<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>SAKAPARI 2020 #SERIES 7</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/25334" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/25334</id>
<updated>2026-04-25T13:56:22Z</updated>
<dc:date>2026-04-25T13:56:22Z</dc:date>
<entry>
<title>Menentukan Heritage [Warisan-Pusaka]  Arsitektur Bangunan Bersejarah dalam Pelestarian</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43632" rel="alternate"/>
<author>
<name>Antariksa, Antariksa</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43632</id>
<updated>2023-05-02T07:17:32Z</updated>
<published>2021-02-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Menentukan Heritage [Warisan-Pusaka]  Arsitektur Bangunan Bersejarah dalam Pelestarian
Antariksa, Antariksa
Pelestarian dalam arsitektur bangunan merupakan salah satu daya tarik bagi&#13;
sebuah kawasan. Dengan terpeliharanya satu bangunan bersejarah pada suatu kawasan&#13;
akan memberikan ikatan kesinambungan yang erat, antara masa kini dan masa lalu.&#13;
Seorang ahli hukum dari Universitas Kopenhagen, Denmark, JJA Worsaae pada abad ke-19&#13;
mengatakan, ”bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya melihat masa kini dan&#13;
masa mendatang, tetapi mau berpaling ke masa lampau untuk menyimak perjalanan yang&#13;
dilaluinya. Hal senada juga pernah diungkapkan oleh filosuf Aguste Comte dengan ”Savoir&#13;
Pour Prevoir”, yang diartikan sebagai mempelajari masa lalu, melihat masa kini, untuk&#13;
menentukan masa depan. Melihat hal tersebut, maka masa lalu yang diungkapkan dengan&#13;
keberadaan fisik dari bangunan bersejarah akan ikut menentukan dan memberikan&#13;
identitas yang khas bagi suatu kawasan perkotaan di masa mendatang.&#13;
Kawasan bersejarah yang memiliki karakter unik, seperti terdapatnya bangunanbangunan&#13;
&#13;
bersejarah yang perlu pemahaman historis dan arsitekturnya. Hal ini&#13;
dimaksudkan agar makna kultural yang berupa nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau&#13;
nilai sosial untuk generasi lampau, masa kini, dan masa mendatang akan dapat terpelihara.&#13;
Bagaimana hasil dari penilaian makna kultural tadi dapat ditentukan untuk strategi&#13;
pelestarian warisan arsitektur bangunan tersebut. Hal ini dikarenakan bangunganbangunan&#13;
tersebut&#13;
merupakan&#13;
peradaban&#13;
hasil&#13;
karya&#13;
budaya&#13;
manusia.&#13;
&#13;
&#13;
Jadi&#13;
dapat&#13;
disimpulkan&#13;
bahwa,&#13;
tanpa&#13;
usaha&#13;
pelestarian&#13;
yang&#13;
layak&#13;
sebuah&#13;
kota&#13;
akan&#13;
&#13;
kehilangan&#13;
sejarahnya&#13;
yang&#13;
seharusnya&#13;
menghubungkan&#13;
kita&#13;
dengan&#13;
masa&#13;
lalu,&#13;
juga&#13;
akan&#13;
&#13;
kehilangan&#13;
identitasnya.&#13;
Dengan&#13;
hilangnya&#13;
bangunan&#13;
kuno&#13;
tersebut,&#13;
lenyap&#13;
pulalah&#13;
bagian&#13;
&#13;
sejarah&#13;
dari&#13;
suatu&#13;
tempat&#13;
yang&#13;
sebenarnya&#13;
telah&#13;
menciptakan&#13;
suatu&#13;
identitas&#13;
tersendiri,&#13;
&#13;
sehingga&#13;
menimbulkan&#13;
erosi&#13;
identitas&#13;
budaya&#13;
(Sidharta&#13;
&amp;&#13;
Budhiardjo&#13;
1989).&#13;
&#13;
&#13;
Dengan&#13;
&#13;
demikian, tujuan konservasi tidak semata untuk meningkatkan mutu&#13;
kawasan cagar budaya kota secara fisik saja, tetapi juga untuk menjaga stabilitas&#13;
perkembangan kawasan atau bangunan itu sendiri.
