<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/40">
<title>Master of Industrial Engineering</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/40</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63297"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63127"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/62826"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/62084"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-09T06:25:34Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63297">
<title>Desain Sistem Pengadaan Bahan Baku Berkelanjutan Pada Produk Makanan</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63297</link>
<description>Desain Sistem Pengadaan Bahan Baku Berkelanjutan Pada Produk Makanan
Fitriani, Karina
Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pengadaan bahan baku&#13;
berkelanjutan pada UMKM pengolah produk pangan berbasis ikan, khususnya&#13;
produsen otak-otak di Tanjungpinang, sebagai respons terhadap penurunan&#13;
ketersediaan ikan dan ketidakstabilan produksi yang berpotensi mengganggu&#13;
keberlanjutan usaha. Pendekatan deskriptif kuantitatif diterapkan melalui analisis&#13;
benchmarking dan SEM-PLS untuk mengidentifikasi faktor ekonomi, sosial, dan&#13;
lingkungan yang paling berpengaruh dalam perancangan sistem, dengan mengacu&#13;
pada Peraturan LKPP Nomor 157 Tahun 2024. Data dikumpulkan dari 40 UMKM&#13;
melalui kuesioner, wawancara dan observasi lapangan. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa aspek ekonomi, terutama penerapan biaya siklus hidup dan&#13;
perencanaan produksi, masih memiliki tingkat ketercapaian yang rendah sehingga&#13;
perlu menjadi prioritas dalam desain sistem pengadaan. Sebaliknya, dimensi sosial&#13;
dan lingkungan menunjukkan kinerja yang relatif baik, khususnya pada keterlibatan&#13;
masyarakat, pengelolaan limbah dan penggunaan kemasan ramah lingkungan,&#13;
sehingga dapat menjadi fondasi utama dalam pengembangan sistem. Analisis lebih&#13;
lanjut mengindikasikan bahwa praktik pemilihan pemasok hijau dan strategi&#13;
sumber pasok alternatif masih belum terintegrasi secara optimal dalam proses&#13;
pengadaan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan desain sistem&#13;
pengadaan bahan baku berkelanjutan yang mengintegrasikan pemilihan pemasok,&#13;
perencanaan kebutuhan bahan baku, serta kepatuhan sosial dan lingkungan dalam&#13;
satu kerangka terpadu. Sistem yang diusulkan menekankan kejelasan standar&#13;
pengadaan, indikator kinerja pemasok yang terukur, serta kolaborasi terstruktur&#13;
dalam rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku sekaligus&#13;
meminimalkan risiko lingkungan dan sosial. Desain ini diharapkan dapat menjadi&#13;
panduan praktis bagi UMKM dalam beralih dari pola pembelian reaktif menuju&#13;
pengadaan yang strategis dan berorientasi pada keberlanjutan guna meningkatkan&#13;
ketahanan operasional dan keberlangsungan usaha jangka panjang.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63127">
<title>Pengembangan Model Manajemen K3 Listrik Pada UKM untuk Meminimalkan Kecelakaan Kerja</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63127</link>
<description>Pengembangan Model Manajemen K3 Listrik Pada UKM untuk Meminimalkan Kecelakaan Kerja
Assabri, Ali Mahmoud Abd Aljalil
Dibalik manfaatnya yang penting, listrik juga dapat menjadi sumber bahaya bagi manusia karena dapat menimbulkan bahaya seperti kebakaran, sengatan arus listrik dan pengaruh medan magnet listrik terhadap kesehatan pekerja. Bahaya listrik di industri kecil sebenarnya dapat dilihat dengan jelas namun permasalahan yang sering terjadi di setiap industri kecil adalah tidak adanya kesadaran baik dari pekerja maupun perusahaan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Pada penelitian ini, faktor-faktor penghambat implementasi K3 listrik di industri kecil diidentifikasi untuk selanjutnya dikembangkan sebuah model strategi agar implemntasi K3 listrik pada industri kecil dapat dillakukan. Hasilnya Strategi manajemen K3 berdasarkan Tahapan Manajemen K3 listrik adalah Kebijakan K3 Listrik (Standar K3 listrik sesuai undang-undang K3 listrik, Program Sosialisasi dari Pemerintah), Perencanaan (Peraturan K3 listrik tertulis, SOP Pra dan Pasca Pekerjaan, Peraturan menggunakan Alat Pelindung Diri, Struktur kepengurusan K3 listrik yang terdiri dari pekerja perusahaan), Pelaksanaan dan Operasi (Program Pelatihan K3 Listrik, Program pelatihan khusus penggunaan alat Beresiko listrik, Pelatihan menggunakan APAR, Reward dari Pemerintah untuk perusahaan yang menerapkan K3 listrik, Sanksi hukum untuk perusahaan yang tidak menerapkan K3 listrik, Perbaikan instalasi lisrik sesuai standar K3 Listrik, Fasilitas P3KProgram Pelatihan P3K, Poster dan Spanduk pada dinding Perusahaan, Stiker pada mesin dan tempat yang memiiki bahaya listrik), Pemeriksaan (Jadwal Pemeliharaan Peralatan Keselamata), Audit dan Evaluasi (Continous Improvement K3 listrik).
