<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/45">
<title>Master of Civil Engineering and Planning</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/45</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63310"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/62759"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/62725"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/61403"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-25T02:54:22Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63310">
<title>Analisis Perbandingan Efisiensi Waktu dan Biaya Antara Metode Shotcrete dengan Metode Talud pada Pekerjaan Dinding Penahan Tanah</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63310</link>
<description>Analisis Perbandingan Efisiensi Waktu dan Biaya Antara Metode Shotcrete dengan Metode Talud pada Pekerjaan Dinding Penahan Tanah
Rahman, Muhammad Aulia
Penelitian ini membandingkan efisiensi biaya dan waktu antara metode talud (pasangan batu kali)&#13;
dan metode shotcrete pada pekerjaan dinding penahan tanah dalam proyek pembangunan kawasan&#13;
Universitas AMIKOM Yogyakarta. Analisis dilakukan terhadap biaya langsung, biaya tidak&#13;
langsung, durasi proyek, serta lintasan kritis dengan menggunakan metode CPM (Critical Path&#13;
Method). Penelitian ini juga mengembangkan model linear Y_indirect = C_fixed + (D × C_monthly)&#13;
untuk memprediksi biaya tidak langsung berdasarkan durasi proyek, dengan C_fixed = Rp315 juta&#13;
sebagai biaya tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode shotcrete memberikan efisiensi&#13;
waktu yang signifikan, dengan durasi proyek sekitar 358 hari kerja, lebih cepat 42 hari dibandingkan&#13;
metode talud yang memerlukan ±400 hari kerja. Namun, metode shotcrete menimbulkan biaya yang&#13;
lebih tinggi, yaitu Rp15,528 miliar dibandingkan metode talud sebesar Rp15,187 miliar, atau sekitar&#13;
2,24% lebih mahal. Model menghasilkan prediksi akurat dengan biaya tidak langsung talud Rp686,9&#13;
juta (13 bulan) dan shotcrete Rp676,7 juta (12 bulan). Dengan demikian, metode talud lebih&#13;
ekonomis dari segi biaya, sedangkan metode shotcrete lebih unggul dalam percepatan waktu.&#13;
Pemilihan metode yang tepat sangat bergantung pada prioritas proyek, apakah menekankan pada&#13;
efisiensi biaya atau percepatan penyelesaian.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/62759">
<title>Analisis Strategi Penawaran dengan Menggunakan Metode Expected Profit untuk Mendapatkan Harga Penawaran yang Optimal Studi Kasus pada Pelelangan Proyek-proyek Pemerintah Khususnya Sekolah Negeri di Jakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62759</link>
<description>Analisis Strategi Penawaran dengan Menggunakan Metode Expected Profit untuk Mendapatkan Harga Penawaran yang Optimal Studi Kasus pada Pelelangan Proyek-proyek Pemerintah Khususnya Sekolah Negeri di Jakarta
Nurlette, Muhammad Husein
Dalam menghadapi situasi persaingan yang kompetitif dalam pelelangan maka diperlukan suatu strategi yang efektif dan efisien. Strategi itu diantaranya metode Expected profit dengan memperhitungkan Estimate Cost, Mark Up dan Riwayat data penawaran pesaing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya nilai Mark Up yang harus ditambahkan pada Estimate Cost agar mendapatkan harga penawaran yang optimal pada saat pelelangan. Penelitian ini dilakukan pada suatu kontraktor yang sudah sering mengikuti pelelangan untuk proyek pemerintah, khususnya Sekolah Negeri di Jakarta, sehingga diperoleh sejumlah data-data penawaran para pesaing pada pelelangan sebelumnya. Dengan mengunakan metode expected profit. Hasil penelitian menunjukkan harga penawaran yang diajukan "Kontraktor X" akan optimal pada Rasio sebesar 1,145 dan peluang menawar terendah adalah 90% dari Rasio Penawaran dan menghasilkan nilai Expected Profit maksimal sebesar 13,05% yang ditambahkan pada Estimate Cost.
