<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Master of Economic and Finance</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/12089" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/12089</id>
<updated>2026-09-29T02:53:44Z</updated>
<dc:date>2026-09-29T02:53:44Z</dc:date>
<entry>
<title>Evaluasi Dampak Program Sembako terhadap Pencegahan Stunting melalui Peningkatan Konsumsi Gizi di Daerah Istimewa Yogyakarta: Pendekatan Propensity Score Matching</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/66815" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wibowo, Dadang</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/66815</id>
<updated>2026-09-07T07:30:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluasi Dampak Program Sembako terhadap Pencegahan Stunting melalui Peningkatan Konsumsi Gizi di Daerah Istimewa Yogyakarta: Pendekatan Propensity Score Matching
Wibowo, Dadang
Kemiskinan dan ketimpangan merupakan permasalahan utama di DIY sebagaimana&#13;
tercantum dalam RPJMD 2022–2027, yang berkontribusi terhadap tingginya risiko&#13;
stunting, khususnya di kawasan selatan sebagai wilayah prioritas pembangunan&#13;
daerah. Bantuan program sembako sebagai kebijakan pemerintah pusat diarahkan&#13;
untuk mendukung pencegahan stunting melalui peningkatan konsumsi gizi pada&#13;
masyarakat miskin, dengan pemerintah daerah berperan strategis dalam&#13;
memastikan efektivitas implementasinya. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
mengevaluasi dampak program sembako terhadap peningkatan konsumsi gizi&#13;
sebagai proksi pencegahan stunting dengan menggunakan data SUSENAS 2024&#13;
dan pendekatan propensity score matching (PSM). Hasil analisis menunjukkan&#13;
bahwa secara agregat di DIY program sembako berpengaruh positif dan signifikan&#13;
terhadap peningkatan konsumsi protein dan karbohidrat, serta secara signifikan&#13;
meningkatkan konsumsi kalori, protein, dan karbohidrat di kawasan selatan.&#13;
Sebaliknya, di kawasan utara DIY, program ini tidak menunjukkan pengaruh yang&#13;
signifikan terhadap konsumsi kalori, protein, lemak, maupun karbohidrat.&#13;
Meskipun demikian, tingkat konsumsi gizi yang dicapai masih berada di bawah&#13;
standar angka kecukupan gizi yang ditetapkan pemerintah. Temuan ini&#13;
mengindikasikan bahwa efektivitas program sembako dalam mendukung&#13;
pencegahan stunting masih memerlukan penguatan, khususnya dalam aspek&#13;
implementasi dan pemerataan dampak antar wilayah.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Tingkat Kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/65630" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fajarningsih, Wiwik Nur Widyastuti</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/65630</id>
<updated>2026-08-05T07:30:55Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Tingkat Kemiskinan di Daerah Istimewa Yogyakarta
Fajarningsih, Wiwik Nur Widyastuti
Kemiskinan menjadi permasalahan yang rumit di Daerah Istimewa Yogyakarta&#13;
(DIY), meskipun sektor pariwisata terus bergerak sebagai salah satu pendorong&#13;
pembangunan ekonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis&#13;
pengaruh langsung dan tidak langsung sektor pariwisata yang diukur melalui&#13;
jumlah kunjungan wisata, tingkat hunian kamar hotel, dan jumlah wisatawan yang&#13;
menggunakan jasa akomodasi terhadap tingkat kemiskinan di DIY, dengan&#13;
pertumbuhan ekonomi (PDRB) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai&#13;
variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Partial Least&#13;
Squares – Structural Equation Modeling (PLS – SEM). Data yang digunakan&#13;
merupakan data sekunder periode tahun 2010 hingga 2024. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya variabel jumlah wisatawan yang&#13;
menggunakan jasa akomodasi yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap&#13;
PDRB dan PAD sub sektor pariwisata. Sementara itu, variabel jumlah kunjungan&#13;
wisata dan tingkat hunian kamar hotel tidak menunjukkan pengaruh signifikan&#13;
terhadap PDRB maupun PAD. Lebih lanjut, temuan penelitian menunjukkan&#13;
bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung (dimediasi oleh PDRB dan&#13;
PAD), variabel sektor pariwisata yang diteliti tidak berpengaruh signifikan&#13;
terhadap penurunan tingkat kemiskinan di DIY selama periode 2010 hingga 2024. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan sektor pariwisata belum secara&#13;
otomatis berkontribusi langsung pada penurunan kemiskinan di DIY. Berdasarkan&#13;
hasil tersebut, pemerintah daerah diharapkan mampu mengevaluasi ulang&#13;
pembangunan pariwisata untuk lebih inklusif dan memberikan dampak ekonomi&#13;
