<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Master of Environmental Engineering</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/56323" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/56323</id>
<updated>2026-09-28T19:38:30Z</updated>
<dc:date>2026-09-28T19:38:30Z</dc:date>
<entry>
<title>Bio-Membran Berbasis Serat Bambu Sebagai Adsorben Alami Untuk Menurunkan Logam Berat Kadmium Cd2+ pada Lindi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/65321" rel="alternate"/>
<author>
<name>Al Habsy, Ikhwanul Habib</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/65321</id>
<updated>2026-07-31T08:05:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Bio-Membran Berbasis Serat Bambu Sebagai Adsorben Alami Untuk Menurunkan Logam Berat Kadmium Cd2+ pada Lindi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
Al Habsy, Ikhwanul Habib
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya potensi pencemaran logam berat&#13;
kadmium (Cd2+) pada air lindi TPA Piyungan yang berbahaya bagi lingkungan dan&#13;
kesehatan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kemampuan bio-membran&#13;
berbasis serat bambu teraktivasi asam sitrat sebagai adsorben alami dalam&#13;
menurunkan kadar Cd2+ serta menentukan kondisi optimum adsorpsi. Penelitian&#13;
dilakukan secara eksperimental melalui preparasi bio-membran yang diaktivasi&#13;
menggunakan asam sitrat, kemudian dikarakterisasi menggunakan FTIR dan SEM.&#13;
Pengujian adsorpsi dilakukan dengan metode batch melalui variasi massa adsorben,&#13;
pH, waktu kontak, dan konsentrasi awal Cd2+. Sampel air lindi didestruksi&#13;
menggunakan HNO3 selama 3 jam sebelum dianalisis menggunakan AAS,&#13;
sedangkan mekanisme adsorpsi dianalisis menggunakan model isoterm Langmuir&#13;
dan Freundlich. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-membran mengandung&#13;
gugus fungsi hidroksil (-OH) dan karboksil (-COOH) yang berperan dalam&#13;
pengikatan Cd2+. Kondisi optimum diperoleh pada massa adsorben 75 mg, pH 6,&#13;
waktu kontak 90 menit, dan konsentrasi awal 50 ppm dengan efisiensi penyisihan&#13;
sebesar 76,97% dan kapasitas adsorpsi 25,57 mg/g. Efisiensi tertinggi pada variasi&#13;
pH mencapai 88,54%. Analisis isoterm menunjukkan proses adsorpsi mengikuti&#13;
model Langmuir dengan nilai R2 sebesar 0,9692 dan qmax sebesar 26,32 mg/g,&#13;
yang mengindikasikan adsorpsi monolayer pada permukaan homogen. Penerapan&#13;
pada air lindi nyata menunjukkan penurunan konsentrasi Cd2+ dari 2,927 ppm&#13;
menjadi 0,525 ppm dengan efisiensi sebesar 82%. Penelitian ini menyimpulkan&#13;
bahwa bio-membran serat bambu teraktivasi asam sitrat berpotensi sebagai&#13;
adsorben alternatif yang ramah lingkungan, ekonomis,
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Tipe Pisau Mesin Pencacah Sampah Terhadap Kualitas dan Kuantitas Hasil Cacahan Refuse-derived Fuel (RDF)</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/63269" rel="alternate"/>
<author>
<name>Arrozi, Wahyu</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/63269</id>
<updated>2026-06-08T01:50:41Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Tipe Pisau Mesin Pencacah Sampah Terhadap Kualitas dan Kuantitas Hasil Cacahan Refuse-derived Fuel (RDF)
Arrozi, Wahyu
Timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2024 mencapai 34,21 juta ton, di mana 19,74% atau sekitar 6,75 juta ton merupakan sampah plastik yang sulit terurai. Tingginya angka timbulan sampah tersebut mendorong kebutuhan teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy), salah satunya melalui produksi Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi industri semen dan pembangkit listrik. Salah satu tahapan penting dalam produksi RDF adalah proses pencacahan, dimana performa mesin sangat dipengaruhi oleh jenis pisau yang digunakan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh tiga jenis bahan pisau serta pengaruh kadar air sampah (&lt;30% dan 30-50%) terhadap kapasitas pencacahan, homogenitas ukuran cacahan, ketahanan pisau, dan biaya produksi pisau.&#13;
Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan total 18 uji coba (3 tipe pisau x 2 kadar air x 3 ulangan). Variabel terikat meliputi kapasitas produksi (kg/jam), homogenitas cacahan &lt;5 cm, kehilangan massa pisau, serta biaya produksi per jenis pisau. Pengujian laboratorium untuk RDF dilakukan terhadap kadar air, nilai kalor, kadar abu, volatile matter, dan fixed carbon mengacu pada SNI 9313:2024. Uji statistik mencakup analisis deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, serta ANOVA dua arah untuk menilai signifikansi perbedaan antar perlakuan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pisau mesin pencacah tipe baja SUB 9 menghasilkan kapasitas pencacahan tertinggi (238,05 kg/jam) dan homogenitas terbaik (95,96%), meskipun hasil ANOVA menunjukkan tidak terdapat pengaruh signifikan baik dari tipe pisau maupun kadar air (p&gt;0,05). Pengujian keausan menunjukkan bahwa baja SUB 9 dan SKS 3 memiliki sisa ujung pisau volume tertinggi (99,62-99,82% ) . Biaya produksi paling rendah yaitu sebesar Rp 1.892.426 pada piasu baja SUB 9. Hasil uji kualitas RDF menunjukkan kadar air 10,6% dan nilai kalor 4.360 kcal/kg memenuhi standar SNI, namun kadar abu 20,9% sedikit melebihi batas maksimum.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Kelayakan Penerapan Bioteknologi pada Pengolahan Sampah Organik Kota Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/58604" rel="alternate"/>
