<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Master of Architecture</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/23602" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/23602</id>
<updated>2026-05-14T23:46:50Z</updated>
<dc:date>2026-05-14T23:46:50Z</dc:date>
<entry>
<title>Elemen Pembentuk Ruang Sholat Masjid Gedhe Mataram  Kotagede Dan Masjid Margoyuwono</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/60293" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aristawati, Yolandita</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/60293</id>
<updated>2026-02-05T06:23:11Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Elemen Pembentuk Ruang Sholat Masjid Gedhe Mataram  Kotagede Dan Masjid Margoyuwono
Aristawati, Yolandita
Masjid sebagai karya budaya hidup di Yogyakarta mencerminkan dinamika sosial, budaya,&#13;
dan historis masyarakat dari abad ke-16 hingga ke-21, dengan akulturasi antara tradisi Jawa,&#13;
Hindu-Budha, dan Islam. Penelitian ini fokus pada dua masjid tradisional: Masjid Gedhe&#13;
Mataram Kotagede (dibangun oleh Panembahan Senopati pada 1578-1587 M), yang&#13;
mewakili inisiatif kerajaan pra-kolonial dengan elemen simbolik kosmologi Jawa seperti&#13;
atap tajug bertingkat dan gapura paduraksa, serta Masjid Margoyuwono (didirikan akhir&#13;
abad ke-19 oleh Prawiroyuwono, diresmikan 1943), yang mencerminkan inisiatif pedagang&#13;
batik pada masa kolonial akhir dengan pengaruh Eropa dan Timur Tengah. Kedua masjid ini&#13;
tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial dan simbol&#13;
identitas budaya, di mana ruang sholat utama menjadi elemen kunci yang mendukung&#13;
kenyamanan, konsentrasi, dan interaksi masyarakat. Perbandingan keduanya penting untuk&#13;
memahami evolusi arsitektur masjid Jawa dalam konteks akulturasi dan adaptasi terhadap&#13;
perubahan zaman.&#13;
Rumusan masalah penelitian mencakup: (a) Apa saja elemen pembentuk ruang sholat pada&#13;
kedua masjid? (b) Bagaimana persamaan dan perbedaan elemen tersebut? (c) Bagaimana&#13;
pengaruh budaya lokal dan asing terhadap elemen-elemen itu? (d) Apa saja perubahan yang&#13;
terjadi sepanjang sejarah? Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi elemen, menganalisis&#13;
perbandingan, pengaruh budaya, dan transformasi historis untuk berkontribusi pada&#13;
pelestarian arsitektur masjid berbasis nilai lokal.&#13;
&#13;
Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif historis dan deskriptif-&#13;
komparatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur (jurnal, arsip historis, dan&#13;
&#13;
referensi arsitektur Islam Jawa), observasi lapangan (pengukuran, foto, sketsa denah ruang&#13;
sholat), dan dokumentasi visual. Analisis data bersifat deskriptif untuk menggambarkan&#13;
elemen (material, ornamen, ukuran, struktur) dan komparatif untuk membandingkan&#13;
persamaan-perbedaan serta konteks budaya-historis. Validitas dijaga melalui triangulasi&#13;
data, observasi naturalistik, dan perbandingan sumber. Lokasi penelitian di Kotagede dan&#13;
Jeron Beteng Yogyakarta, dengan jadwal pelaksanaan mencakup persiapan, pengumpulan&#13;
data, analisis, hingga penyusunan laporan. &#13;
Temuan utama menunjukkan elemen ruang sholat Masjid Gedhe Mataram Kotagede&#13;
&#13;
meliputi lantai marmer, tiang saka guru kayu jati, dinding bata tebal, bukaan kecil, langit-&#13;
langit tajug, dan mihrab melengkung dengan motif sulur. Masjid Margoyuwono memiliki&#13;
&#13;
lantai teraso, tanpa tiang utama, dinding tipis dengan ubin, bukaan besar bergaya Eropa,&#13;
langit-langit eternit, dan mihrab dengan kaligrafi. Persamaan terletak pada tipe denah yang&#13;
sama, orientasi kiblat, bentuk mihrab yang melengkung dan menjorok 1,5 m, penggunaan&#13;
material lokal seperti kayu dan bata, serta fungsi serambi sebagai transisi sosial-spiritual,&#13;
&#13;
sementara perbedaan signifikan meliputi material lantai, keberadaan tiang, struktur langit-&#13;
langit, ketebalan dinding, ornamen, dan bukaan yang memengaruhi pencahayaan dan&#13;
&#13;
penghawaan alami. Pengaruh budaya lokal Jawa terlihat pada simbolisme kosmologi,&#13;
sementara budaya asing muncul dari kolonial (eternit) dan Islam Ortodoks (kaligrafi).&#13;
Perubahan historis meliputi renovasi pasca-gempa di Kotagede dan adaptasi fungsional di&#13;
Margoyuwono.&#13;
Kesimpulan penelitian menekankan bahwa elemen ruang sholat kedua masjid&#13;
mencerminkan evolusi akulturasi Jawa-Islam, dengan Kotagede sebagai fondasi tradisional&#13;
kerajaan dan Margoyuwono sebagai adaptasi modern pasca-kolonial. Temuan ini&#13;
berkontribusi pada kajian arsitektur Islam tradisional, sejarah budaya Yogyakarta, dan&#13;
