<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/55">
<title>Pharmacy</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/55</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63121"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63112"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/62933"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/62925"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-03T03:12:34Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63121">
<title>Analisis Biaya dan Gambaran Terapi Pasien Gagal Jantung sebagai Pertimbangan dalam Penerapan INA-CBGs Jaminan Kesehatan Nasional di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63121</link>
<description>Analisis Biaya dan Gambaran Terapi Pasien Gagal Jantung sebagai Pertimbangan dalam Penerapan INA-CBGs Jaminan Kesehatan Nasional di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Agustina, Fitria Nur
Gagal jantung merupakan masalah yang sering diklaimkan pada pihak asuransi dan membutuhkan biaya banyak untuk terapinya dibanding diagnosis lain. Pada pelaksanaan asuransi kesehatan, masalah sering terjadi adalah adanya perbedaan biaya riil dengan tarif klaim INA-CBG’s yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran terapi dan biaya, serta besarnya perbedaan biaya riil dengan tarif INA-CBG’s dan LOS sebelum dan setelah diterapkannya JKN. Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional menurut perspektif rumah sakit. Subjek penelitian adalah pasien gagal jantung peserta Jamkesmas dan JKN yang menjalani rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari catatan medik pasien dan unit teknologi informasi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode September–Desember 2013 (Jamkesmas) dan Januari–April 2014 (JKN). Analisis statistik One Sample T-test untuk membandingkan rata-rata biaya riil dengan tarif INA-CBG’s dan Independent T-test digunakan untuk membandingkan rata-rata biaya riil dan LOS sebelum dan setelah diterapkannya JKN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat yang paling banyak digunakan untuk terapi gagal jantung adalah golongan diuretik sebesar 94,44% (Jamkesmas) dan 97,92% (JKN). Terdapat ketidaksesuaian rata-rata biaya riil dengan tarif klaim INA-CBG’s pada pasien Jamkesmas keparahan I dan JKN kelas 3 keparahan III, serta tidak terdapat perbedaan lama rawat inap pasien gagal jantung pada semua tingkat keparahan sebelum dan setelah diterapkannya JKN yang dibuktikan dengan nilai p&gt;0,05.
</description>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63112">
<title>Penetapan Kadar Aspartam dan Asesulfam-K pada Minuman Kemasan Berperisa dengan Metode KCKT Fase Terbalik</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63112</link>
<description>Penetapan Kadar Aspartam dan Asesulfam-K pada Minuman Kemasan Berperisa dengan Metode KCKT Fase Terbalik
Rosita, Melia Eka
Badan standarisasi internasional European Commite for Standarization (CEN) merekomendasikan KCKT sebagai metode analisis pemanis buatan karena memiliki daya pemisahan yang baik, cepat, selektif dan kepekaan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk verifikasi metode analisis aspartam dan asesulfam-K di dalam produk minuman kemasan berperisa dan memastikan kadar Aspartam dan asesulfam-K yang ditambahkan memenuhi syarat Badan POM. Analisis sistem dilakukan dengan menggunakan kolom C18 (10 μm; 300 mm x 3,9 mm), detektor UV-Vis 220 nm, dan menggunakan komposisi fase gerak asetonitril : bufer fosfat (20:80), volume injeksi 10 μL, dan flow rate 1 mL per menit. Linieritas kurva baku yang dihasilkan menunjukkan nilai yang baik r&gt; 0,99995-0.99998. Metode analisis yang digunakanmemiliki verifikasi yang baik. Metode analisis menunjukkan akurasi yang baik, persen recovery pada rentang 90,83–103,97%, presisi untuk aspartam dan asesulfam-K masing-masing 0,39% dan 0,21%. Kadar pemanis yang diperoleh dalam sampel untuk aspartam dan asesulfam-K yaitu sebesar 184,90 mg/kg dan 119,53 mg/kg. Kadar aspartam dan asesulfam-K yang diperoleh tidak melebihi batas maksimal yang diizinkan oleh Badan POM, yakni 600 mg/kg produk untuk aspartam dan 500 mg/kg produk untuk asesulfam-K.
