<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/48161">
<title>Master of Pharmacy</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/48161</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/67070"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/67009"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/66126"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/65528"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-29T02:53:26Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/67070">
<title>Pengembangan Sediaan dan Kajian Keamanan Nanoemulsi Gel Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) Terstandar</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/67070</link>
<description>Pengembangan Sediaan dan Kajian Keamanan Nanoemulsi Gel Ekstrak Herba Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) Terstandar
Ashfiya, Salwa
Pegagan (Centella asiatica) memiliki potensi terapeutik pada kulit yang dapat&#13;
ditingkatkan melalui formulasi nanoemulsi gel untuk memperbaiki penetrasi dan&#13;
bioavailabilitas senyawanya. Namun, penggunaannya memerlukan evaluasi&#13;
keamanan sebelum diaplikasikan. Metode dalam penelitian ini dimulai dengan&#13;
standarisasi ekstrak dan karakterisasi fisikokimia sediaan nanoemulsi gel ekstrak&#13;
herba pegagan terstandar (SNEHPT), kemudian mengevaluasi profil keamanan&#13;
SNEHPT melalui uji: 1) Iritasi akut dermal sesuai OECD 404; 2) Uji Fish Embryo&#13;
Toxicity (FET) sesuai OECD 236; 3) Uji toksisitas akut dermal sesuai OECD 402.&#13;
Analisis data meliputi analisis stabilitas fisik sediaan, perhitungan indeks iritasi,&#13;
data kuantitatif menggunakan GraphPad Prism untuk uji FET dan nilai LC50, serta&#13;
profil toksisitas akut dermal dan LD50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak&#13;
kental menghasilkan rendemen 17,896%. Identifikasi HPLC menunjukkan kadar&#13;
asiaticoside dalam ekstrak sebesar 1,03%. Parameter non-spesifik menunjukkan&#13;
kadar air 0,84%, kadar abu 9,54%, dan kadar abu tidak larut asam 1,40%.&#13;
Nanoemulsi ekstrak memiliki transmitansi 95,53 ± 0,09%, ukuran partikel 78,67 ±&#13;
0,84 nm, PI 0,42 ± 0,02, dan zeta potensial -6,87 ± 3,10 mV. Sediaan nanoemulsi&#13;
gel ekstrak menunjukkan pH 5,09 ± 0,00, viskositas 5043 ± 81,88 cP, dan daya&#13;
sebar 5,03 ± 0,15 cm. Uji iritasi akut dermal menunjukkan nilai indeks iritasi primer&#13;
0,02 pada SNEHPT, sehingga termasuk kategori tidak mengiritasi. Pada uji FET,&#13;
ekstrak etanol herba pegagan memiliki nilai LC50 sebesar 61,87 ppm dan tergolong&#13;
toksik, sedangkan SNEHPT menunjukkan nilai LC50 sebesar 56.182,86 ppm dan&#13;
tergolong tidak toksik. Pada uji toksisitas akut dermal LD50 diperkirakan &gt;2000&#13;
mg/kgBB. Histopatologi hati menunjukkan tidak adanya nekrosis maupun&#13;
degenerasi lemak, meskipun ditemukan degenerasi hidropik dan inflamasi dengan&#13;
derajat bervariasi. Dapat disimpulkan bahwa SNEHPT stabil, tidak menimbulkan&#13;
iritasi, dan dapat menurunkan toksisitas serta kerusakan reversible.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/67009">
<title>Pengembangan Kapsul S-SNEDDS Berbasis Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) sebagai Agen Antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Beserta Strain Resistennya</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/67009</link>
<description>Pengembangan Kapsul S-SNEDDS Berbasis Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) sebagai Agen Antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Beserta Strain Resistennya
Azhar, Hanif Luthfiansyah
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman obat asli Indonesia&#13;
yang mengandung kurkuminoid dan xanthorrhizol yang berpotensi sebagai&#13;
antibakteri. Namun, pemanfaatannya masih terkendala oleh kelarutan dan&#13;
bioavailabilitas yang rendah. Teknologi Solid Self-Nanoemulsifying Drug Delivery&#13;
System (S-SNEDDS) dikembangkan untuk meningkatkan karakteristik fisikokimia&#13;
dan efektivitas penghantaran senyawa aktif temulawak. Penelitian ini bertujuan&#13;
&#13;
