<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/23602">
<title>Master of Architecture</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/23602</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63743"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63733"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/63281"/>
<rdf:li rdf:resource="http://hdl.handle.net/123456789/60293"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-25T23:01:18Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63743">
<title>Dominasi Warna Arsitektur Masjid Modern di Jawa Berdasarkan Citra Digital</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63743</link>
<description>Dominasi Warna Arsitektur Masjid Modern di Jawa Berdasarkan Citra Digital
Nurdina, Haira Najma
Warna pada bangunan selama ini dipahami sebagai salah satu faktor penunjang&#13;
kenyamanan visual dan termal. Tak terkecuali pemilihan warna pada masjid tradisional&#13;
yang menjadi wujud pertimbangan antara nilai religius dan karakter fisik bangunan&#13;
yang sesuai dengan ketersediaan material serta respon terhadap iklim lokal. Namun&#13;
seiring dengan perkembangan teknologi, terjadi perubahan pada cara warna&#13;
dibubuhkan pada masjid. Dengan pertimbangan banyaknya variasi tipe masjid di Pulau&#13;
Jawa, kajian mengenai perubahan pola penggunaan warna pada masjid dilaksanakan&#13;
pada wilayah ini. Untuk mengetahui gambaran umum karakteristik warna pada masjid&#13;
di Jawa, meta analisis terhadap 32 sampel masjid dilaksanakan menggunakan peranti&#13;
lunak desain grafis dalam bentuk penyusunan palet warna dominan. Analisis korelasi&#13;
pemilihan warna pada masjid terhadap iklim tropis dan perubahan pola warna pada&#13;
masjid di Jawa sebagai hasil dari perkembangan tren dan teknologi diuraikan lebih&#13;
lanjut. Hasil dari kajian bermaksud untuk menjelaskan bagaimana keberadaan warna&#13;
dapat menjadi salah satu bukti visual yang menunjukkan perubahan tradisi fisik pada&#13;
arsitektur masjid di Jawa.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63733">
<title>Evaluasi Kesesuaian Elemen Fasad Bangunan Baru terhadap Peraturan Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta (Studi Kasus : Penggal Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo Periode  Pembangunan Tahun 2022)</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63733</link>
<description>Evaluasi Kesesuaian Elemen Fasad Bangunan Baru terhadap Peraturan Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta (Studi Kasus : Penggal Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo Periode  Pembangunan Tahun 2022)
Ciptoleksono, Eka
Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta merupakan lanskap budaya Warisan Dunia dengan&#13;
nilai historis, filosofis, dan visual yang tinggi. Peningkatan pembangunan bangunan baru&#13;
pada koridor Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo berpotensi mempengaruhi&#13;
integritas visual kawasan. Meskipun telah terdapat regulasi arsitektur kawasan melalui Perda&#13;
DIY No. 1 Tahun 2017 dan Pergub DIY No. 48 Tahun 2023, implementasinya belum&#13;
didukung oleh instrumen evaluasi yang operasional dan terukur. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengevaluasi tingkat kesesuaian elemen fasad bangunan baru terhadap ketentuan regulasi&#13;
arsitektur kawasan sebagai instrumen operasional pelestarian visual. Pendekatan mixed&#13;
methods tipe explanatory sequential (kuantitatif→kualitatif) digunakan melalui observasi&#13;
lapangan, dokumentasi visual, studi regulasi, serta analisis kuantitatif dengan sistem skoring&#13;
ordinal (0–4) berbobot. Elemen yang dianalisis meliputi sosok bangunan, atap, badan,&#13;
bukaan, kaki, material, dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian&#13;
fasad bervariasi sebagai akibat dominasi adaptasi massa tanpa konsistensi bukaan dan detail.&#13;
Sosok bangunan dan bentuk atap merupakan faktor paling dominan, sementara&#13;