pelestarian masjid bersejarah. Saran mencakup rekomendasi desain masjid masa depan yang&#13;
mengintegrasikan nilai lokal dengan adaptasi modern, serta penelitian lanjutan untuk&#13;
memperluas dan memperdalam objek studi.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Tipologi Rumah Joglo Banyumasan Dan Performanya Pada Kawasan Pesisir Selatan Jawa Tengah</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/59775" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pambudi, Agil Satrio</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/59775</id>
<updated>2026-01-26T07:37:39Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tipologi Rumah Joglo Banyumasan Dan Performanya Pada Kawasan Pesisir Selatan Jawa Tengah
Pambudi, Agil Satrio
Pada proses perwujudan fisik rumah tradisional, iklim menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi wujud rumah tradisional. Perwujudan rumah tradisional di Indonesia tepatnya di rumah tradisional Jawa memiliki tipe atap yang tinggi serta penggunaan selubung bangunan yang ringan dari kayu, dan bukaan lebar yang bertujuan untuk merespons iklim tersebut. Budaya Banyumasan merupakan budaya yang lahir dari kalangan yang berkembang pada zona mancanegara. Hal tersebut menunjukkan unsur lokalitas yang besar didalam lingkup zona keraton, karakter yang kental dari Budaya Banyumasan ini ialah Cablaka atau Blakasuta suatu gaya bicara yang cenderung Ceplas Ceplos. Di dalam bidang arsitektur Banyumasan tidak memiliki kekhususan pada gaya arsitekturnya, gaya arsitektur yang masih mengadopsi dari keraton Jogja dan Surakarta. Gaya arsitektur yang tersebar dengan mengadopsi dari wilayah nagara atau keraton di wilayah pesisir selatan tersebut ialah Srotongan, Trojogan dan Joglo (Joglo). Banyaknya varian bentuk atap Joglo dan perbedaan penggunaan material yang ada di setiap wilayah, menjadikan pentingnya mengetahui bagaimana Tipologi rumah Joglo Banyumasan yang tersebar pada Kawasan pesisir selatan dalam performa suhu ruang khususnya Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Kebumen. Metode pada penelitian ini menggunakan metode campuran sekuensial eksploratory, dengan memulai analisis data kualitatif dan dilanjutkan kuantitatif. Tujuannya pada pengumpulan data kualitatif bertujuan untuk mengeksplorasi penemuan Tipologi rumah Joglo Banyumasan yang tersebar pada Kawasan pesisir Jawa tengah. Tahap pertama ini dilakukan pada objek alamiah atau objek yang berkembang apa adanya pada wilayah Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Kebumen. Hasilnya Tipologi yang ditemukan 8 Tipologi Joglo Banyumasan. Pada 8 Tipologi Joglo Banyumasan hasil simulasi menunjukkan hasil perolehan suhu ruang yang baik diatas 50% dalam 1 tahun. Tren perolehan hasil simulasi hanya memiliki sedikit perbedaan yang dipengaruhi perbedaan penggunaan material nya. Hasil simulasi paling baik didapatkan pada Tipologi Joglo Lawakan Kombinasi dinding bata dengan perolehan suhu simulasi SAFE (nyaman) 61,6% dalam 1 tahun. Hasil tersebut menunjukkan beberapa faktor yang mempengaruhi pada hasil performa suhu simulasi pada setiap Tipologi yaitu Bentuk, dan penggunaan material nya walaupun menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan namun menunjukkan perbedaan perolehan suhu pada hasil simulasi.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Perencanaan Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul Pada Kawasan Publik dan Kawasan Permukiman Berbasis Community Empowerment (Studi Komparatif: Konsep Persepsi Risiko dan Konsep Partisipatif)</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/59215" rel="alternate"/>
<author>
<name>Septiansyah, Adeka</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/59215</id>
<updated>2025-12-20T07:27:49Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perencanaan Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul Pada Kawasan Publik dan Kawasan Permukiman Berbasis Community Empowerment (Studi Komparatif: Konsep Persepsi Risiko dan Konsep Partisipatif)
Septiansyah, Adeka
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara dua pendekatan community&#13;
empowerment, yaitu konsep partisipatif (Abraham et al., 2015) dan konsep persepsi risiko&#13;
(Grumbly et al., 2019), dalam perencanaan jalur evakuasi dan titik kumpul pada dua karakter&#13;
kawasan, yaitu kawasan publik dan kawasan permukiman, yang sama-sama berada di wilayah&#13;
rawan gempa bumi, rawan kebakaran dan kawasan padat di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu.&#13;
Tahapan penelitian diawali dengan Systematic Literature Review (SLR) untuk menentukan&#13;