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/62826">
<title>Usulan Model Dashboard Pengukuran Kinerja UKM (Studi Kasus di Desa Wisata Krebet)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62826</link>
<description>Usulan Model Dashboard Pengukuran Kinerja UKM (Studi Kasus di Desa Wisata Krebet)
Pratiwi, Annisa Indah
Era pasar bebas dan kondisi lingkungan yang semakin dinamis menyebabkan banyak perusahaan harus menetapkan strategi yang tepat dan mengimplementasikannya dengan baik agar strategi yang ada lebih dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemakaian sumber daya perusahaan. Sistem pengukuran kinerja merupakan salah satu model yang ada untuk memonitor keberhasilan implementasi strategi objektif yang telah ditetapkan pimpinan perusahaan, tidak terkecuali UKM. Banyak organisasi kecil dan menengah tidak memiliki visi dan strategi yang jelas. Karena Orientasi UKM lebih terfokus pada kinerja operasional lebih mendominasi. Smart system dapat digunakan untuk menyusun parameter pengukuran kinerja. AHP digunakan untuk menentukan bobot kepentingan dari masing-masing kriteria KPI, dengan mengetahui bobot kepentingan, perusahaan dapat menentukan prioritas perbaikan yang harus dilakukan apabila perusahaan memiliki keterbatasan dana atau sumber daya. Adapun sistem penyekoran yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode OMAX (Objective Matrix) untuk setiap KPI.Pada saat pengukuran digunakan konsep Traffic Light System dengan menggunakan tiga warna, yaitu warna hijau (mencapai target), warna kuning (mendekati target), dan warna merah (jauh dari target) dan KPI ini perlu mendapat perhatian khusus pada saat periode berikutnya. Penelitian dilakukan pada 3 UKM yang berada di Desa Wisata Krebet yaitu UKM Ragil, UKM Punokawan dan UKM Yuan Art. Hasilnya diperoleh 20 sasaran strategi objektif dan 21 key performance indikator (KPI) yang digunakan untuk mengukur kinerja UKM. Hasil pengukuran Omax menunjukan masih banyak KPI yang berwarna merah sehingga perlu dilakukan perbaikan. Dengan mengetahui kinerja UKM yang masih rendah (merah) maka sumber maslah bisa diidentifikasi sehingga perbaikan yang dilakukan perusahaan lebih tetap sasaran.
</description>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/62084">
<title>Optimalisasi Manajemen Perubahan dalam Percepatan Transformasi Digital di Industri Manufaktur</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/62084</link>
<description>Optimalisasi Manajemen Perubahan dalam Percepatan Transformasi Digital di Industri Manufaktur
Sutra, Debi
Transformasi digital di industri manufaktur Indonesia masih menghadapi tantangan&#13;
yang signifikan, di mana sebagian besar inisiatif perubahan belum mampu&#13;
mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu penyebab utama kegagalan tersebut&#13;
adalah tingginya resistensi karyawan terhadap perubahan. Penelitian ini bertujuan&#13;
untuk menganalisis faktor-faktor kritis dalam implementasi Manufacturing&#13;
Execution System (MES) 3.0 di PT. X dengan menggunakan model ADKAR&#13;
(Awareness, Desire, Knowledge, Ability, Reinforcement), serta menguji peran&#13;
resistensi karyawan sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan tersebut.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain&#13;
explanatory sequential. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner terhadap&#13;
248 karyawan dan dianalisis menggunakan regresi berganda serta Moderated&#13;
Regression Analysis (MRA). Selanjutnya, data kualitatif diperoleh melalui&#13;
wawancara mendalam dengan 10 informan kunci dan dianalisis secara tematik&#13;
untuk memperdalam pemahaman terhadap hasil kuantitatif. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa Awareness (β = −0,315; p &lt; 0,001), Knowledge (β = −0,287;&#13;
p &lt; 0,001), dan Ability (β = −0,246; p &lt; 0,01) berpengaruh signifikan terhadap&#13;
keberhasilan implementasi MES 3.0, sementara Desire dan Reinforcement tidak&#13;
menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan penting lainnya mengungkap&#13;
bahwa resistensi karyawan berperan sebagai variabel pemoderasi yang&#13;
memperlemah hubungan antara Awareness (β = 0,183; p &lt; 0,01) dan Knowledge (β&#13;
= 0,156; p &lt; 0,05) dengan keberhasilan implementasi. Analisis kualitatif&#13;
memperkuat temuan tersebut dengan mengidentifikasi bahwa pendekatan&#13;
awareness yang bersifat satu arah, pelatihan yang tidak terintegrasi dengan realitas&#13;
kerja di lapangan, serta lemahnya sistem penguatan pasca-implementasi menjadi&#13;
akar permasalahan utama dalam implementasi MES 3.0. Penelitian ini&#13;
menyimpulkan bahwa pendekatan manajemen perubahan konvensional belum&#13;
efektif dalam konteks organisasi dengan tingkat resistensi yang tinggi. Oleh karena&#13;
itu, penelitian ini mengusulkan perlunya pendekatan manajemen perubahan yang&#13;
lebih terintegrasi dengan menempatkan pengelolaan resistensi sebagai inti strategi&#13;
dalam mempercepat transformasi digital di industri manufaktur Indonesia.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
