<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Master of Architecture</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/23602" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/23602</id>
<updated>2026-09-28T20:13:46Z</updated>
<dc:date>2026-09-28T20:13:46Z</dc:date>
<entry>
<title>Masjid Jogokariyan sebagai Third Place</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/66950" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fayazid, M Syauqi Hikam</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/66950</id>
<updated>2026-09-09T08:53:22Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Masjid Jogokariyan sebagai Third Place
Fayazid, M Syauqi Hikam
Aktivitas dan pengguna mempengaruhi transformasi ruang menjadi sebuah tempat. Begitu&#13;
pula Tempat Ketiga (Third Place) yang muncul akibat kebutuhan ruang sosial dan komunitas&#13;
diluar rumah (First Place) dan tempat produktif (Second Place). Perkembangan Tempat Ketiga&#13;
dipengaruhi oleh budaya dan kemampuan ruangnya dalam mengakomodasi fungsi sebagai&#13;
Tempat Ketiga, yakni kemampuan ruang dalam menyediakan kesempatan berinteraksi bagi&#13;
berbagai kelompok (Neutral Ground). Sehingga, perkembangan kajian Tempat Ketiga tidak&#13;
hanya terbatas pada tipologi tempat seperti restoran, café, dan ruang komunitas. Perkembangan&#13;
objek kajian Tempat Ketiga meluas pada perpustakaan hingga ruang keagamaan yang bukan&#13;
murni sebagai Tempat Ketiga. Hal ini menjadi menarik ketika karakter neutral ground dapat&#13;
ditemui pada ruang keagamaan (religious spaces) seperti halnya pada masjid. Terlebih, masjid&#13;
kontemporer/masa kini tidak lagi sekedar dipahami sebagai ruang ibadah saja, tetapi juga dapat&#13;
mengakomodasi fungsi sosial sesuai konteks kebutuhan masyarakatnya. Negosiasi antara&#13;
ruang keagamaan dengan aktivitas non-keagamaan terjadi dalam beberapa kasus masjid,&#13;
khususnya di Indonesia. Seperti halnya yang terjadi di Masjid Jogokariyan yang memiliki pola&#13;
pemanfaatan ruang seperti Tempat Ketiga, terdapat kekuatan sosial antara masjid dengan&#13;
warga kampung dan adanya kemampuan ruang-ruang masjid dalam mengakomodasi berbagai&#13;
aktivitas sosial yang bersifat keagamaan hingga non-keagamaan di dalam ruang-ruang masjid.&#13;
Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadikan&#13;
Masjid Jogokariyan sebagai Tempat Ketiga (Third Place) dan bagaimana proses terbentuknya.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus tunggal yaitu Masjid&#13;
Jogokariyan, Yogyakarta. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan&#13;
menggali pemahaman pada Masjid Jogokariyan sebagai Tempat Ketiga (Third Place) dalam&#13;
konteks ruang keagamaan. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa Masjid&#13;
Jogokariyan berfungsi sebagai Tempat Ketiga (Third Place) karena didukung oleh tiga faktor&#13;
utama, yaitu faktor spasial, faktor sosial, dan faktor teknikal. Faktor spasial meliputi kreativitas&#13;
serambi, dual pusat ruang dan pola ekspansi ruang, serta Islamic Center sebagai ruang otonom&#13;
yang memperluas kapasitas aktivitas. Faktor sosial ditunjukkan oleh keragaman pengguna&#13;
(regulars dan newcomers), yaitu pembentukan jejaring sosial internal-eksternal. Faktor&#13;
teknikal menjadi mekanisme yang memungkinkan ruang-ruang di Masjid Jogokariyan terus&#13;
beradaptasi terhadap dinamika aktivitas dan pengguna melalui strategi zonasi ruang yang&#13;
adaptif, fleksibilitas dalam penggunaan ruang, dan strategi elemen arsitektur yang plural.&#13;
Ketiga faktor terbentuk melalui proses praktik sosial yang mendorong negosiasi ruang yang berkelanjutan, sehingga menghasilkan produksi ruang yang beragam serta strategi fleksibilitas&#13;