konsep terpilih, yang kemudian diterapkan pada dua karakter kawasan dalam bentuk redesign&#13;
kawasan. Selanjutnya, hasil redesign dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS&#13;
for Windows. Hasil uji Independent T-Test Mann-Whitney menunjukkan bahwa pada kawasan&#13;
publik, konsep partisipatif lebih unggul dengan nilai mean rank 60,58 dibandingkan konsep&#13;
persepsi risiko sebesar 40,42. Sementara pada kawasan permukiman, konsep persepsi risiko&#13;
unggul tipis dengan nilai mean rank 51,09 dibandingkan konsep partisipatif sebesar 49,91.&#13;
Secara keseluruhan, konsep partisipatif memiliki keunggulan lebih tinggi, dibuktikan dengan&#13;
nilai mean rank total sebesar 110,49/200, sedangkan konsep persepsi risiko sebesar 89,51/200.&#13;
Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep partisipatif lebih tepat&#13;
diterapkan pada kawasan publik karena mampu mengatasi keterbatasan risiko bencana dengan&#13;
memprioritaskan kondisi jalan, daya dukung lahan jalan, dan lalu lintas, sehingga&#13;
meningkatkan mobilitas, aksesibilitas, dan produktivitas evakuasi, serta lebih efisien dari segi&#13;
Rencana Anggaran Biaya (RAB). Sementara itu, konsep persepsi risiko lebih sesuai untuk&#13;
kawasan permukiman, karena selaras dengan karakteristik masyarakat menetap yang&#13;
memerlukan respons personal, serta mengutamakan kesadaran, kesiapsiagaan, dan keamanan&#13;
saat bencana, dengan efisiensi RAB yang relatif lebih baik pada konteks tersebut.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Komparasi Keberlanjutan Berdasarkan Arsitektur Ekologis pada Rumah Desa Wisata Lingkungan Komparasi Keberlanjutan Berdasarkan Penilaian Logik dan Penilaian Emik (Studi Kasus: Desa Wisata Lingkungan Sukunan)</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/57404" rel="alternate"/>
<author>
<name>Asmanto, Pridita Sekarayu Putri</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/57404</id>
<updated>2025-08-13T04:20:29Z</updated>
<published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Komparasi Keberlanjutan Berdasarkan Arsitektur Ekologis pada Rumah Desa Wisata Lingkungan Komparasi Keberlanjutan Berdasarkan Penilaian Logik dan Penilaian Emik (Studi Kasus: Desa Wisata Lingkungan Sukunan)
Asmanto, Pridita Sekarayu Putri
Isu atau fenomena keberlanjutan sudah semakin banyak terdengar di berbagai belahan&#13;
dunia yaitu mulai dari permasalahan sosial, lingkungan, dan ekonomi. Maka dari itu, muncul&#13;
sebuah konsep yang dapat memecahkan masalah keberlanjutan yaitu konsep pembangunan&#13;
berkelanjutan. Dengan itu pula di dalam arsitektur terdapat konsep yang menjadi solusi dalam&#13;
mengatasi permasalahan keberlanjutan yaitu konsep arsitektur berkelanjutan. Dalam konsep&#13;
arsitektur berkelanjutan terdapat pula konsep arsitektur ekologis yang memiliki tujuan yang sejalan&#13;
dalam menangani permasalahan keberlanjutan. Permasalahan keberlanjutan ini banyak terjadi di&#13;
desa-desa, sehingga terdapat desa yang dinamakan sebagai desa wisata lingkungan karena di&#13;
dalamnya berkontribusi untuk menangani isu lingkungan. Salah satu desa yang resmi dinobatkan&#13;
sebagai desa wisata lingkungan yaitu desa wisata sukunan yang terletak di Kabupaten Sleman,&#13;
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.&#13;
Penelitian tesis ini bertujuan untuk menemukan atau membentuk parameter-parameter&#13;
keberlanjutan yang baru untuk mengukur keberlanjutan desa wisata lingkungan, kemudian juga&#13;
bertujuan untuk membuktikan seberapa tinggi nilai keberlanjutan rumah desa wisata lingkungan&#13;
sukunan, serta membandingkan nilai keberlanjutan antara penilaian logik (objektif) dan penilaian&#13;
emik (subjektif) pada rumah desa wisata lingkungan sukunan. Metode penelitian ini adalah&#13;
kuantitatif yaitu pada penilaian logik dilakukan dengan cara uji di lapangan yang sesuai dengan&#13;
indikator tolok ukur yang telah diolah, dan penilaian emik dilakukan dengan membagikan&#13;
kuesioner untuk mendapatkan hasil persepsi penghuni dan persepsi pengunjung. Hasil pada&#13;
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapatnya perbedaan yang signifikan antara penilaian logik&#13;
(objektif) dan penilaian emik (subjektif), sehingga berdasarkan penilaian logik bahwa nilai&#13;
keberlanjutan rumah desa wisata lingkungan sukunan memiliki nilai yang rendah, sehingga dapat&#13;
dikategorikan bahwa rumah desa wisata lingkungan sukunan belum dapat disebut sebagai rumah&#13;
yang berkelanjutan, dan desa wisata lingkungan sukunan belum layak diklaim sebagai desa wisata&#13;
lingkungan.
</summary>
<dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