yang lebih nyata bagi masyarakat miskin.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Peranan Sektor Ekonomi, Sumber Daya Manusia dan Kesehatan Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Daerah Istimewa Yogyakarta</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/65584" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zahroh, Siti Fathimatuz</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/65584</id>
<updated>2026-08-04T08:22:06Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Peranan Sektor Ekonomi, Sumber Daya Manusia dan Kesehatan Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Daerah Istimewa Yogyakarta
Zahroh, Siti Fathimatuz
This study examines the roles of economic growth, human development, and health factors in&#13;
explaining regional poverty. Using a quantitative approach with panel data from five local&#13;
governments during 2015–2023, the study applies panel regression analysis and selects the&#13;
Fixed Effect Model as the most appropriate estimator. Poverty is measured by the percentage&#13;
of population living below the poverty line, while explanatory variables include economic&#13;
growth, the Human Development Index, income inequality, population with health complaints,&#13;
and access to proper sanitation. The results indicate that economic growth does not significantly&#13;
reduce poverty, suggesting that growth alone is insufficient to improve welfare distribution. In&#13;
contrast, human development has a significant negative effect on poverty, confirming the&#13;
importance of education, health, and living standards. Income inequality is positively associated&#13;
with poverty, while health complaints and sanitation show no direct significant effects. These&#13;
findings imply that poverty reduction requires inclusive development strategies combining&#13;
growth, human capital investment, and equitable income distribution.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Solusi Rendahnya Penghimpunan Wakaf Uang di D.I.Y Pendekatan Analytic Network Process</title>
<link href="http://hdl.handle.net/123456789/65459" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wafi, Abd</name>
</author>
<id>http://hdl.handle.net/123456789/65459</id>
<updated>2026-08-03T04:30:25Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Solusi Rendahnya Penghimpunan Wakaf Uang di D.I.Y Pendekatan Analytic Network Process
Wafi, Abd
Penghimpunan wakaf uang di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam&#13;
beberapa tahun terakhir, namun realisasinya masih jauh di bawah potensi nasional&#13;
yang diperkirakan mencapai Rp180 triliun per tahun. Kondisi ini menunjukkan&#13;
adanya berbagai hambatan yang bersifat multidimensional dan saling terkait,&#13;
meliputi aspek tata kelola nazir, persepsi masyarakat, regulasi, serta faktor&#13;
pendukung lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan&#13;
menentukan prioritas permasalahan, solusi, dan strategi dalam meningkatkan&#13;
penghimpunan wakaf uang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian&#13;
menggunakan pendekatan mixed-method dengan metode Analytic Network&#13;
Process (ANP). Data diperoleh melalui studi literatur, wawancara mendalam, dan&#13;
kuesioner perbandingan berpasangan yang melibatkan lima orang pakar yang terdiri&#13;
atas regulator, nazir, wakif, akademisi, dan lembaga keuangan syariah penerima&#13;
wakaf uang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klaster persepsi masyarakat&#13;
merupakan permasalahan yang paling prioritas dibandingkan tata kelola nazir,&#13;
ekosistem pendukung, dan regulasi. Rendahnya pemahaman, kepercayaan, dan&#13;
preferensi masyarakat terhadap wakaf uang menjadi hambatan utama dalam&#13;
penghimpunan. Namun demikian, persepsi masyarakat dipengaruhi oleh kualitas&#13;
tata kelola nazir, kapasitas sumber daya manusia, kolaborasi antar pemangku&#13;
kepentingan, serta implementasi regulasi yang belum optimal. Dari sisi solusi,&#13;
peningkatan literasi wakaf menjadi prioritas utama yang perlu didukung oleh&#13;
penguatan tata kelola, regulasi, dan ekosistem pendukung. Sementara itu, strategi&#13;
yang paling diprioritaskan adalah penguatan kelembagaan dan pembentukan word&#13;
of mouth untuk membangun kepercayaan masyarakat, yang didukung oleh&#13;
pemasaran digital dan strategi jemput bola. Penelitian ini menyimpulkan bahwa&#13;
peningkatan penghimpunan wakaf uang memerlukan pendekatan sistemik melalui&#13;
integrasi literasi, tata kelola, regulasi, dan penguatan ekosistem guna membangun&#13;
kepercayaan publik dan mendorong partisipasi wakif secara berkelanjutan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
