kebersyukuran sebagai mediator peran&#13;
kepemimpinan profetik terhadap kesejahteraan karyawan. Hipotesis mayor&#13;
penelitian ini adalah kebersyukuran akan memediasi peran kepemimpinan profetik&#13;
terhadap kesejahteraan karyawan. Hipotesis minor penelitian ini adalah&#13;
kepemimpinan profetik akan berperan positif terhadap kesejahteraan karyawan,&#13;
kepemimpinan profetik akan berperan positif terhadap kebersyukuran karyawan,&#13;
dan kebersyukuran akan berperan positif terhadap kesejahteraan karyawan.&#13;
&#13;
Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 72 karyawan (40 perempuan, 32 laki-&#13;
laki) suatu perusahaan food and beverage (F&amp;B) di Magelang. Instrumen&#13;
&#13;
pengukuran yang digunakan meliputi Prophetic Leadership Scale (PLS), Islamic&#13;
Gratitude Scale (IGS-10), dan Employee Well-Being Scale (EWBS). Hasil analisis&#13;
mediasi menunjukkan bahwa kebersyukuran terbukti menjadi mediator penuh bagi&#13;
peran kepemimpinan profetik terhadap kesejahteraan karyawan, ditunjukkan oleh&#13;
peran tidak langsung yang signifikan (estimate = 0,1532; Z = 3,66; p &lt; 0,001).&#13;
Karyawan yang mempersepsikan pemimpinnya menerapkan nilai-nilai profetik&#13;
seperti sidik, amanah, tablig, dan fatanah memiliki tingkat kebersyukuran yang&#13;
lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraannya. Temuan ini&#13;
memiliki implikasi praktis yang penting, yaitu organisasi di sektor F&amp;B dapat&#13;
meningkatkan kesejahteraan karyawan melalui penguatan praktik kepemimpinan&#13;
profetik dan pengembangan kebersyukuran sebagai sumber daya psikologis di&#13;
tempat kerja.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