untuk mengembangkan, mengevaluasi dan menguji aktivitas antimikroba kapsul S-&#13;
SNEDDS yang mengandung ekstrak temulawak. Ekstrak temulawak diperoleh&#13;
&#13;
melalui maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian diformulasikan menjadi&#13;
SNEDDS dan dipadatkan menjadi S-SNEDDS menggunakan metode spray drying&#13;
dan adsorpsi senyawa berpori menggunakan solid carrier mannitol dan trehalosa.&#13;
Serbuk yang dihasilkan dievluasi ukuran partikel, indeks polidispersitas, potensial&#13;
zeta, transmitan, karakteristik granul dan kapsul, kandungan zat aktif ekstrak&#13;
dianalisis menggunakan GC-MS, sedang cemaran mikroba diuji dengan angka&#13;
lempeng total (ALT) dan angka kapang khamir (AKK), uji aktivitas antimikroba&#13;
diuji menggunakan metode difusi agar, serta uji penghambatan biofilm&#13;
menggunakan metode crystal violet-binding assay terhadap bakteri Escherichia&#13;
coli dan Staphylococcus aureus beserta strain resistennya. Formula spray drying&#13;
berbasis mannitol menunjukkan karakteristik nano yang baik dengan ukuran&#13;
partikel 103,6 ± 2,211 nm, indeks polidispersitas 0,337 ± 0,053, potensial zeta&#13;
menunjukkan −34,933 ± 1,097 mV, dan transmitan pada 96,174 ± 0,008%.&#13;
&#13;
Evaluasi kapsul menunjukkan kadar &lt;10% dan waktu hancur &lt;15 menit. Hasil GC-&#13;
MS menunjukkan puncak dominan pada waktu retensi 14,05–14,13 menit yang&#13;
&#13;
diduga berkaitan dengan fraksi xanthorrhizol. Formula adsorpsi-trehalosa&#13;
menunjukkan mutu mikrobiologi terbaik dengan nilai ALT 9,2 × 104 CFU/g dan&#13;
seluruh formula memenuhi persyaratan AKK. Pengujian antibakteri menunjukkan&#13;
kapsul S-SNEDDS temulawak mampu menghambat pertumbuhan S. aureus, E.&#13;
coli, MRSA, dan ESBL, serta memberikan aktivitas penghambatan biofilm yang&#13;
lebih baik dibandingkan ekstrak dan SNEDDS cair. Secara keseluruhan, formulasi&#13;
kapsul S-SNEDDS temulawak berhasil dikembangkan dengan karakteristik&#13;
fisikokimia yang baik serta berpotensi sebagai agen antibakteri dan antibiofilm&#13;
terhadap bakteri sensitif maupun bakteri resisten.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/66126">
<title>Sintesis, Uji Aktivitas Antibakteri, dan Uji Toksisitas Nanocarrier AuNPs-Siprofloksasin terhadap Escherichia coli dan Extended-Spectrum Beta Lactamase (ESBL)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/66126</link>
<description>Sintesis, Uji Aktivitas Antibakteri, dan Uji Toksisitas Nanocarrier AuNPs-Siprofloksasin terhadap Escherichia coli dan Extended-Spectrum Beta Lactamase (ESBL)
Fahrezi, Rayhan Izzan
Resistensi antibiotik yang semakin meningkat, khususnya pada bakteri Gram-&#13;
negatif penghasil extended-spectrum β-lactamase (ESBL) seperti Escherichia coli,&#13;
&#13;
telah menjadi tantangan serius dalam terapi infeksi bakteri karena menurunkan&#13;
efektivitas antibiotik konvensional, termasuk siprofloksasin. Pengembangan sistem&#13;
penghantaran obat berbasis nanopartikel emas (AuNPs) merupakan salah satu&#13;
pendekatan yang berpotensi meningkatkan efektivitas antibiotik sekaligus&#13;
mempertahankan keamanan biologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
mensintesis, mengkarakterisasi, mengevaluasi aktivitas antibakteri, serta menilai&#13;
profil sitotoksisitas AuNPs–siprofloksasin terhadap E. coli ATCC 25922, ESBL,&#13;
dan sel MCF-10A. AuNPs disintesis menggunakan metode Turkevich melalui&#13;
reduksi HAuCl4 dengan natrium sitrat, kemudian dikonjugasikan dengan&#13;
siprofloksasin. Karakterisasi dilakukan menggunakan spektrofotometri UV-Vis,&#13;
particle size analyzer (PSA), zeta potential analyzer, Fourier Transform Infrared&#13;
Spectroscopy (FTIR), dan Field Emission Scanning Electron Microscopy&#13;
(FESEM), serta penentuan persentase entrapment efficiency (%EE). Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa AuNPs–siprofloksasin memiliki puncak serapan&#13;
pada panjang gelombang 539 nm, ukuran partikel rata-rata 67,93 ± 0,67 nm, indeks&#13;
polidispersitas 0,17 ± 0,02, dan potensial zeta −29,6 ± 0,14 mV yang menunjukkan&#13;
stabilitas koloid yang baik. Analisis FTIR dan FESEM mengonfirmasi keberhasilan&#13;
