<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Environmental Engineering</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/49" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/49</id>
<updated>2026-05-14T00:36:25Z</updated>
<dc:date>2026-05-14T00:36:25Z</dc:date>
<entry>
<title>Studi Komparatif Metode Active dan Passive Treatment Terhadap Kualitas Air Dalam Pengelolaan Air Asam Tambang, PT Indexim Coalindo</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62530" rel="alternate"/>
<author>
<name>Virginisa, Shafira Jasmine</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62530</id>
<updated>2026-05-13T03:29:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Komparatif Metode Active dan Passive Treatment Terhadap Kualitas Air Dalam Pengelolaan Air Asam Tambang, PT Indexim Coalindo
Virginisa, Shafira Jasmine
Air asam tambang (AAT) merupakan salah satu permasalahan lingkungan&#13;
yang umum terjadi pada kegiatan pertambangan batubara akibat oksidasi mineral&#13;
sulfida yang menghasilkan air bersifat asam dan kaya logam terlarut. Penelitian&#13;
ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas metode active treatment&#13;
menggunakan CaCO3 dan passive treatment menggunakan open limestone&#13;
channel (OLC) dalam meningkatkan kualitas air tambang berdasarkan parameter&#13;
pH, TSS, Fe dan Mn, serta variabel pendukung meliputi Ca, Mg, Na, K, sulfat,&#13;
dan Al. Pengambilan sampel dilakukan pada dua settling pond berbeda, yaitu di&#13;
Settling Pond Kasturi 5 (active treatment) dan Settling Pond Rambai (passive&#13;
treatment), masing-masing pada dua kali waktu sampling dengan titik pengamatan&#13;
dari inlet hingga outlet. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada sistem active&#13;
treatment, pH meningkat signifikan menjadi 6,58 di outlet, sementara pada&#13;
passive treatment pH meningkat menjadi 7,49. Nilai TSS pada active treatment&#13;
menurun menjadi 4–17 mg/L, sedangkan pada passive treatment menurun&#13;
menjadi 10–27 mg/L. Konsentrasi Fe berkurang menjadi 2,4–3,4 mg/L pada&#13;
active treatment dan 0,39–0,49 mg/L pada passive treatment, sedangkan Mn&#13;
berkurang menjadi 0,6–0,8 mg/L pada active treatment dan 0,1–0,2 mg/L pada&#13;
passive treatment. Berdasarkan hasil tersebut, kedua metode sama-sama berperan&#13;
penting dalam pengendalian air asam tambang, namun pendekatan kombinatif&#13;
antara active dan passive treatment direkomendasikan untuk mencapai efektivitas&#13;
optimal serta keberlanjutan pengelolaan lingkungan tambang.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kualitas Air Tanah Berdasarkan Parameter Kesadahan di Wilayah Sub Das Code Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62389" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sarastuti, Fatma Wahyu</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62389</id>
<updated>2026-05-11T02:43:10Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kualitas Air Tanah Berdasarkan Parameter Kesadahan di Wilayah Sub Das Code Yogyakarta
Sarastuti, Fatma Wahyu
Air tanah yang ada di wilayah-wilayah Kab. Sleman, Kota Yogyakarta dan Kab. Bantul dikontrol oleh sistem hidrologi, geologi, dan hidrogeologi yang berhulu pada lereng selatan bagian atas Gunung Merapi. Banyaknya sumur-sumur dangkal maupun sumur dalam yang menembus lapisan akuifer, baik untuk keperluan rumah tangga, pertanian maupun industri akan menimbulkan degradasi kuantitas dan kualitas air tanah. Salah satu parameter kimia dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan unsur Ca²⁺ dan Mg²⁺ dalam air yang keberadaannya biasa disebut kesadahan air. Pada umumnya kesadahan menunjukkan jumlah kalsium karbonat dalam milligram perliter atau bagian perjuta. Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Berdasarkan PERMENKES RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, kadar maksimum kesadahan (CaCO₃) yang diperbolehkan adalah 500mg/L. Penelitian memiliki tujuan mengkaji kualitas air tanah dan pemetaan kualitas air tanah berdasarkan parameter kesadahan di Sub DAS Code Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah pengumpulan sampel yang dilakukan sebanyak 38 titik, sampel diuji menggunakan metode Titrasi Kompleksometri dengan EDTA. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari 38 sampel air tanah, kadar kesadahan total berada di bawah baku mutu yang disyaratkan oleh pemerintah sebesar 500 mg/L. Susunan batuan pada wilayah penelitian bukan merupakan susunan batu kapur. Besar kemungkinan air tidak melewati lapisan batu kapur, sehingga nilai kesadahan air tanah tidak melewati baku mutu.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perencanaan Jaringan Sistem Penyediaan Air Bersih di Dusun Polowidi, Desa Trimulyo, Kecamatan Sleman, Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62303" rel="alternate"/>