</description>
<dc:date>2018-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/62725">
<title>Identifikasi Potensi Kerusakan di Kota Bengkulu Akibat Gempabumi dengan Metode HVSR</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62725</link>
<description>Identifikasi Potensi Kerusakan di Kota Bengkulu Akibat Gempabumi dengan Metode HVSR
Hudayat, Nurul
Kota Bengkulu merupakan daerah yang rawan terjadinya gempabumi. Salah satu cara untuk mengurangi dampak bencana dari gempabumi yaitu dengan mengetahui daerah-daerah yang rentan terhadap kerusakan tanah. Saat ini getaran alami tanah (mikrotremor) dapat dimanfaatkan untuk mengetahui potensi kerusakan tanah. Kerusakan tanah ini ditentukan berdasarkan nilai Indeks Kerentanan Seismik (Kg), Peak Ground Acceleration (PGA) dan Ground Shear Strain (y). Dalam penelitian ini gempabumi yang dianalisa ialah gempa Bengkulu 12 September 2007. Dengan magnitudo 8.4 SR, lokasi : 4.44 LS - 101.37 BT dan kedalaman 34 km. Lokasi pengukuran mikrotremor berada di Kota Bengkulu yang berjumlah 52 titik pengukuran dengan tambahan data sekunder berjumlah 15 data. Pengolahan data mikrotremor menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio). Metode ini dapat memberikan parameter faktor amplifikasi (Ag), frekuensi dominan (F),indeks kerentanan seismik (Kg) dan ground shear strain (7). Selanjutnya perhitungan PGA dihitung dengan menggunakan atenuasi Kanai (1966). Nilai Vs30 diperoleh dari hasil inversi kurva H/V dengan software ModelHVSR (Herak, 2007). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah sekitar pantai Kecamatan Muara Bangkahulu memiliki nilai indeks kerentanan seismik yang paling besar yakni 28.34. Sedangkan nilai Ground Shear Strain terbesar saat terjadi gempa Bengkulu 12 September 2007 yaitu di wilayah sekitar pantai Kecamatan Kampung Melayu yakni 0.0028. Nilai PGA terbesar berada di wilayah Kecamatan Teluk Segara yakni 789 gal. Dengan melihat sebaran kerusakannya menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kerusakan dengan indeks kerentanan seismik (Kg), ground shear strain (7) dan PGA. Dengan begitu tingkat kerusakan akibat gempa dapat ditentukan dari parameter indeks kerentanan seismik (Kg), ground shear strain (y) dan PGA.
</description>
<dc:date>2015-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/61403">
<title>Studi Perbandingan Karakteristik Campuran Superpave dengan Penambahan Serbuk Ban Karet pada Aspal Pen 60/70 dan Aspal Pg70 Menggunakan Metode Pemadatan Marshall dan Gyratory</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/61403</link>
<description>Studi Perbandingan Karakteristik Campuran Superpave dengan Penambahan Serbuk Ban Karet pada Aspal Pen 60/70 dan Aspal Pg70 Menggunakan Metode Pemadatan Marshall dan Gyratory
Widhiatmoko, Giri
Perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat, dari 148 juta unit&#13;
pada tahun 2022 menjadi 164 juta unit pada tahun 2024, sehingga menuntut ketersediaan&#13;
infrastruktur jalan dengan perkerasan yang kuat, tahan lama, dan efisien. Kondisi ini mendorong&#13;
perlunya inovasi dalam desain perkerasan, salah satunya melalui penggunaan metode Superpave&#13;
yang memanfaatkan aspal Performance Grade (PG) serta pemanfaatan limbah ban karet sebagai&#13;
bahan tambah ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan metode pemadatan Superpave Gyratory&#13;
Compactor (SGC) dinilai lebih representatif terhadap kondisi lapangan dibandingkan metode&#13;
Marshall.&#13;
Penelitian ini bertujuan membandingkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengaruh jenis&#13;
aspal, variasi kadar serbuk ban karet, dan metode pemadatan terhadap karakteristik volumetrik,&#13;
mekanis, dan durabilitas campuran beton aspal Superpave. Tahapan penelitian dimulai dari&#13;
pengujian fisik agregat, aspal, serta aspal dengan serbuk ban karet, kemudian penentuan kadar aspal&#13;
optimum (5–7%) dan kadar karet optimum (2–6%). Benda uji dibuat dengan metode Marshall dan&#13;
Gyratory, lalu diuji berdasarkan parameter volumetrik, mekanis, dan durabilitas.&#13;
Secara ringkas, kinerja campuran beton aspal dipengaruhi oleh jenis aspal, serbuk ban&#13;
karet, dan metode pemadatan, di mana aspal PG-70 unggul dengan VITM lebih besar, VMA lebih&#13;
rendah, serta IRS lebih tinggi dibanding PEN 60/70. Penambahan serbuk ban karet 2–4%&#13;
meningkatkan stabilitas, flow, ITS, CL, IRS, dan TSR, namun pada 6% kinerja menurun, sementara&#13;
pemadatan Gyratory lebih baik dari Marshall karena menghasilkan kepadatan lebih rapat&#13;
menandakan volumetrik yang lebih baik, stabilitas dan durabilitas lebih tinggi, sehingga campuran&#13;
lebih kaku, stabil, dan tahan terhadap kelembapan serta keausan.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
