<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Faculty of Business and Economics</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/24" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/24</id>
<updated>2026-05-14T15:21:11Z</updated>
<dc:date>2026-05-14T15:21:11Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Penerapan Sistem Pos Odoo  dalam Pengelolaan Transaksi Outlet  pada Pt XYZ : Studi Kasus Perusahaan F&amp;B</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62552" rel="alternate"/>
<author>
<name>Firmansyah, Muhammad Alim</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62552</id>
<updated>2026-05-13T04:35:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Penerapan Sistem Pos Odoo  dalam Pengelolaan Transaksi Outlet  pada Pt XYZ : Studi Kasus Perusahaan F&amp;B
Firmansyah, Muhammad Alim
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Impor Beras di Indonesia Tahun 1995–2014</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62549" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hakim, Fahmi Abdul</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62549</id>
<updated>2026-05-13T04:28:31Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Impor Beras di Indonesia Tahun 1995–2014
Hakim, Fahmi Abdul
Indonesia merupakan Negara dengan konsumsi total beras terbesar didunia. Permintaan beras dalam negeri cukup tinggi dibandingkan dengan konsumsi beras Negara lainnya sehingga produksi beras dalam negeri tidak mampu menycukupi kebutuhannya. Impor beras menjadi pilihan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Ironisnya, setiap tahun pemerintah selalu mengimpor beras dengan berbagai alasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variable independen (produksi beras, total konsumsi beras, cadangan beras, inflasi dan harga beras internasional) terhadap variable dependent (volume impor beras). Data yang digunkan data sekunder time series dari tahun 1995-2014 yang diperoleh secara tidak langsung. Model analisis yang digunakan adalah alat anaisis ekonometrika Error Corretion Model (ECM). Data yang digunakan bersumber dari beberapa sumber yaitu United States Departement of Agriculture (USDA), International Monetary Fund (IMF) dan Badan Pusat Statistic (BPS) Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi impor beras dalam jangka pendek secara signifikan yaitu produksi beras mempunyai hubungan negatif, total konsumsi beras dan inflasi mempunyai hubungan positif. Dan yang mempengaruhi impor beras secara signifikan dalam jangka panjang yaitu produksi beras mempunyai hubungan negatifdan konsumsi beras mempunyi hubungan positif terhadap impor beras.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62532" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ahmad, Muamar</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62532</id>
<updated>2026-05-13T03:42:32Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur
Ahmad, Muamar
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis sektor- sektor yang potensial, memiliki spesialisasi dan keunggulan kompetitif sektor- sektor yang ada serta tipologi daerah di Kabupaten/Kota pada wilayah Propinsi Kalimantan Timur dalam kurun waktu 2011-2015. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang terdiri atas data kurun waktu 2011-2015 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Kalimantan Timur, BPS Kabupaten/Kota dan Bappeda Propinsi Kalimantan Timur, sedangkan model analisis yang digunakan adalah analisis LQ, Analisis Shift-share dan Tipologi Klassen. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa masing-masing Kabupaten/Kota memiliki sektor potensial sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Sebagian besar sektor basis yang dimiliki adalah Sektor Pertanian, kehutanan dan perikanan dan sektor Pertambangan dan Penggalian. Namun, sektor industri pengolahan dan sektor jasa keuangan dan asuransi hanya di miliki oleh dua Kota saja. Dari 17 sektor yang diteliti di 10 Kabupaten/Kota semua daerah memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasidengan Kota Balikpapan memiliki spesialisasi sektor terbanyak dengan 15 sektor dan Kab. Mahakam Ulu memiliki Keunggulan kompetitif terbanyak dengan 12 sektor. Untuk tipologi daerah di Kalimantan Timur dari 10 Kabupaten/Kota yang diteliti, 1 Kabupaten merupakan daerah maju dan cepat tumbuh, 2 Kabupaten/Kota merupakan daerah maju tapi tertekan, 7 sisanya merupakan daerah yang berkembang cepat.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Ketimpangan Pembangunan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011–2015</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/62529" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zulfakar, Saiful Anwar</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/62529</id>
<updated>2026-05-13T03:28:50Z</updated>
<published>2017-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Ketimpangan Pembangunan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2011–2015
Zulfakar, Saiful Anwar
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung tingkat ketimpangan pembangunan di Provinsi Kalimantan Barat, menganalisis dan mengetahui ketimpangan pembangunan wilayah antar Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat dengan menggunakan variabel bebas pengangguran, belanja pemerintah daerah, investasi dan PDRB per kapita. Data yang digunakan adalah data cross section dan data time series yang biasanya disebut dengan data panel pada tahun 2011-2015 dengan metode Random Effects Model (REM) pada program eviews 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan Indeks Williamson di Provinsi Kalimantan Barat masih tergolong rendah walaupun mengalami kenaikan, variabel pengangguran berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap ketimpangan pembangunan. Hal ini terjadi karena tidak semua masyarakat menganggur, akan tetapi ada sebagian masyarakat yang sudah bekerja, tetapi jam kerja kurang dari 35 jam per minggu. Sehingga masyarakat tersebut masih produktif dalam suatu wilayah tersebut, tetapi tingkat produktifitasnya rendah. Variabel belanja pemerintah daerah dan investasi berpengaruh signifikan negatif terhadap ketimpangan pembangunan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat dan variabel PDRB per kapita berpengaruh signifikan positif terhadap ketimpangan pembangunan antar Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat.
</summary>
<dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
