<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Environmental Engineering</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/49" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/49</id>
<updated>2026-06-03T03:12:39Z</updated>
<dc:date>2026-06-03T03:12:39Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Efisiensi Removal Mikroorganisme pada Sistem Pengolahan (IPAL) Komunal</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/63010" rel="alternate"/>
<author>
<name>Arkana, Faza Erdhiraka</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/63010</id>
<updated>2026-05-25T06:34:26Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Efisiensi Removal Mikroorganisme pada Sistem Pengolahan (IPAL) Komunal
Arkana, Faza Erdhiraka
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal di permukiman padat&#13;
seringkali menghadapi tantangan operasional, termasuk tidak adanya unit&#13;
desinfeksi tersier dan fluktuasi debit limbah, yang menyebabkan efisiensi&#13;
removal bakteri fekal dan patogen menjadi tidak stabil. Penelitian ini&#13;
bertujuan mengevaluasi konsentrasi dan efisiensi removal fekal bakteri dan&#13;
patogen bakteri pada tiga IPAL komunal di Ngaglik, Sleman. Parameter&#13;
utama yang diuji meliputi bakteri indikator fekal (Escherichia Coli dan Total&#13;
Coliform) dan bakteri patogen infeksius (Salmonella Sp. dan Shigella Sp.)&#13;
dengan analisis menggunakan media selektif CCA dan SSA. Pengambilan&#13;
sampel dilakukan pada inlet dan outlet IPAL Mendiro, Tirto Mili, Tirto Asri,&#13;
selama empat bulan (September-Desember 2025). Hasil penelitian&#13;
menunjukkan konsentrasi efluen masih sangat tinggi, yaitu Salmonella Sp.&#13;
(38.500 CFU/mL), Shigella Sp. (175.000 CFU/mL), Total Coliform (525.000&#13;
CFU/mL), dan E. Coli (590.000 CFU/mL). Efisiensi penyisihan ditemukan&#13;
sangat fluktuatif, dengan rentang removal antara 0% hingga 87%. Penyisihan&#13;
tertinggi yaitu Salmonella Sp. (63%), Shigella Sp. (87%), Total Coliform&#13;
(87%), dan E. Coli (81%). Fenomena efisiensi nol ini mengindikasikan&#13;
kegagalan mekanisme kompetisi nutrisi dalam sistem anaerob serta terjadinya&#13;
pelepasan biofilm yang membawa massa bakteri ke aliran keluar. Kondisi ini&#13;
menunjukkan bahwa proses fisik-biologis saja belum mampu menjamin&#13;
keamanan air sesuai standar Permen LH No. 11 Tahun 2025. Oleh karena itu,&#13;
penambahan unit disinfeksi tersier menjadi intervensi krusial untuk&#13;
menstabilkan kualitas efluen dan memitigasi risiko kesehatan masyarakat&#13;
secara komprehensif.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Spasial dan Temporal Kualitas Air Sungai Code Berdasarkan Parameter Mikrobiologi</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/63008" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fakhrusy, Muhammad Aufan</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/63008</id>
<updated>2026-05-25T06:21:14Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Spasial dan Temporal Kualitas Air Sungai Code Berdasarkan Parameter Mikrobiologi
Fakhrusy, Muhammad Aufan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi kualitas mikrobiologis&#13;
air Sungai Code berdasarkan parameter Escherichia coli, Total Coliform,&#13;
Salmonella typhimurium, dan Shigella sp. serta mengkaji spasial dan&#13;
temporal. Pengambilan sampel dilakukan di lima titik yang mewakili&#13;
segmen hulu, tengah, dan hilir di Sungai Code. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa konsentrasi E. coli dan Total Coliform melebihi baku&#13;
mutu kualitas air permukaan (1000-10000 MPN/100mL). Disepanjang&#13;
sungai Code dari hulu, tengah hingga hilir mengalami lonjakan yang cukup&#13;
signifikan yang diakibatkan oleh perbedaan lokasi dan musim. Konsentrasi&#13;
E. Coli (2335 CFU/mL), Total Coliform (1600 CFU/mL), Salmonella&#13;
Typhimurium (720 CFU/mL) dan Shigella Sp. (1560 CFU/mL). Nilai&#13;
tertinggi terdapat bulan November yang merupakan puncak dari awal&#13;
musim hujan. Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh musim dapat&#13;
menigkatkan pencemaran mikrobiologi di perairan Sungai Code.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi Ekstrak Enzim Kasar oleh Jamur Pelapuk Putih dengan Substrat Limbah Pertanian Sekam Padi</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62851" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muthmainnah, Annisa</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62851</id>