</description>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/62933">
<title>Analisis Potensi Peran Apoteker dalam Penggunaan Sistem Informasi Kesehatan Jiwa (Simkeswa) untuk Mendukung Keberhasilan Terapi Pasien Skizofrenia di Puskesmas</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62933</link>
<description>Analisis Potensi Peran Apoteker dalam Penggunaan Sistem Informasi Kesehatan Jiwa (Simkeswa) untuk Mendukung Keberhasilan Terapi Pasien Skizofrenia di Puskesmas
Safriani
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 melaporkan prevalensi&#13;
gangguan jiwa skizofrenia di Sumatera Selatan sebesar 8,05%, dan prevalensi di&#13;
Kota Pagar Alam sebesar 2,45%. Apoteker sebagai penanggung jawab ruang&#13;
farmasi puskesmas, bertanggung jawab penuh atas pengelolaan obat psikofarmaka&#13;
mulai perencanaan hingga pelaporan, serta pelayanan farmasi klinik demi&#13;
menjamin mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan rasionalitas penggunaan obat.&#13;
Adanya Sistem Informasi Kesehatan Jiwa (SIMKESWA) memberikan kontribusi&#13;
dalam pemanfaatan peran apoteker, terutama terkait pencatatan dan pelaporan&#13;
obat jiwa dalam sistem. Namun pada kenyataannya sampai tahun 2023&#13;
SIMKESWA di Kota Pagar Alam belum optimal, dimana data pelaporan obat&#13;
jiwa di SIMKESWA tidak tercatat secara kontinyu dan konsisten.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tren penggunaan&#13;
psikofarmaka di puskesmas, mengetahui dampak rendahnya penggunaan&#13;
SIMKESWA, mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya&#13;
penggunaan SIMKESWA dan menganalisis peran apoteker dalam penggunaan&#13;
&#13;
SIMKESWA di Puskesmas. Metode penelitian yang digunakan adalah mix-&#13;
method, dimana data kuantitatif diperoleh dari Lembar Pemakaian dan Permintaan&#13;
&#13;
Obat (LPLPO) dianalisis untuk mengetahui tren penggunaan psikofarmaka&#13;
menggunakan metode ATC/DDD. Data kualitatif dilakukan dengan wawancara&#13;
dan Focus Group Discussion (FGD) melibatkan apoteker, pemegang program&#13;
SIMKESWA puskesmas dan Dinkes, serta kepala puskesmas untuk menggali&#13;
persepsi mendalam terkait dampak dan hambatan implementasi, serta peran&#13;
apoteker dalam penggunaan SIMKESWA untuk pengelolaan obat terapi pasien&#13;
skizofrenia.&#13;
Hasil Analisis kuantitatif diperoleh nilai total DDD/1000 penduduk yang&#13;
fluktuatif, dimana tahun 2020 sebesar 267,606; tahun 2021 sebesar 275,651; tahun&#13;
2022 sebesar 157,423 dan tahun 2023 sebesar 216,549. Nilai DU90% konsisten&#13;
didominasi tiga antipsikotik yang rasional pemilihannya karena masuk dalam&#13;
rekomendasi WHO (haloperidol, risperidon, chlorpromazine) dari total 8 obat&#13;
yang digunakan di puskesmas. Hasil analisis kualitatif dengan FGD menunjukkan&#13;
fitur laporan obat dalam aplikasi tidak kontinyu dan rutin diinput datanya, antara&#13;
data manual dan di SIMKESWA sering tidak sinkron, apoteker belum mengenal&#13;
dan berperan aktif dalam pencatatan di aplikasi SIMKESWA, serta keterbatasan&#13;
SDM yang memahami aplikasi dan sinyal jaringan intenet yang terganggu.&#13;
&#13;
xv&#13;
&#13;
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan tren penggunaan&#13;
psikofarmaka berdasarkan nilai DDD/1000 penduduk dari 8 antipsikotik yang&#13;
digunakan di puskesmas fluktuatif dan terdapat obat yang masuk dalam segmen&#13;
DU90% yaitu risperidone, haloperidol, chlorpromazine. Dampak rendahnya&#13;
penggunaan aplikasi SIMKESWA dalam pengelolaan obat berakibat tidak&#13;
lengkap dan akuratnya data obat antipsikotik. Keterbatasan SDM yang memahami&#13;
aplikasi SIMKESWA, minimnya infrastruktur, dan kurangnya literasi teknologi&#13;
sehingga memerlukan suatu pelatihan dan dukungan infrastruktur. Tidak adanya&#13;
peran apoteker dalam penggunaan aplikasi SIMKESWA menyebabkan&#13;
pemanfaatan dan penerapan aplikasi SIMKESWA tidak maksimal, padahal&#13;
apoteker memiliki potensi besar untuk meningkatkan akurasi data terapi pasien&#13;
skizofrenia khususnya data obat-obatan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/62925">
<title>Studi Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Gedi (Abelmoschus manihot L. Medik)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62925</link>
<description>Studi Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi Daun Gedi (Abelmoschus manihot L. Medik)
Damayanti, Silvia Dwi
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat laju oksidasi atau menetralkan radikal bebas. Antioksidan dapat berasal dari sintetik maupun dari bahan alam. Tumbuhan gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) adalah tumbuhan khas Indonesia Timur yang dimanfaatkan daunnya sebagai sayuran. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pada bagian bunga A.manihot memiliki aktivitas sebagai antioksidan karena kandungan flavonoidnya. Diduga dari daun ini memiliki aktivitas sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak dan fraksi dari daun gedi sebagai antioksidan. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi bertingkat menggunakan pelarut n- heksan, etil asetat, dan metanol. Sedangkan fraksinasi dilakukan dengan metode Kromatografi Vakum Cair (KVC). Aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC50 untuk ekstrak n-heksan, etil asetat, dan metanol berturut-turut adalah 1693,036 ppm, 1146,429 ppm, dan 648,298 ppm. Selanjutnya, ekstrak etil asetat difraksinasi menggunakan pelarut dengan gradien kepolaran. Dari hasil fraksinasi ekstrak etil asetat diperoleh fraksi teraktif adalah fraksi 6 dengan IC50 11,818 ppm. Berdasarkan hasil identifikasi fitokimia menunjukkan pada ekstrak n-heksan dan etil asetat mengandung senyawa golongan alkaloid, ekstrak metanol mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, dan saponin. Sementara fraksi 6 mengandung senyawa golongan alkaloid dan terpenoid.
</description>
<dc:date>2014-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