<author>
<name>Raihan, Muhammad Afif</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/58604</id>
<updated>2025-11-05T01:50:07Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Kelayakan Penerapan Bioteknologi pada Pengolahan Sampah Organik Kota Yogyakarta
Raihan, Muhammad Afif
Kota Yogyakarta menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah organik,&#13;
terutama setelah penutupan TPA Piyungan pada tahun 2024. Sampah organik yang&#13;
mendominasi komposisi timbulan sampah kota membutuhkan solusi pengolahan yang&#13;
efektif, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan&#13;
penerapan kepada tiga opsi pilihan bioteknologi dalam pengolahan sampah organik,&#13;
yaitu: biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), Anaerobic Digestion&#13;
(AD), dan pengomposan metode bata berongga. Metode yang digunakan dalam&#13;
penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif berdasarkan data sekunder dari instansi&#13;
terkait dan studi literatur. Studi kelayakan dilakukan melalui analisis aspek teknis,&#13;
ekonomi, lingkungan, dan sosial dengan pendekatan Grid Analysis. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa dari ketiga opsi, biokonversi menggunakan larva BSF merupakan&#13;
metode paling layak diterapkan di Kota Yogyakarta. Hal ini didasarkan pada efektivitas&#13;
reduksi, BSF mampu mengolah sampah organik dalam skala besar, waktu proses yang&#13;
singkat dimana dalam 1 siklus hidupnya hanya membutuhkan waktu 30-35 hari,&#13;
potensi produk bernilai ekonomis seperti fresh maggot dan pupuk dengan pasar produk&#13;
yang dapat diserap oleh sektor peternakan, pertanian, dan program pemerintah, hasil&#13;
proyeksi menunjukkan nilai NPV positif dan nilai IRR diatas nilai Cost of Capital&#13;
yang disyaratkan, nilai PP kurang dari 3 tahun dengan asumsi umur proyek selama 10&#13;
tahun, serta kebutuhan lahan dan sumber daya yang relatif rendah dibandingkan dengan&#13;
opsi pengolahan sampah organik lainnya. Rekomendasi dari penelitian ini adalah&#13;
pengembangan sistem pengolahan sampah organik berbasis larva BSF secara&#13;
terintegritas pada skala kota sebagai upaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kontaminasi Mikroplastik pada Produk Garam di Kabupaten Kebumen</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/58569" rel="alternate"/>
<author>
<name>Mudhofar, Moh Ade</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/58569</id>
<updated>2025-11-03T08:29:12Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kontaminasi Mikroplastik pada Produk Garam di Kabupaten Kebumen
Mudhofar, Moh Ade
Mikroplastik merupakan kontaminan yang tersebar luas di lingkungan perairan dan&#13;
berpotensi mencemari produk turunan laut seperti garam. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengidentifikasi kelimpahan dan karakteristik mikroplastik pada sampel air laut&#13;
sebagai bahan baku serta produk garam tradisional di Kabupaten Kebumen,&#13;
sekaligus memetakan distribusi spasial kontaminasinya. Sampel air laut dan garam&#13;
diambil dari empat stasiun pengamatan menggunakan metode grab sampling.&#13;
Kelimpahan mikroplastik dianalisis dengan mikroskop stereo, sedangkan&#13;
karakteristiknya (bentuk, ukuran, warna) diukur menggunakan Image Raster 3.&#13;
Pemetaan spasial dilakukan dengan metode interpolasi IDW pada ArcGIS Pro, dan&#13;
estimasi paparan dihitung menggunakan rumus Estimated Daily Intake (EDI) dan&#13;
Estimated Annual Intake (EAI). Hasil menunjukkan air laut bahan baku garam telah&#13;
terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan 100–280 partikel/L, sedangkan&#13;
pada garam mencapai 240–2640 partikel/kg. Proses produksi metode tunnel&#13;
berkontribusi pada akumulasi mikroplastik akibat ketiadaan filtrasi efektif.&#13;
Mikroplastik pada garam memiliki variasi bentuk, ukuran, dan warna lebih beragam&#13;
dibandingkan pada air laut, dengan ukuran &lt;50 μm mendominasi seluruh media.&#13;
Bentuk fragmen paling banyak ditemukan pada garam (65,93%), sedangkan bentuk&#13;
fiberlebih dominan pada air laut (59,52%) dan air muara (66,67%). Warna dominan&#13;
pada garam adalah hitam (52,59%), sementara pada air laut adalah bening&#13;
(40,48%). Karakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR mengindikasikan bahwa&#13;
polimer yang terkandung dalam sampel garam adalah nylon dan polyethylene&#13;
terephthalate (PET). Pemetaan distribusi mengindikasikan zona kelimpahan tinggi&#13;
di sekitar muara dan wilayah dengan aktivitas antropogenik intensif. Nilai EDI&#13;
mencapai 3,76 partikel/kapita/hari dan EAI 1373,48 partikel/kapita/tahun,&#13;
menunjukkan potensi jalur paparan jangka panjang mikroplastik melalui konsumsi&#13;
garam. Temuan ini menegaskan perlunya pengawasan kualitas garam terkait&#13;
kandungan mikroplastik yang belum diatur dalam standar SNI. Rekomendasi&#13;
mitigasi meliputi peningkatan teknik filtrasi pada proses produksi dan penetapan&#13;
zona aman pengambilan air laut untuk mengurangi risiko paparan harian.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
