<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Department of Architecture</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/3342" rel="alternate"/>
<subtitle>The Department of Architecture consists of three study programs namely:  (a) Undergraduate Bachelor of Architecture (4 years); (b) Architect Profession Program; and (c) Master in Architecture</subtitle>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/3342</id>
<updated>2026-04-21T17:21:49Z</updated>
<dc:date>2026-04-21T17:21:49Z</dc:date>
<entry>
<title>TERRITORIALITY SEBAGAI INDIKATOR PLACEMAKING DI JALAN SLAMET RIYADI SURAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/59814" rel="alternate"/>
<author>
<name>Saeka, Pranesya Kusuma</name>
</author>
<author>
<name>Saptorini, Hastuti</name>
</author>
<author>
<name>Wulan Ghanni, Mu’Zizah Rizka</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/59814</id>
<updated>2026-01-27T07:22:03Z</updated>
<published>2025-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">TERRITORIALITY SEBAGAI INDIKATOR PLACEMAKING DI JALAN SLAMET RIYADI SURAKARTA
Saeka, Pranesya Kusuma; Saptorini, Hastuti; Wulan Ghanni, Mu’Zizah Rizka
Jalan Slamet Riyadi di Surakarta merupakan salah satu jalan utama yang&#13;
memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai kawasan, termasuk pusat bisnis&#13;
dan tempat wisata. Dengan banyaknya ragam pengguna, seperti pengendara, pejalan&#13;
kaki dan pedagang kaki lima, jalan ini menjadi area yang dinamis dan sering digunakan&#13;
untuk berbagai kegiatan sosial dan komersial. Konsep territoriality di Jalan Slamet Riyadi&#13;
tercermin dari bagaimana berbagai kelompok pengguna mengklaim dan menandai&#13;
ruang mereka melalui aktivitas sehari-hari. Pedagang kaki lima, misalnya, secara&#13;
informal membentuk teritori dengan mengatur barang dagangan mereka di lokasi-lokasi&#13;
strategis, sementara pejalan kaki memiliki area trotoar yang telah ditentukan. Penelitian&#13;
ini menganalisis empat variabel penentu keberhasilan tempat, yaitu aksesibilitas yang&#13;
mencakup kemudahan pencapaian dan pergerakan, kenyamanan yang meliputi aspek&#13;
keamanan dan kebersihan, penggunaan yang melihat variasi aktivitas, serta interaksi&#13;
sosial yang terjadi antar pengguna. Dalam konteks budaya Jawa di Surakarta,&#13;
territoriality tidak hanya bersifat fisik tetapi juga sosial-budaya, di mana ruang publik&#13;
seperti Jalan Slamet Riyadi menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat&#13;
dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kesopanan dan keharmonisan dalam berbagi&#13;
ruang. Pemahaman mendalam tentang dinamika territoriality ini penting untuk&#13;
menciptakan ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2025-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>IDENTIFYING KEY ELEMENTS OF GENIUS LOCI IN THE AREAS OF HISTORICAL MOSQUES IN YOGYAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/59468" rel="alternate"/>
<author>
<name>Putri, Nanda Eka</name>
</author>
<author>
<name>Agfarizky, uhammad Erlangga Yubi</name>
</author>
<author>
<name>Agustiananda, Putu Ayu Pramanasari</name>
</author>
<author>
<name>Rafi, Fitri Amalia</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/59468</id>
<updated>2026-01-06T08:50:54Z</updated>
<published>2025-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">IDENTIFYING KEY ELEMENTS OF GENIUS LOCI IN THE AREAS OF HISTORICAL MOSQUES IN YOGYAKARTA
Putri, Nanda Eka; Agfarizky, uhammad Erlangga Yubi; Agustiananda, Putu Ayu Pramanasari; Rafi, Fitri Amalia
This research explores the key elements of genius loci in the areas of historical&#13;
mosques in Yogyakarta. These mosques’ areas demonstrate the acculturation of Hindu&#13;
and Buddhist tradition and the architecture of the early mosques in Nusantara. Using&#13;
qualitative methods, the study examines the elements of genius loci framed by NorbergSchulz’s&#13;
on&#13;
the&#13;
areas&#13;
of&#13;
Masjid&#13;
Gedhe&#13;
Mataram&#13;
and&#13;
Masjid&#13;
Gedhe&#13;
Kauman&#13;
in&#13;
Yogyakarta.&#13;
&#13;
The&#13;
&#13;
findings reveal that both mosques’ area integrate image, space, and character yet&#13;
differ in the extent to which they manifest Islamic and local cultural influences. The&#13;
conclusions suggest that these mosques’ areas not only serve as religious sites but also as&#13;