</summary>
<dc:date>2021-02-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Transisi Tata Ruang Baru Dalam Kegiatan Bercocok Tanam Di Rumah Tinggal Di Masa Pandemi Covid-19</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43601" rel="alternate"/>
<author>
<name>Khoirun Aziza, Fahmi</name>
</author>
<author>
<name>Prasasti Anggraini, Stefy</name>
</author>
<author>
<name>Ayu Lestari, Tidi</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43601</id>
<updated>2023-04-19T03:39:12Z</updated>
<published>2021-02-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Transisi Tata Ruang Baru Dalam Kegiatan Bercocok Tanam Di Rumah Tinggal Di Masa Pandemi Covid-19
Khoirun Aziza, Fahmi; Prasasti Anggraini, Stefy; Ayu Lestari, Tidi
Hadirnya Pandemi Covid - 19 yang terjadi di negara-negara di dunia&#13;
menyebabkan perubahan perubahan pola aktivitas manusia. Ketakutan masing- masing&#13;
individu untuk berkegiatan di luar rumah ini menjadikan panic buying terjadi di&#13;
beberapa kota di beberapa negara di dunia. Hal ini berpengaruh terhadap ketersediaan&#13;
dan harga - harga komoditas pangan. Kegiatan mandiri pangan menjadi jalan dalam&#13;
penanggulangan ketersediaan komoditas pangan. Fungsi rumah pun bertambah, dari&#13;
yang menjadi tempat beristirahat, lalu bertambah menjadi tempat bertahan dan tempat&#13;
berkegiatan sehari-hari. Ditambah lagi ada kegiatan bercocok tanam di rumah.&#13;
Kegiatan bercocok tanam ini tentu membutuhkan ruang dalam rumah tinggal. Ruang&#13;
ini terbentuk dari pengalihan fungsi ruang lama menjadi ruang untuk bercocok tanam.&#13;
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengkaji permasalahan baru dari&#13;
kegiatan bercocok tanam ini yaitu pengolahan keterbatasan ruang dalam rumah&#13;
menjadi ruang baru dengan fungsi bercocok tanam. Menggunakan metode kualitatif&#13;
secara kajian maupun pengamatan langsung diharapkan bisa menjawab pertanyaan&#13;
yang timbul sehingga terciptalah tata ruang yang baik
</summary>
<dc:date>2021-02-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Penataan Kawasan Prambanan Berdasarkan Teori Citra Kota</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43600" rel="alternate"/>
<author>
<name>Arsli Muzady, Fidzin</name>
</author>
<author>
<name>Fajriyanto, Fajriyanto</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43600</id>
<updated>2023-04-19T03:35:56Z</updated>
<published>2021-02-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Penataan Kawasan Prambanan Berdasarkan Teori Citra Kota
Arsli Muzady, Fidzin; Fajriyanto, Fajriyanto
Kota-kota di dunia selalu berkembang, tak terkecuali di kawasan Prambanan,&#13;
yang terus berkembang mengikuti perubahan jaman pada dimensi global (urban&#13;
competitiveness). Dalam persaingan global, Suatu kota harus mempunyai identitas yang&#13;
Kuat. Aspek gambaran kota yang menonjol akan menciptakan representasi kota bagi&#13;
penduduk maupun pengunjungnya. Di kawasan Prambanan identitas dan citra yang&#13;
menonjol yaitu landmark obyek wisata Candi Prambanan sebagai tempat wisata. Namun,&#13;
adanya obyek wisata Candi Prambanan tidak sepenuhnya berdampak baik bagi kawasan&#13;
sekitarnya. Dengan padatnya arus wisatawan yang berkunjung menyebabkan&#13;
permasalahan terkait dengan penataan kawasan. Banyak masyarakat sekitar maupun&#13;
pendatang berbondong-bondong untuk membangun usaha perdagangan dalam&#13;
mencari keuntungan dari wisatawan yang berkunjung, hal ini berangsur-angsur akan&#13;
menjadikan kawasan Prambanan sebagai area perdagangan. Dengan begitu citra&#13;
pariwisata justru tersamarkan, digantikan oleh perdagangan yang berangsur tak&#13;
terkontrol. Untuk itu maka model penataan dengan mengedepankan pada potensi&#13;
pariwisata harus dilakukan untuk menghindari tergerusnya citra sebagai kawasan&#13;
pariwisata yang sudah diakui dunia ini
</summary>
<dc:date>2021-02-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kajian Pemanfaatan Jalan Gang Sebagai Ruang Belajar Daring Selama Pandemi Covid-19 Di Bintaran Kidul, Kota Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43599" rel="alternate"/>
<author>
<name>Arsli Muzady, Fidzin</name>
</author>
<author>
<name>Kunto Wibisono, Tony</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43599</id>
<updated>2023-04-19T03:32:40Z</updated>
<published>2021-02-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kajian Pemanfaatan Jalan Gang Sebagai Ruang Belajar Daring Selama Pandemi Covid-19 Di Bintaran Kidul, Kota Yogyakarta
Arsli Muzady, Fidzin; Kunto Wibisono, Tony
Sebuah gang sempit di permukiman padat Bintaran Kidul yang mulanya&#13;
hanya sebagai tempat untuk berlalu lalang kendaraan maupun pejalan kaki, kini&#13;
fungsinya bergeser menjadi tempat untuk belajar daring 'work from home' bagi siswa&#13;
sekolah selama pandemi Covid-19. Para siswa memenuhi badan jalan gang dan teras&#13;
rumah warga sebagai tempat untuk melakukan pembelajaran selama waktu&#13;
pembelajaran daring. Selain membawa gadget dan buku sekolah untuk belajar, para&#13;
siswa juga membawa alas tikar, meja, dan kursi yang digunakan sebagai kelengkapan&#13;
belajar daring. Fenomena ini terjadi lantaran disebabkan adanya wi-fi yang disediakan&#13;
oleh Layanan Internet Masyarakat (LIMAS) di gang tersebut yang dapat diakses untuk&#13;
belajar daring dengan biaya yang lebih ekonomis dibanding dengan menggunakan kuota&#13;
internet. Warga menganggap jalan gang sebagai lahan miliknya, penyebabnya yakni&#13;
dikarenakan budaya bermukim warga di permukiman Bintaran Kidul masih dipengaruhi&#13;
oleh nilai-nilai tradisional karena masih diwarnai oleh perasaan senasib&#13;
sepenanggungan dalam kehidupan bertetangga. Hal ini dikarenakan warganya&#13;
mayoritas berpenghasilan rendah. Sehingga sikap warga terpengaruh dalam&#13;
memandang dan menggunakan ruang jalan. Hal ini lambat laun akan menyebabkan&#13;
penumpukan aktivitas yang dapat menimbulkan permasalahan yang lain. Untuk itu perlu&#13;
dilakukan konsensus bersama untuk lebih mementingkan fungsi publik seperti yang&#13;
seharusnya
</summary>
<dc:date>2021-02-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