ketidaksesuaian paling sering terjadi pada ritme bukaan dan detail arsitektur kontemporer.&#13;
Penelitian ini berkontribusi dengan mengembangkan model evaluasi fasad berbasis regulasi&#13;
yang operasional dan terukur, sebagai instrumen untuk mendukung pengendalian desain dan&#13;
menjaga integritas visual kawasan heritage
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/63281">
<title>Penerapan Teori Design for Adaptability untuk Mengkaji Adaptasi pada Bangunan Prefabrikasi : Studi Komparasi Tiga Bangunan Prefabrikasi Colombo Plan tahun 1957  di Yogyakarta</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/63281</link>
<description>Penerapan Teori Design for Adaptability untuk Mengkaji Adaptasi pada Bangunan Prefabrikasi : Studi Komparasi Tiga Bangunan Prefabrikasi Colombo Plan tahun 1957  di Yogyakarta
Mubarrak, Ar. Muhamad Irfan Zaky
Penelitian ini mengkaji prinsip industrialisasi dalam arsitektur, khususnya&#13;
penggunaan komponen prefabrikasi yang meningkatkan fleksibilitas dan&#13;
mengurangi limbah. Prefabrikasi memungkinkan bangunan untuk dibongkar,&#13;
dipindahkan, dan diperbesar, menjadikannya pendekatan yang lebih&#13;
berkelanjutan. Di negara maju, adaptasi bangunan eksisting penting untuk&#13;
mengatasi perubahan iklim, kenaikan harga material, dan masalah rantai&#13;
pasokan. Adaptasi bangunan sama halnya dengan prefabrikasi terbukti lebih&#13;
hemat biaya dan berkelanjutan. Proses itu juga dapat menjadi solusi untuk&#13;
mengurai permasalahan ekonomi, lingkungan, dan sosial terhadap bangunan.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode Design for Adaptability (DfA) oleh&#13;
Schimdt (2016) untuk mengidentifikasi, implementasi dan komparasi&#13;
perubahan pada bangunan prefabrikasi di Yogyakarta, yang didirikan pada era&#13;
pasca kolonialisme yang material penyusunnya berasal dari Inggris melalui&#13;
Colombo Plan 1950-an. Studi kasus melibatkan bangunan Asrama&#13;
Darmaputera Baciro, Jogja Nasional Museum, SMA Negeri 1 Yogyakarta.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan Exploratory Sequential Design (ESD)&#13;
dengan mixed method, menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif&#13;
secara berurutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas adaptasi&#13;
karakteristik bangunan sesuai dengan teori Schmidt, terbukti dari&#13;
implementasi adaptasi pada objek penelitian (P1). Strategi desain yang&#13;
relevan terhadap tipe adaptasi yang digunakan pada objek penelitian dinilai&#13;
tinggi (P2). Skenario dan taktik desain yang ditemukan memberikan solusi&#13;
praktis yang dapat diterapkan pada bangunan lain (P3). Komprasi studi kasus&#13;
membuktikan bawah keragaman fungsi pada kesamaan tipe bangunan tetap&#13;
dapat diadaptasi dan menghasilkan usulan adaptasi (P4). Penelitian ini&#13;
mendukung teori Schmidt tentang pentingnya desain bangunan yang&#13;
dirancang untuk dapat diadaptasi sejak awal. Penerapan teknologi&#13;
prefabrikasi dalam adaptasi bangunan tua menunjukkan manfaat ekonomi,&#13;
lingkungan, dan sosial yang signifikan. Studi kasus di Yogyakarta&#13;
menunjukkan bahwa bangunan prefabrikasi kolonial dapat diadaptasi secara&#13;
efektif untuk fungsi modern, mempertahankan nilai sosial, dan menciptakan&#13;
ruang relevan melalui inovasi teknologi dan kolaborasi pemangku&#13;
kepentingan, mendukung pembangunan berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://hdl.handle.net/123456789/60293">
<title>Elemen Pembentuk Ruang Sholat Masjid Gedhe Mataram  Kotagede Dan Masjid Margoyuwono</title>
<link>http://hdl.handle.net/123456789/60293</link>
<description>Elemen Pembentuk Ruang Sholat Masjid Gedhe Mataram  Kotagede Dan Masjid Margoyuwono
Aristawati, Yolandita
Masjid sebagai karya budaya hidup di Yogyakarta mencerminkan dinamika sosial, budaya,&#13;
dan historis masyarakat dari abad ke-16 hingga ke-21, dengan akulturasi antara tradisi Jawa,&#13;