<updated>2026-05-23T01:35:03Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Ekstrak Enzim Kasar oleh Jamur Pelapuk Putih dengan Substrat Limbah Pertanian Sekam Padi
Muthmainnah, Annisa
Enzim lakase merupakan enzim ligninolitik yang dihasilkan oleh jamur pelapuk&#13;
putih dan memiliki kemampuan mengoksidasi senyawa aromatik kompleks,&#13;
sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam proses bioremediasi. Penelitian ini&#13;
bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak enzim lakase yang dihasilkan oleh&#13;
jamur pelapuk putih serta respons awal aplikasinya terhadap tanah tercemar Total&#13;
Petroleum Hydrocarbon (TPH). Jamur pelapuk putih difermentasi pada media sekam&#13;
padi yang diperkaya Potato Dextrose Broth (PDB) selama 14 hari pada suhu 30 °C&#13;
dan kecepatan pengadukan 50 rpm. Aktivitas enzim lakase diukur menggunakan&#13;
metode spektrofotometri dengan substrat ABTS pada beberapa waktu inkubasi. Data&#13;
diperoleh melalui pengukuran aktivitas enzim (U/L) dan dianalisis secara deskriptif&#13;
serta menggunakan uji statistik non-parametrik Chi-Square. Hasil penelitian&#13;
menunjukkan bahwa aktivitas enzim pada perlakuan jamur cenderung lebih tinggi&#13;
dibandingkan kontrol pada seluruh waktu pengamatan, dengan peningkatan aktivitas&#13;
pada waktu inkubasi menengah hingga akhir. Namun, secara statistik perbedaan&#13;
tersebut tidak signifikan. Ekstrak enzim lakase yang dihasilkan kemudian&#13;
diaplikasikan pada tanah tercemar TPH dengan waktu inkubasi 3 jam, dan perubahan&#13;
karakteristik hidrokarbon dianalisis menggunakan metode gravimetri. Analisis data&#13;
dilakukan secara deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
jamur pelapuk putih mampu menghasilkan ekstrak enzim lakase dengan aktivitas&#13;
yang meningkat seiring bertambahnya waktu inkubasi. Aplikasi ekstrak enzim&#13;
lakase menunjukkan adanya respons awal terhadap senyawa hidrokarbon, meskipun&#13;
belum menunjukkan penurunan kadar TPH secara optimal dalam waktu inkubasi&#13;
yang singkat. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak enzim lakase berpotensi&#13;
dikembangkan lebih lanjut sebagai agen bioremediasi berbasis enzim.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Komparatif Metode Active dan Passive Treatment Terhadap Kualitas Air Dalam Pengelolaan Air Asam Tambang, PT Indexim Coalindo</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62530" rel="alternate"/>
<author>
<name>Virginisa, Shafira Jasmine</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62530</id>
<updated>2026-05-13T03:29:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Komparatif Metode Active dan Passive Treatment Terhadap Kualitas Air Dalam Pengelolaan Air Asam Tambang, PT Indexim Coalindo
Virginisa, Shafira Jasmine
Air asam tambang (AAT) merupakan salah satu permasalahan lingkungan&#13;
yang umum terjadi pada kegiatan pertambangan batubara akibat oksidasi mineral&#13;
sulfida yang menghasilkan air bersifat asam dan kaya logam terlarut. Penelitian&#13;
ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas metode active treatment&#13;
menggunakan CaCO3 dan passive treatment menggunakan open limestone&#13;
channel (OLC) dalam meningkatkan kualitas air tambang berdasarkan parameter&#13;
pH, TSS, Fe dan Mn, serta variabel pendukung meliputi Ca, Mg, Na, K, sulfat,&#13;
dan Al. Pengambilan sampel dilakukan pada dua settling pond berbeda, yaitu di&#13;
Settling Pond Kasturi 5 (active treatment) dan Settling Pond Rambai (passive&#13;
treatment), masing-masing pada dua kali waktu sampling dengan titik pengamatan&#13;
dari inlet hingga outlet. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada sistem active&#13;
treatment, pH meningkat signifikan menjadi 6,58 di outlet, sementara pada&#13;
passive treatment pH meningkat menjadi 7,49. Nilai TSS pada active treatment&#13;
menurun menjadi 4–17 mg/L, sedangkan pada passive treatment menurun&#13;
menjadi 10–27 mg/L. Konsentrasi Fe berkurang menjadi 2,4–3,4 mg/L pada&#13;
active treatment dan 0,39–0,49 mg/L pada passive treatment, sedangkan Mn&#13;
berkurang menjadi 0,6–0,8 mg/L pada active treatment dan 0,1–0,2 mg/L pada&#13;
passive treatment. Berdasarkan hasil tersebut, kedua metode sama-sama berperan&#13;
penting dalam pengendalian air asam tambang, namun pendekatan kombinatif&#13;
antara active dan passive treatment direkomendasikan untuk mencapai efektivitas&#13;
optimal serta keberlanjutan pengelolaan lingkungan tambang.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
