<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>SAKAPARI 2019 #SERIES 4</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/25331" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/25331</id>
<updated>2026-04-21T15:28:01Z</updated>
<dc:date>2026-04-21T15:28:01Z</dc:date>
<entry>
<title>PERILAKU TERHADAP TATA RUANG PURO MANGKUNEGARAAN  BERDASAR BUDAYA JAWA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43055" rel="alternate"/>
<author>
<name>Qul, T Andrew Amalul Ahli Taufiq</name>
</author>
<author>
<name>Arqodi, Rivqy Rama</name>
</author>
<author>
<name>Hermawan, Tio</name>
</author>
<author>
<name>Sholihah, Arif Budi</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43055</id>
<updated>2023-04-04T06:04:22Z</updated>
<published>2019-07-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PERILAKU TERHADAP TATA RUANG PURO MANGKUNEGARAAN  BERDASAR BUDAYA JAWA
Qul, T Andrew Amalul Ahli Taufiq; Arqodi, Rivqy Rama; Hermawan, Tio; Sholihah, Arif Budi
Penelitian ini berjudul perilaku terhadap tata ruang puro mangkunegaraan berdasar budaya jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Alasan mengapa pola perilaku manusia terhadap tata ruang puro amgkunegaraan bisa berpengaruh, (2) Bagaimana pola tata ruang pada puro Mangkunegaran. Penelitian ini mengunakan wawancara dan survei tempat dengan sampel hasil wawancara dari guide puro angkunegaraan dengan bantuan data-data lainnya dengan teknik pengambilan data sesi tanya jawab dan pengambilan gambar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dan studi pustaka. Metode &#13;
sekunder juga diterapkan yaitu mengambil data dari buku dan jurnal, kemudian data dianalisa dan diinterpretasikan berdasarkan kronologisnya. Untuk menganalisis data, digunakan pendekatan ilmu sosial yang lain sebagai ilmu bantu ilmu sejarah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ekonomi, dan sosiologi. Hasil penelitian menunjukkan dimana antara manusia dan ingkungannya terjalin hubungan timbal balik. Hubungan yang terjadi antara lingkungan dengan manusia berupa pengaruh terhadap perilaku manusia dalam bermasyarakat yang dimana menimbulkan dampak pada arsitektur yakni dalam penataan ruang dalam bangunan keraton atau bangsawan jawa.
</summary>
<dc:date>2019-07-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>BANGSAL DI DALAM BANGSAL KERATON SURAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43054" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fauziyyah, Isyrin Yus</name>
</author>
<author>
<name>Astuti, Dwi Karina Harmi</name>
</author>
<author>
<name>Fauziyyah, Irena Suryandari</name>
</author>
<author>
<name>Santosa, Revianto Budi</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43054</id>
<updated>2023-04-04T06:02:06Z</updated>
<published>2019-07-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">BANGSAL DI DALAM BANGSAL KERATON SURAKARTA
Fauziyyah, Isyrin Yus; Astuti, Dwi Karina Harmi; Fauziyyah, Irena Suryandari; Santosa, Revianto Budi
Bangsal adalah bangunan Jawa yang digunakan sebagai tempat berkumpul dan dibangun menggunakan material kayu. Bangsal merupakan unsur khas dalam kompleks keraton Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bangsal di dalam bangsal yang ada di keraton Surakarta. Metodologi yang dilakukan adalah observasi dengan mengambil foto secara langsung di keraton Surakarta. Bangsal Pangrawit di Pagelaran (Sasana Sumewa) merupakan pusaka peninggalan dari Kerajaan Majapahit yang memiliki kolom dan balok bermaterial kayu, bentuk atap pelana dan lantai keramik. Bangsal Manguneng di Bangsal Witana merupakan tempat persemayaman pusaka keraton Kangjeng Nyai Setomi, sebuah meriam yang konon dirampas oleh tentara Kesultanan Mataram dari VOC saat menyerbu Batavia, memiliki kolom dan balok bermaterial kayu, bentuk atap limasan, dinding berupa panel kayu dan kaca dan lantai keramik. Bangsal Manguntur Tangkil di Siti Hinggil (Sewayana) merupakan tempat singgasana tahta Sri Sunan saat menerima para pimpinan, yang memiliki kolom dan balok bermaterial kayu, bentuk atap limasan dan lantai berupa keramik.