<author>
<name>Umiati, Fitri</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62303</id>
<updated>2026-05-09T04:38:59Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perencanaan Jaringan Sistem Penyediaan Air Bersih di Dusun Polowidi, Desa Trimulyo, Kecamatan Sleman, Yogyakarta
Umiati, Fitri
Polowidi merupakan salah satu dusun di Desa Trimulyo Kecamatan Sleman yang memanfaatkan sumur sebagai sumber air baku. Saat ini jaringan eksisting tidak berfungsi disebabkan berbagai hal, salah satunya aliran air yang tidak merata sehingga perlu adanya evaluasi pada jaringan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk melakukan evaluasi dan merencanakan alternatif jaringan air bersih untuk jangka waktu 20 tahun. Metode pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran debit dari sumber air menggunakan pompa dan pengukuran elevasi menggunakan alat ukur theodolite. Selanjutnya membuat pemodelan jaringan air menggunakan rumus perhitungan dan program/software EPANET 2.0. Berdasarkan hasil analisis menggunakan EPANET, jaringan eksisting mempunyai nilai tekanan terbesar pada titik 5 sebesar 16,68 m dan tekanan terendah pada titik 1 sebesar 4,62 m. Sedangkan kecepatan aliran terbesar pada pipa A sebesar 0,37 m/s dan dan kecepatan aliran terendah pada pipa D sebesar 0,03 m/s. Kehilangan tekanan terbesar terdapat pada pipa A sebesar 4,1 m/km dan kehilangan tekanan terendah pada pipa D sebesar 0,06 m/km. Sedangkan pada perencanaan alternatif diperoleh nilai tekanan terbesar pada titik 8 sebesar 24,52 m dan tekanan terendah pada titik 1 sebesar 10,12 m. Sedangkan kecepatan aliran terbesar pada pipa C sebesar 0,42 m/s dan kecepatan aliran terendah pada pipa F sebesar 0,30 m/s. Kehilangan tekanan terbesar terdapat pada pipa G sebesar 9,89 m/km dan kehilangan tekanan terendah pada pipa A sebesar 3,55 m/km. Berdasarkan kriteria dari Peraturan Menteri No.18/PRT/M/2007 maka perencanaan alternatif sudah memenuhi kriteria, yaitu nilai kecepatan minimum 0,3 m/s, tekanan pada node di atas 10 m dan kehilangan tekanan kisaran optimum 1 – 4 m/km atau maksimal 10 m/km.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Potensi Risiko Kesehatan terhadap Pencemaran Air Tanah di Sekitar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62192" rel="alternate"/>
<author>
<name>Anwar D, Gusti</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62192</id>
<updated>2026-05-08T02:19:44Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Potensi Risiko Kesehatan terhadap Pencemaran Air Tanah di Sekitar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
Anwar D, Gusti
Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup dan lingkungan. Sebagian besar penduduk khususnya masyarakat Indonesia menggunakan air tanah sebagai sumber mata air utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kualitas air tanah dipengaruhi oleh ada atau tidaknya zat pencemar yang masuk ke dalam tanah dan air tanah. Salah satu pencemar air tanah dapat bersumber dari zat kimia yang berasal dari produk bahan bakar minyak yaitu senyawa BTEX. BTEX adalah polutan organik yang merupakan singkatan untuk benzena, toluena, etil benzena, dan xilena, yang mengandung karbon mudah menguap pada tekanan dan temperatur tertentu yang dapat mencemari tanah dan air tanah, salah satunya adalah melalui kebocoran tangki bawah tanah penyimpanan produk bahan bakar minyak. Potensi pencemar kandungan BTEX akibat kebocoran tangki BBM bawah tanah dan menyebar kedalam air tanah dapat berasal dari berbagai sumber paparan seperti melalui oral, dermal dan inhalasi. Untuk dapat mengetahui potensi paparan pencemar tersebut maka dilakukan sebuah analisis risiko terhadap responden terkena paparan. Analisis risiko kesehatan dan lingkungan merupakan sebuah pendekatan untuk menghitung atau memperkirakan risiko pada kesehatan manusia yang terpapar oleh suatu bahan atau zat kimia tertentu, termasuk identifikasi terhadap adanya potensi faktor ketidakpastian, upaya penelusuran atau identifikasi pada pajanan tertentu. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak adanya potensi pencemaran BTEX di SPBU X" Yogyakarta dengan hasil pengujian 3 sampel memiliki perbedaan penamaan senyawa Benzena dan waktu retensi dengan larutan standard BTEX, dan pada perhitungan analisis risiko terhadap responden dengan pajanan oral dan dermal masih dalam ambang batas aman nonkanker dibawah nilai RQ&gt;1 dan kanker dibawah nilai ECR &gt; 10-4.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