untuk menjadikan ruang-ruang terus beradaptasi pada perubahan aktivitas, pengguna, dan&#13;
waktu.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Dominasi Warna Arsitektur Masjid Modern di Jawa Berdasarkan Citra Digital</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/63743" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nurdina, Haira Najma</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/63743</id>
<updated>2026-06-25T08:40:25Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dominasi Warna Arsitektur Masjid Modern di Jawa Berdasarkan Citra Digital
Nurdina, Haira Najma
Warna pada bangunan selama ini dipahami sebagai salah satu faktor penunjang&#13;
kenyamanan visual dan termal. Tak terkecuali pemilihan warna pada masjid tradisional&#13;
yang menjadi wujud pertimbangan antara nilai religius dan karakter fisik bangunan&#13;
yang sesuai dengan ketersediaan material serta respon terhadap iklim lokal. Namun&#13;
seiring dengan perkembangan teknologi, terjadi perubahan pada cara warna&#13;
dibubuhkan pada masjid. Dengan pertimbangan banyaknya variasi tipe masjid di Pulau&#13;
Jawa, kajian mengenai perubahan pola penggunaan warna pada masjid dilaksanakan&#13;
pada wilayah ini. Untuk mengetahui gambaran umum karakteristik warna pada masjid&#13;
di Jawa, meta analisis terhadap 32 sampel masjid dilaksanakan menggunakan peranti&#13;
lunak desain grafis dalam bentuk penyusunan palet warna dominan. Analisis korelasi&#13;
pemilihan warna pada masjid terhadap iklim tropis dan perubahan pola warna pada&#13;
masjid di Jawa sebagai hasil dari perkembangan tren dan teknologi diuraikan lebih&#13;
lanjut. Hasil dari kajian bermaksud untuk menjelaskan bagaimana keberadaan warna&#13;
dapat menjadi salah satu bukti visual yang menunjukkan perubahan tradisi fisik pada&#13;
arsitektur masjid di Jawa.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluasi Kesesuaian Elemen Fasad Bangunan Baru terhadap Peraturan Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta (Studi Kasus : Penggal Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo Periode  Pembangunan Tahun 2022)</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/63733" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ciptoleksono, Eka</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/63733</id>
<updated>2026-06-25T06:48:07Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Kesesuaian Elemen Fasad Bangunan Baru terhadap Peraturan Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta (Studi Kasus : Penggal Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo Periode  Pembangunan Tahun 2022)
Ciptoleksono, Eka
Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta merupakan lanskap budaya Warisan Dunia dengan&#13;
nilai historis, filosofis, dan visual yang tinggi. Peningkatan pembangunan bangunan baru&#13;
pada koridor Jalan Margo Utomo, Malioboro, dan Margo Mulyo berpotensi mempengaruhi&#13;
integritas visual kawasan. Meskipun telah terdapat regulasi arsitektur kawasan melalui Perda&#13;
DIY No. 1 Tahun 2017 dan Pergub DIY No. 48 Tahun 2023, implementasinya belum&#13;
didukung oleh instrumen evaluasi yang operasional dan terukur. Penelitian ini bertujuan&#13;
mengevaluasi tingkat kesesuaian elemen fasad bangunan baru terhadap ketentuan regulasi&#13;
arsitektur kawasan sebagai instrumen operasional pelestarian visual. Pendekatan mixed&#13;
methods tipe explanatory sequential (kuantitatif→kualitatif) digunakan melalui observasi&#13;
lapangan, dokumentasi visual, studi regulasi, serta analisis kuantitatif dengan sistem skoring&#13;
ordinal (0–4) berbobot. Elemen yang dianalisis meliputi sosok bangunan, atap, badan,&#13;
bukaan, kaki, material, dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian&#13;