</summary>
<dc:date>2019-07-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>KAJIAN MORFOLOGI ARSITEKTUR KERATON DAN MASJID AGUNG  SURAKARTA MENARA PADA KAWASAN KERATON SURAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43052" rel="alternate"/>
<author>
<name>Abidah, Anis</name>
</author>
<author>
<name>Widodo, Muhammad Faiz Ariq</name>
</author>
<author>
<name>Triwening, Noor Shanty Retno</name>
</author>
<author>
<name>Santosa, Revianto Budi</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43052</id>
<updated>2023-04-04T06:00:07Z</updated>
<published>2019-07-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">KAJIAN MORFOLOGI ARSITEKTUR KERATON DAN MASJID AGUNG  SURAKARTA MENARA PADA KAWASAN KERATON SURAKARTA
Abidah, Anis; Widodo, Muhammad Faiz Ariq; Triwening, Noor Shanty Retno; Santosa, Revianto Budi
Arsitektur menara pada Keraton dan Masjid Agung Surakarta secara sekilas memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain, adanya penelitian ini untuk memahami tema (tipe) dan keragaman pada masing-masing menara; Panggung Sanggabuwana, Menara Masjid Agung, danTugu Tomaswarsa, membandingkan dari aspek bentuk dasar, elemen-elemen penyusun, komposisi (susunan), rinci &amp; ornamentasi. Ketiga menara memiliki bentuk dasar yang berbeda, dengan elemen penyusun dinding bata, kayu serta kaca yang disusun selang-seling tetapi repetisi sehingga ornamen pada masing-masing menara tidak terlihat monoton. Arsitektur menara memiliki ciri khasnya. Terletak di kawasan yang sama namun arsitektur masing-masing menara berbeda. Menara-menara tersebut seharusnya bisa dijaga dan dirawat oleh semua pihak agar tetap seperti rancangan aslinya.
</summary>
<dc:date>2019-07-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>KAJIAN ARSITEKTUR KUNCUNG DAN KANOPI KERATON SURAKARTA</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/43051" rel="alternate"/>
<author>
<name>Allaiys, Alfaaruq</name>
</author>
<author>
<name>Cahyo N, Adianto</name>
</author>
<author>
<name>Faaza F, Ahmad</name>
</author>
<author>
<name>Sastra Sakti, Pandega</name>
</author>
<author>
<name>Santosa, Revianto Budi</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/43051</id>
<updated>2023-04-04T05:57:48Z</updated>
<published>2019-07-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">KAJIAN ARSITEKTUR KUNCUNG DAN KANOPI KERATON SURAKARTA
Allaiys, Alfaaruq; Cahyo N, Adianto; Faaza F, Ahmad; Sastra Sakti, Pandega; Santosa, Revianto Budi
Kuncung adalah bangunan terdepan dari rumah tradisional jawa. Lantai kuncung lebih rendah dari lantai Pendhapa berfungsi sebagai tempat pemberhentian kendaraan tamu atau pemilik rumah, sedangkan lantai kuncung yang sebidang dengan lantai pendhapa berfungsi sebagai tempat bersantai pemilik rumah dan tamu, serta berfungsi sebagai tempat pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat yang hadir di halaman rumah. (Kuncungan pada bangunan keraton disebut dengan nama Maligi).&#13;
Kanopi adalah tirai atau langit-langit dari pada teras yang bertiang sebagai pemisah halaman dengan bagian luar rumah ataupun suatu bangunan. Di negara-negara Eropa, tepatnya pada abad pertengahan menjelaskan jika kanopi dalam Bahasa Prancis berarti Canope serta dalam Bahasa Latin berarti Canopeum mempunyai arti serta erat kaitannya dengan tempat tidur bertiang empat dengan tirai atau kain yang menutupi bagian atas serta samping.
</summary>
<dc:date>2019-07-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