Hindu-Budha, dan Islam. Penelitian ini fokus pada dua masjid tradisional: Masjid Gedhe&#13;
Mataram Kotagede (dibangun oleh Panembahan Senopati pada 1578-1587 M), yang&#13;
mewakili inisiatif kerajaan pra-kolonial dengan elemen simbolik kosmologi Jawa seperti&#13;
atap tajug bertingkat dan gapura paduraksa, serta Masjid Margoyuwono (didirikan akhir&#13;
abad ke-19 oleh Prawiroyuwono, diresmikan 1943), yang mencerminkan inisiatif pedagang&#13;
batik pada masa kolonial akhir dengan pengaruh Eropa dan Timur Tengah. Kedua masjid ini&#13;
tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial dan simbol&#13;
identitas budaya, di mana ruang sholat utama menjadi elemen kunci yang mendukung&#13;
kenyamanan, konsentrasi, dan interaksi masyarakat. Perbandingan keduanya penting untuk&#13;
memahami evolusi arsitektur masjid Jawa dalam konteks akulturasi dan adaptasi terhadap&#13;
perubahan zaman.&#13;
Rumusan masalah penelitian mencakup: (a) Apa saja elemen pembentuk ruang sholat pada&#13;
kedua masjid? (b) Bagaimana persamaan dan perbedaan elemen tersebut? (c) Bagaimana&#13;
pengaruh budaya lokal dan asing terhadap elemen-elemen itu? (d) Apa saja perubahan yang&#13;
terjadi sepanjang sejarah? Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi elemen, menganalisis&#13;
perbandingan, pengaruh budaya, dan transformasi historis untuk berkontribusi pada&#13;
pelestarian arsitektur masjid berbasis nilai lokal.&#13;
&#13;
Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif historis dan deskriptif-&#13;
komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur (jurnal, arsip historis, dan&#13;
&#13;
referensi arsitektur Islam Jawa), observasi lapangan (pengukuran, foto, sketsa denah ruang&#13;
sholat), dan dokumentasi visual. Analisis data bersifat deskriptif untuk menggambarkan&#13;
elemen (material, ornamen, ukuran, struktur) dan komparatif untuk membandingkan&#13;
persamaan-perbedaan serta konteks budaya-historis. Validitas dijaga melalui triangulasi&#13;
data, observasi naturalistik, dan perbandingan sumber. Lokasi penelitian di Kotagede dan&#13;
Jeron Beteng Yogyakarta, dengan jadwal pelaksanaan mencakup persiapan, pengumpulan&#13;
data, analisis, hingga penyusunan laporan. &#13;
Temuan utama menunjukkan elemen ruang sholat Masjid Gedhe Mataram Kotagede&#13;
&#13;
meliputi lantai marmer, tiang saka guru kayu jati, dinding bata tebal, bukaan kecil, langit-&#13;
langit tajug, dan mihrab melengkung dengan motif sulur. Masjid Margoyuwono memiliki&#13;
&#13;
lantai teraso, tanpa tiang utama, dinding tipis dengan ubin, bukaan besar bergaya Eropa,&#13;
langit-langit eternit, dan mihrab dengan kaligrafi. Persamaan terletak pada tipe denah yang&#13;
sama, orientasi kiblat, bentuk mihrab yang melengkung dan menjorok 1,5 m, penggunaan&#13;
material lokal seperti kayu dan bata, serta fungsi serambi sebagai transisi sosial-spiritual,&#13;
&#13;
sementara perbedaan signifikan meliputi material lantai, keberadaan tiang, struktur langit-&#13;
langit, ketebalan dinding, ornamen, dan bukaan yang memengaruhi pencahayaan dan&#13;
&#13;
penghawaan alami. Pengaruh budaya lokal Jawa terlihat pada simbolisme kosmologi,&#13;
sementara budaya asing muncul dari kolonial (eternit) dan Islam Ortodoks (kaligrafi).&#13;
Perubahan historis meliputi renovasi pasca-gempa di Kotagede dan adaptasi fungsional di&#13;
Margoyuwono.&#13;
Kesimpulan penelitian menekankan bahwa elemen ruang sholat kedua masjid&#13;
mencerminkan evolusi akulturasi Jawa-Islam, dengan Kotagede sebagai fondasi tradisional&#13;
kerajaan dan Margoyuwono sebagai adaptasi modern pasca-kolonial. Temuan ini&#13;
berkontribusi pada kajian arsitektur Islam tradisional, sejarah budaya Yogyakarta, dan&#13;
pelestarian masjid bersejarah. Saran mencakup rekomendasi desain masjid masa depan yang&#13;
mengintegrasikan nilai lokal dengan adaptasi modern, serta penelitian lanjutan untuk&#13;
memperluas dan memperdalam objek studi.
</description>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