konjugasi siprofloksasin pada permukaan AuNPs. Sistem AuNPs–siprofloksasin&#13;
memiliki entrapment efficiency sebesar 96% dan menunjukkan aktivitas antibakteri&#13;
yang lebih tinggi dibandingkan siprofloksasin bebas. Nilai MIC terhadap E. coli&#13;
menurun dua kali lipat dari 0,09 ppm menjadi 0,045 ppm setelah dikonjugasikan&#13;
dengan AuNPs. Analisis statistik menunjukkan bahwa jenis perlakuan dan&#13;
konsentrasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap aktivitas antibakteri&#13;
terhadap E. coli dan ESBL (p &lt; 0,05). Pada uji difusi cakram, AuNPs–&#13;
siprofloksasin menghasilkan zona hambat yang secara signifikan lebih besar&#13;
dibandingkan siprofloksasin bebas (p &lt; 0,05). Uji sitotoksisitas menunjukkan&#13;
bahwa konsentrasi dan lama paparan berpengaruh signifikan terhadap viabilitas sel&#13;
MCF-10A (p &lt; 0,05), namun viabilitas sel tetap berada di atas 70% pada seluruh&#13;
konsentrasi yang diuji setelah 24 dan 48 jam paparan serta tidak ditemukan&#13;
perubahan morfologi sel yang signifikan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/65528">
<title>Pengukuran Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Stroke: Perbandingan di Dua Kota di Indonesia</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/65528</link>
<description>Pengukuran Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Stroke: Perbandingan di Dua Kota di Indonesia
Herayjat, Akbar
Pendahuluan: Stroke menjadi masalah kesehatan yang penting di Indonesia karena&#13;
berkontribusi besar terhadap kematian, kecacatan jangka panjang, dan beban&#13;
pelayanan kesehatan. Penanganan stroke bergantung pada kemampuan mengenali&#13;
gejala awal. Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kediri dipilih sebagai lokasi&#13;
penelitian karena memiliki beban stroke yang relevan serta perbedaan kepadatan&#13;
penduduk dan akses layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui&#13;
tingkat pengetahuan stroke, tingkat pengetahuan antar wilayah, serta menganalisis&#13;
hubungan faktor demografi dengan tingkat pengetahuan stroke.&#13;
Metode: Observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel&#13;
dilakukan secara purposive pada masyarakat umum di kelurahan/desa terpilih. Data&#13;
dikumpulkan menggunakan kuesioner Stroke Knowledge Test yang telah dilakukan&#13;
uji validitas dan reliabilitas. Analisis dilakukan secara deskriptif, dilanjutkan&#13;
dengan uji chi-square atau uji Fisher’s exact, serta regresi logistik dengan tingkat&#13;
signifikansi 10%.&#13;
Hasil: Proporsi memadai pengetahuan total adalah 47,6%, sedangkan gejala dan&#13;
respons adalah 48,6%. Sebaliknya, proporsi memadai lebih tinggi pada definisi dan&#13;
faktor risiko (54,7%), serta prevalensi dan penatalaksanaan (57,6%). Temuan ini&#13;
menunjukkan keterbatasan dalam mengenali gejala dan respons. Tidak terdapat&#13;
perbedaan pada pengetahuan total (p=0,396), gejala dan respons (p=0,234), definisi&#13;
dan faktor risiko (p=0,686), serta prevalensi dan penatalaksanaan (p=0,768).&#13;
Namun, perbedaannya tampak pada konteks perkotaan dan perdesaan, khususnya&#13;
pada pengetahuan total (p=0,035), gejala dan respons (p=0,047), serta prevalensi&#13;
dan penatalaksanaan (p=0,004), sedangkan definisi dan faktor risiko tidak&#13;
bermakna (p=0,612), dengan kecenderungan wilayah perkotaan memiliki&#13;
pengetahuan lebih baik. Faktor yang terindikasi bermakna di Sleman adalah sumber&#13;
informasi (p=0,036), sedangkan di Kediri adalah jenis kelamin (p=0,081),&#13;
pendidikan (p=0,065), usia (p=0,061), pengalaman (p=0,073), dan pendapatan&#13;
(p=0,030). Pada pengetahuan total, faktor yang berhubungan di Sleman adalah&#13;
sumber informasi (p=0,092) dan pengalaman (p=0,088), sedangkan di Kediri&#13;
adalah jenis kelamin (p=0,036), pengalaman (p=0,056), dan pendapatan (p=0,095).&#13;
Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa edukasi stroke fase pra-rumah sakit&#13;
perlu diarahkan pada pengenalan gejala dan respons awal yang disesuaikan dengan&#13;
demografi dan wilayah untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