fasad bervariasi sebagai akibat dominasi adaptasi massa tanpa konsistensi bukaan dan detail.&#13;
Sosok bangunan dan bentuk atap merupakan faktor paling dominan, sementara&#13;
ketidaksesuaian paling sering terjadi pada ritme bukaan dan detail arsitektur kontemporer.&#13;
Penelitian ini berkontribusi dengan mengembangkan model evaluasi fasad berbasis regulasi&#13;
yang operasional dan terukur, sebagai instrumen untuk mendukung pengendalian desain dan&#13;
menjaga integritas visual kawasan heritage
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Penerapan Teori Design for Adaptability untuk Mengkaji Adaptasi pada Bangunan Prefabrikasi : Studi Komparasi Tiga Bangunan Prefabrikasi Colombo Plan tahun 1957  di Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/63281" rel="alternate"/>
<author>
<name>Mubarrak, Ar. Muhamad Irfan Zaky</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/63281</id>
<updated>2026-06-08T02:49:14Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Penerapan Teori Design for Adaptability untuk Mengkaji Adaptasi pada Bangunan Prefabrikasi : Studi Komparasi Tiga Bangunan Prefabrikasi Colombo Plan tahun 1957  di Yogyakarta
Mubarrak, Ar. Muhamad Irfan Zaky
Penelitian ini mengkaji prinsip industrialisasi dalam arsitektur, khususnya&#13;
penggunaan komponen prefabrikasi yang meningkatkan fleksibilitas dan&#13;
mengurangi limbah. Prefabrikasi memungkinkan bangunan untuk dibongkar,&#13;
dipindahkan, dan diperbesar, menjadikannya pendekatan yang lebih&#13;
berkelanjutan. Di negara maju, adaptasi bangunan eksisting penting untuk&#13;
mengatasi perubahan iklim, kenaikan harga material, dan masalah rantai&#13;
pasokan. Adaptasi bangunan sama halnya dengan prefabrikasi terbukti lebih&#13;
hemat biaya dan berkelanjutan. Proses itu juga dapat menjadi solusi untuk&#13;
mengurai permasalahan ekonomi, lingkungan, dan sosial terhadap bangunan.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode Design for Adaptability (DfA) oleh&#13;
Schimdt (2016) untuk mengidentifikasi, implementasi dan komparasi&#13;
perubahan pada bangunan prefabrikasi di Yogyakarta, yang didirikan pada era&#13;
pasca kolonialisme yang material penyusunnya berasal dari Inggris melalui&#13;
Colombo Plan 1950-an. Studi kasus melibatkan bangunan Asrama&#13;
Darmaputera Baciro, Jogja Nasional Museum, SMA Negeri 1 Yogyakarta.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan Exploratory Sequential Design (ESD)&#13;
dengan mixed method, menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif&#13;
secara berurutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas adaptasi&#13;
karakteristik bangunan sesuai dengan teori Schmidt, terbukti dari&#13;
implementasi adaptasi pada objek penelitian (P1). Strategi desain yang&#13;
relevan terhadap tipe adaptasi yang digunakan pada objek penelitian dinilai&#13;
tinggi (P2). Skenario dan taktik desain yang ditemukan memberikan solusi&#13;
praktis yang dapat diterapkan pada bangunan lain (P3). Komprasi studi kasus&#13;
membuktikan bawah keragaman fungsi pada kesamaan tipe bangunan tetap&#13;
dapat diadaptasi dan menghasilkan usulan adaptasi (P4). Penelitian ini&#13;
mendukung teori Schmidt tentang pentingnya desain bangunan yang&#13;
dirancang untuk dapat diadaptasi sejak awal. Penerapan teknologi&#13;
prefabrikasi dalam adaptasi bangunan tua menunjukkan manfaat ekonomi,&#13;
lingkungan, dan sosial yang signifikan. Studi kasus di Yogyakarta&#13;
menunjukkan bahwa bangunan prefabrikasi kolonial dapat diadaptasi secara&#13;
efektif untuk fungsi modern, mempertahankan nilai sosial, dan menciptakan&#13;
ruang relevan melalui inovasi teknologi dan kolaborasi pemangku&#13;
kepentingan, mendukung pembangunan berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
