<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/47">
<title>Civil Engineering</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/47</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63508"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63427"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63426"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63392"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-23T22:19:06Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63508">
<title>Analisis Penerapan Konsep BIM 4D dalam Perencanaan Penjadwalan Proyek Pembangunan Gedung Analysis of BIM 4D Implementation In Construction Project Scheduling Planning (Studi Kasus : Proyek Gedung Asrama C Madrasah Mu’allimin  Muhammadiyah Yogyakarta)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63508</link>
<description>Analisis Penerapan Konsep BIM 4D dalam Perencanaan Penjadwalan Proyek Pembangunan Gedung Analysis of BIM 4D Implementation In Construction Project Scheduling Planning (Studi Kasus : Proyek Gedung Asrama C Madrasah Mu’allimin  Muhammadiyah Yogyakarta)
Nugroho, Agung Adi
Perkembangan teknologi konstruksi mendorong penerapan metode yang mampu&#13;
meningkatkan efisiensi mutu, biaya, dan waktu proyek, salah satunya melalui Building Information&#13;
Modeling (BIM) sebagai pendekatan pemodelan dan manajemen proyek berbasis informasi&#13;
terintegrasi. Dalam manajemen proyek konstruksi, penjadwalan merupakan aspek penting yang&#13;
berkaitan langsung dengan triple constraint, namun masih banyak menggunakan metode&#13;
konvensional yang memiliki keterbatasan dari segi efisiensi, ketelitian, dan potensi kesalahan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan BIM 4D dalam perencanaan penjadwalan.&#13;
Penelitian ini menerapkan metode BIM 4D dan mengombinasikanya dengan metode fast&#13;
track (percepatan penjadwalan) pada tahap perencanaan proyek Pembangunan Gedung asrama C PP&#13;
Mu’allimin Muhammadiyah Yogakarta. Penelitian ini menggunakan aplikasi Autodesk Naviswork&#13;
untuk pembuatan 3D modelbase, Microsoft Project untuk pengolahan penjadwalan dan penerapan&#13;
metode fast track dan menggunakan Autodesk Naviswork untuk pengintegrasian 3D modelbase&#13;
dengan rencana penjadwalan sebelum dan setelah fast track yang akan menghasilkan scheduling&#13;
simulation.&#13;
Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan analisis efisiensi penerapan BIM 4D pada&#13;
perencanaan penjadwalan elemen struktural dengan metode fast track, diperoleh durasi penjadwalan&#13;
eksisting proyek selama 111 hari. Penerapan fast track pada 17 pekerjaan struktural yang berada&#13;
pada lintasan kritis menghasilkan percepatan durasi proyek menjadi 94 hari, sehingga terjadi&#13;
penghematan waktu sebesar 17 hari. Percepatan penjadwalan melalui BIM 4D ini bertujuan&#13;
memperoleh waktu pelaksanaan yang lebih efisien dan optimal tanpa menimbulkan konflik antar&#13;
pekerjaan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63427">
<title>Rasionalisasi Jaringan Stasiun Hujan Das Sentani, Jayapura Menggunakan Standar World Meteorological Organization dan Metode Kagan-rodda</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63427</link>
<description>Rasionalisasi Jaringan Stasiun Hujan Das Sentani, Jayapura Menggunakan Standar World Meteorological Organization dan Metode Kagan-rodda
Rahman, Aulia Nawar
Data curah hujan merupakan salah satu data hidrologi yang berperan penting dalam&#13;
pengelolaan dan pengembangan sumber daya air, sehingga diperlukan informasi data yang akurat&#13;