cultural symbols, highlighting the resilience of local identity amidst social transformation.&#13;
Recommendations include emphasizing the preservation of cultural narratives in&#13;
architectural development to maintain a connection with the past while accommodating&#13;
modern needs
</summary>
<dc:date>2025-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>HOME-BASED ENTREPRENEURS DI PERUMAHAN NGASEM YOGYAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/59467" rel="alternate"/>
<author>
<name>Amira, Nafisa</name>
</author>
<author>
<name>Saptorini, Hastuti</name>
</author>
<author>
<name>Wulan Ghanni, Mu’zizah Rizka</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/59467</id>
<updated>2026-01-06T08:48:11Z</updated>
<published>2025-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">HOME-BASED ENTREPRENEURS DI PERUMAHAN NGASEM YOGYAKARTA
Amira, Nafisa; Saptorini, Hastuti; Wulan Ghanni, Mu’zizah Rizka
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran home-based entrepreneurs&#13;
di Perumahan Ngasem, Yogyakarta, yang menggunakan ruang di dalam rumah untuk&#13;
menjalankan berbagai jenis usaha, seperti kuliner, tekstil, dan layanan pulsa. Pasar&#13;
Ngasem sebagai pusat perdagangan lokal memberikan kontribusi signifikan terhadap&#13;
kegiatan ekonomi di sekitar perumahan, dengan penduduk yang memanfaatkan rumah&#13;
mereka untuk berwirausaha. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif&#13;
dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi partisipatif, dan survei&#13;
lapangan. Responden dipilih secara purposive sampling, yaitu pengusaha yang telah&#13;
beroperasi setidaknya satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha rumahan&#13;
ini tidak hanya memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat setempat, tetapi juga&#13;
memperkuat ikatan komunitas dan mendukung dinamika sosial. Tiga jenis usaha yang&#13;
ditemukan, yaitu warung nasi uduk, toko batik, dan counter pulsa, memanfaatkan ruang&#13;
terbatas dengan pengaturan yang efisien. Penelitian ini mengindikasikan bahwa homebased&#13;
&#13;
entrepreneurs di Perumahan Ngasem memainkan peran penting dalam proses&#13;
placemaking, yang berkontribusi pada penataan ruang serta interaksi sosial dan ekonomi&#13;
masyarakat.
</summary>
<dc:date>2025-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>OMAH BUDOYO TEMPAT WISATA KREATIF SEBAGAI WADAH INTERAKSI SOSIAL DI YOGYAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/59466" rel="alternate"/>
<author>
<name>Qoriani, Dona</name>
</author>
<author>
<name>Darmawati, Rini</name>
</author>
<author>
<name>Almira, isrina Salsabila</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/59466</id>
<updated>2026-01-06T08:46:11Z</updated>
<published>2025-07-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">OMAH BUDOYO TEMPAT WISATA KREATIF SEBAGAI WADAH INTERAKSI SOSIAL DI YOGYAKARTA
Qoriani, Dona; Darmawati, Rini; Almira, isrina Salsabila
Omah Budoyo merupakan ruang interaksi sosial yang mengangkat budaya&#13;
lokal Jawa melalui pendekatan placemaking dengan variabel cooperative dan diverse di&#13;
Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana desain ruang,&#13;
aktivitas yang beragam, dan pengelolaan fasilitas di Omah Budoyo mendukung&#13;
terciptanya interaksi sosial. Adanya dua tantangan di Omah Budoyo yang ditemukan,&#13;
yaitu fasilitas komunal dan pencahayaan yang kurang optimal di beberapa area. Seperti&#13;
halnya fasilitas komunal berupa tempat duduk yang tidak dapat mengakomodasi&#13;
kebutuhan pengunjung secara maksimal. Tidak optimalnya pencahayan seperti redupnya&#13;
cahaya dan ketidaksesuaian warna. Data dikumpulkan melalui observasi langsung,&#13;
dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur. Setelahnya dilakukan pengolahan data&#13;
dengan cara analisis variabel berdasarkan Project for Public Space (PPS) serta diikuti&#13;
dengan pemetaan pola interaksi pengunjung pada Omah Budoyo Yogyakarta. Hasil&#13;
penelitian menunjukkan bahwa desain ruang yang fleksibel, aktivitas seni dan budaya,&#13;
serta keterlibatan komunitas berhasil menciptakan interaksi sosial yang dinamis.&#13;
Rekomendasi diberikan untuk meningkatkan fasilitas komunal dan pencahayaan di area&#13;
tertentu untuk kenyamanan pengunjung
</summary>
<dc:date>2025-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