dan representatif. Namun dalam pelaksanaannya sering terjadi ketidakakuratan data yang&#13;
disebabkan oleh kesalahan dalam pemantauan dan pengambilan data. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
menentukan jumlah dan lokasi stasiun hujan yang optimal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sentani.&#13;
Penelitian ini dilakukan di DAS Sentani, Jayapura. Data yang digunakan meliputi peta DAS&#13;
dan data curah hujan harian. Analisis kerapatan jaringan stasiun hujan dilakukan berdasarkan standar&#13;
World Meteorological Organization (WMO) dan Metode Kagan-Rodda.&#13;
Kebutuhan jumlah stasiun hujan yang diperlukan di DAS Sentani berbeda-beda sesuai&#13;
dengan metode yang digunakan. Berdasarkan standar WMO, DAS Sentani memiliki kondisi&#13;
geografis berupa perbukitan dan dataran sehingga luas kerapatan yang direkomendasikan WMO&#13;
adalah 1 stasiun hujan mewakili 100 – 250 km2&#13;
&#13;
/stasiun. Lima stasiun hujan di DAS Sentani sesuai&#13;
metode WMO sudah memenuhi standar minimum yang direkomendasikan dengan kerapatan&#13;
119,684 km2&#13;
/stasiun. Berdasarkan metode Kagan-Rodda, rekomendasi jumlah stasiun hujan dan&#13;
persebarannya yang ditentukan oleh kesalahan perataan dan kesalahan interpolasi secara&#13;
keseluruhan paling direkomendasikan menggunakan 6 stasiun hujan dengan kerapatan 99,718&#13;
km2&#13;
/stasiun.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63426">
<title>Analisis Transformasi Hujan-aliran Das Cibeureum Akibat Perubahan Tutupan Lahan Menggunakan Software HEC-HMS Versi 4.13</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63426</link>
<description>Analisis Transformasi Hujan-aliran Das Cibeureum Akibat Perubahan Tutupan Lahan Menggunakan Software HEC-HMS Versi 4.13
Mustofa, Farkhan
Sungai Cibeureum merupakan sungai yang terletak di Cilacap, Jawa Tengah dan sering&#13;
mengalami banjir. Panjang sungai Cibeureum sekitar 40 km dengan luas Daerah Aliran Sungai&#13;
(DAS) sebesar 357,529 km2&#13;
&#13;
. Banjir yang terjadi dipicu oleh perubahan tutupan tataguna lahan.&#13;
Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menentukan analisis&#13;
transformasi hujan-aliran DAS Cibeureum akibat perubahan tutupan lahan menggunakan software&#13;
HEC-HMS versi 4.13.&#13;
Pemodelan transformasi hujan-aliran DAS Cibeureum dilakukan menggunakan software&#13;
HEC-HMS versi 4.13 dengan Single Bassin. Data yang digunakan meliputi data curah hujan tahun&#13;
2013-2023, data tutupan lahan tahun 2014 dan 2024 dari Citra Landsat. Metode hidrograf satuan&#13;
yang dipilih adalah metode HSS SCS dan HSS Snyder.&#13;
Hasil pemodelan pada HEC-HMS menunjukkan hasil debit banjir rancangan untuk metode&#13;
SCS tahun 2014 kala ulang 2 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun berturut-turut sebesar 87,700 m3&#13;
/s,&#13;
&#13;
189,200 m3&#13;
/s, 238,300 m3&#13;
&#13;
/s, tahun 2024 kala ulang 2 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun berturut-turut&#13;
&#13;
sebesar 91,800 m3&#13;
&#13;
/s, 195,400 m3&#13;
&#13;
/s, 245,300 m3&#13;
&#13;
/s. Pada metode Snyder tahun 2014 kala ulang 2&#13;
&#13;
tahun, 10 tahun, dan 20 tahun berturut-turut sebesar 65,500 m3&#13;
&#13;
/s, 140,500 m3&#13;
&#13;
/s, 176,800 m3&#13;
/s, tahun&#13;
&#13;
2024 kala ulang 2 tahun, 10 tahun, dan 20 tahun berturut-turut sebesar 68,500 m3&#13;
&#13;
/s, 145,100 m3&#13;
/s,&#13;
&#13;
182,000 m3&#13;
/s. Besaran perubahan tutupan lahan menunjukkan bahwa kenaikan persentase nilai CN&#13;
tahun 2014 dan 2024 sebesar 0,83% akan meningkatkan debit kala ulang 2, 10, dan 20 tahun sebesar&#13;
4,47%, 3,17%, dan 2,85% untuk metode HSS SCS dan sebesar 4,38%, 3,17%, dan 2,86% untuk&#13;
metode HSS Snyder.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63392">
<title>Koordinasi Sinyal Antar Simpang Jalan Sultan Agung Yogyakarta (Coordination of Traffic Light Signals on Sultan Agung Street Yogyakarta)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63392</link>
<description>Koordinasi Sinyal Antar Simpang Jalan Sultan Agung Yogyakarta (Coordination of Traffic Light Signals on Sultan Agung Street Yogyakarta)
Agustianto, Anandhika Dwi
Ruas Jalan Sultan Agung yang terletak di pusat Kota Yogyakarta tidak lepas dari permasalahan lalu lintas. Pada ruas Jalan Sultan Agung terdapat tiga simpang yang berada dalam jarak 420 meter. Jarak simpang yang pendek dan banyaknya volume kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut akan menimbulkan masalah. Permasalahan yang terjadi dikarenakan belum adanya koordinasi sinyal antar simpang pada Jalan Sultan Agung tersebut yang mengakibatkan kemacetan pada saat jam sibuk. Maka dari itu, diperlukan alternatif perbaikan koordinasi sinyal antar kedua simpang untuk mengatasi kemacetan pada saat jam sibuk. Dalam penelitian ini, digunakan mikrosimulasi lalu lintas dengan software VISSIM untuk melakukan analisis tundaan pada kondisi eksisting dan perancangan koordinasi sinyal. Data primer dikumpulkan dengan melakukan survei langsung di lapangan, untuk mendapatkan volume kondisi eksisting periode jam puncak dan periode jam lengang yang akan menjadi acuan dalam merencanakan waktu siklus baru dengan memperhatikan teori koordinasi. Dari hasil analisis, diketahui bahwa kedua simpang pada ruas Jalan Sultan Agung belum terkoordinasi dengan baik. Rute dari Barat-Timur dengan tundaan rata-rata sebesar 43 detik, waktu tempuh rata-rata sebesar 73 detik dan kecepatan perjalanan rata-rata sebesar 21 kilometer/jam dengan tingkat pelayanan E untuk periode jam puncak. Untuk itu, dilakukan beberapa perancangan untuk melakukan koordinasi sinyal antar simpang pada kedua simpang tersebut, dengan cara menentukan waktu siklus baru yang sama untuk semua simpang. Dari tiga perancangan periode jam puncak, didapatkan alternatif terbaik dengan waktu siklus baru sebesar 156 detik dengan nilai tundaan rata-rata sebesar 9 detik, nilai waktu tempuh dari Simpang 1 menuju ke Simpang 2 (arah Barat–Timur) sebesar 38 detik, kecepatan perjalanan rata-rata 40 kilometer/jam dengan tingkat pelayanan B. Nilai waktu tempuh dari Simpang 2 menuju ke Simpang 1 (arah Timur–Barat) sebesar 42 detik, tundaan sebesar 17 detik, kecepatan perjalanan rata-rata 36 kilometer/jam dengan tingkat pelayanan C. Untuk periode jam lengang, dari hasil analisis didapat tundaan rata-rata sebesar 12 detik, waktu tempuh rata-rata sebesar 36 detik dan kecepatan rata-rata sebesar 42 kilometer/jam dengan tingkat pelayanan B. Dari tiga perancangan periode jam lengang, didapatkan alternatif terbaik dengan waktu siklus baru sebesar 107 detik dengan nilai tundaan rata-rata sebesar 4 detik, nilai waktu tempuh dari Simpang 1 menuju ke Simpang 2 (arah Barat–Timur) sebesar 28 detik, kecepatan perjalanan rata-rata 54 kilometer/jam dengan tingkat pelayanan A. Nilai waktu tempuh dari Simpang 2 menuju ke Simpang 1 (arah Timur–Barat) sebesar 29 detik, tundaan sebesar 4 detik, kecepatan perjalanan rata-rata 52 kilometer/jam dengan tingkat pelayanan A.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
